Indeks sektoral saham mayoritas menguat dengan kenaikan dipimpin indeks aneka industri yang naik 3,39% ke level 931,96; indeks konsumer naik 3,33% ke level 1.013,67; indeks properti naik 2,87% ke level 182,05; indeks manufaktur naik 2,80% di level 774,15; indeks keuangan naik 2,62% ke level 440,25; indeks perdagangan naik 1,51% ke level 490,11; indeks industri dasar naik 1,44% ke level 362,70; indeks perkebunan naik 1,43% ke level 2.009,55; indeks pertambangan naik 1,40% ke level 3.139,58; dan indeks infrastruktur naik 0,12% ke level 759,92. Indeks MBX dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 554,67 juta dengan total pembelian asing Rp 2,62 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,06 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.300 ke Rp 35.750, Astra International (ASII) naik Rp 2.000 ke Rp 53.000, Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik 850 ke level 47.200, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik 600 ke level 15.650, Unilever Indonesia (UNVR) naik 550 ke Rp 15.500, PP London Sumatera Indonesia (LSIP) naik Rp 400 ke Rp 10.950, Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 350 ke Rp 5.900, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 300 ke Rp 22.050, dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 300 ke Rp 19.650.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
nett buy namun, investor domestik justru mencatatkan nett sales.
Bursa saham Asia Pasifik mayoritas menguat kecuali China, Australia, Pakistan, Filipina, dan India. Penguatan ini salah satunya dipicu oleh Taiwan yang mengumumkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dari estimasi. PDB Taiwan naik 6,92% pada Q4-10, lebih dari perkiraan awal bulan lalu di 6,48%. Kenaikan ini juga memicu penguatan saham-saham berbasis teknologi dan elektronik. Selain itu, dipicu oleh pengaruh pemulihan ekonomi AS dan membaiknya pendapatan perusahaan di samping masih bertahannya kebijakan pelonggaran moneter atau dikenal dengan quantitative easing (QE) yang saat ini merupakan yang kedua. Kondisi bullish masih menemani investor saat-saat ini mengesampingkan kondisi geopolitik di Timur Tengah. Dari 465 perusahaan dalam indeks MSCI Asia Pacific yang telah melaporkan kinerja sejak 1 Januari untuk kuartal terbaru, 181 di atas estimasi, sedangkan 144 meleset. Kinerja keuangan yang dirilis setidaknya membuat valuasi menjadi sangat menarik sehingga menawarkan investor untuk kembali membeli.
Saham Eropa bergerak mixed dengan pelemahan pada Inggris, Spanyol, Itali, dan Portugal. Adapun kenaikan bursa saham Eropa dipicu kenaikan harga minyak Brent karena kekhawatiran gangguan pasokan dan kenaikan saham Lafarge karena permintaan yang kuat untuk semen tahun ini akibat pertumbuhan ekonomi yang cepat di negara berkembang. Indeks saham diperkirakan akan menguat lebih tinggi, tapi belum tahu sampai ke level berapa karena masih ada kekhawatiran di Timur Tengah. Harga minyak Brent lebih tinggi akibat ketegangan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Bursa saham AS masih melanjutkan penguatannya di akhir pekan dipicu laporan pendapatan emiten yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sehingga mampu melawan sentimen negatif dari upaya China untuk mengendalikan inflasi dengan rencana pengetatan moneter melalui rencana dinaikannya kembali GWM perbankan. People's Bank of China melalui situsnya mengatakan, rasio cadangan akan naik 0,5% mulai 24 Februari. Nah, adanya rilis pendapatan emiten berhasil menghalau sentimen negatif tersebut. Terhitung sejak 10/1/11, sudah 72% dari 395 perusahaan di S&P 500 yang merilis EPS melebihi perkiraan pasar. Investor mulai bangkit dan menyadari kondisi mulai stabil yang terlihat dari kemampuan emiten mendapatkan pendapatan di atas estimasi meskipun masih dalam suasana pemulihan ekonomi, sehingga membuat para investor mulai menempatkan dana di pasar saham. Sebagian lagi, optimis ekonomi China akan normal dengan persepsi negara ini terus bergerak perlahan sehingga bisa membatasi pertumbuhan yang naik terlalu cepat dan kembali ke tingkat yang wajar.
Pada perdagangan Senin (21/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.408-3.455 dan resistance 3.528-3.554. Kenaikan yang cukup besar pada akhir pekan lalu membawa optimisme penguatan selanjutnya di bursa saham. Bentuk candle seperti yang terjadi di akhir pekan kemarin hampir sama seperti pada (25/1/11) dimana setelah itu masih bergerak naik; dan pada (21/12/10) dimana setelah itu turun tipis. Diharapkan pasar tidak buru- buru melakukan profit taking karena sentimen positif masih menyelimuti bursa dan secara teknikal juga masih terdapat ruang penguatan. MACD masih bergerak naik dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba mendekati dan menembus area overbought . Kenaikan di akhir pekan kemarin tidak dapat dinilai sudah terlalu tinggi karena level yang dicapai masih di bawah level tertinggi di awal Desember 2010 (3.788,57) dan level tertinggi di awal Januari 2011 (3.789,47) sehingga diharapkan penguatan masih bisa berlanjut.
(qom/qom)











































