Indosurya Securities: IHSG Kehilangan Daya Dorong

Indosurya Securities: IHSG Kehilangan Daya Dorong

- detikFinance
Rabu, 23 Feb 2011 07:58 WIB
Jakarta - IHSG masih melanjutkan pelemahannya dengan penurunan sebanyak 46,54 poin (1,33%) di level 3.451,10. Total volume perdagangan BEI mencapai 2,37 triliun unit saham dengan nilai total Rp 3,43 triliun. Sebanyak 48 saham naik, 181 saham turun, dan 64 saham stagnan. LQ-45 turun 1,58% ke 610,22 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,42% ke 492,91.

Indeks sektoral saham bergerak turun dengan pelemahan dipimpin oleh indeks pertambangan yang turun 2,01% ke level 3.081,48; indeks properti turun 1,83% ke level 178,70; indeks keuangan turun 1,45% ke level 432,91; indeks industri dasar turun 1,44% di level 354,43; indeks manufaktur turun 1,23% ke level 764,09; indeks konsumer turun 1,21% ke level 1.015,79; indeks aneka industri turun 1,12% ke level 910,19; indeks perdagangan turun 1,10% ke level 489,49; indeks infrastruktur turun 1,07% ke level 745,43; dan indeks perkebunan turun 0,60% ke level 2.007,49. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 150,61 juta dengan total pembelian asing Rp 1,42 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,26 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Mandom Indonesia (TCID) naik Rp 350 ke Rp 7.500, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 200 ke Rp 22.250, XL Axiata (EXCL) naik 200 ke level 5.650, Indomobil Sukses Int'l (IMAS) naik 150 ke level 6.700, Modern Internasional (MDRN) naik 125 ke Rp 2.275, Multi Prima Sejahtera (LPIN) naik Rp 100 ke Rp 2.375, Malindo Feedmill (MAIN) naik Rp 75 ke Rp 3.500, Indosat (ISAT) naik Rp 50 ke Rp 5.050, dan AKR Corpindo (AKRA) naik Rp 30 ke Rp 1.480.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG kembali masuk ke teritori negatif setelah pada pembukaan perdagangan kehilangan daya dorongnya untuk naik. Semua indeks sektoral mengalami tekanan jual sehingga tidak ada 1 pun yang menghijau. Volume total transaksi menunjukkan penurunan dibandingkan hari sebelumnya namun, nilai total transaksi menunjukkan kenaikan. Meski bursa saham turun, asing masih bisa mencatatkan nett buy dengan nilai transaksi yang meningkat dari sebelumnya. Tetapi, nilai nett buy ini telah turun 2X lipat dari sebelumnya dikarenakan kenaikan nilai pembelian diikuti dengan kenaikan nilai penjualan dimana naik lebih tinggi dibandingkan kenaikan nilai belinya.
Sementara investor domestik justru kembali mencatatkan nett sell.

Penurunan IHSG seiring dengan penurunan bursa saham Asia Pasifik yang terpengaruh oleh memburuknya situasi di pasar global akibat memanasnya kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. IHSG hanya mampu mencapai level tertinggi di 3.497,36 dan terendah di 3.437,29. Kekhawatiran akan meluasnya konflik penggulingan pemerintahan setempat membuat harga minyak melonjak hingga ke level US$ 95/barel. Bahkan minyak Brent telah naik hingga US$ 105,74/barel. Tentu saja kenaikan ini akan berimbas ke banyak sektor.

Bursa saham Asia Pasifik memerah terpengaruh ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah dan Afrika Utara yang dikhawatirkan dapat menghambat pemulihan global. Selain itu, penurunan terjadi karena rilis Moody's Investors Service yang mengubah prospek peringkat kredit Jepang menjadi negatif dari stabil yang dipicu kekhawatiran bahwa pemerintah tidak cukup mengatasi beban utang negara serta adanya gempa berkekuatan 6,3 richter di New Zealand. Ketidakstabilan politik tersebut berpengaruh pada perusahaan Asia dengan proyek-proyek di Timur Tengah dan Afrika Utara, terutama proyek penambangan minyak. Beberapa perusahaan Asia diantaranya Medco Int'l, Hyundai Engineering & Construction Co, Samsung Engineering Co, Chiyoda Corp, serta Boustead Singapore Ltd tentu mengalami kemerosotan penjualan.

Ketidakstabilan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara tidak saja memerahkan bursa saham Asia Pasifik, bursa saham Eropa pun juga terjerembab ke teritori negatif, kecuali Portugal dan Honggaria, melanjutkan pelemahan sesi sebelumnya akibat meningkatnya kekerasan di Libya sehingga menyebabkan investor beralih dari pasar saham ke investasi yang lebih aman seperti obligasi atau kontrak komoditas. Kenaikan yang terjadi pada beberapa waktu lalu dirasa cukup tajam sepanjang tahun ini, dan peningkatan ketegangan di Timur Tengah telah digunakan sebagai alasan untuk melakukan aksi profit taking. Penurunan bursa saham Eropa salah 1 nya
dipicu penurunan saham-saham perbankan dimana dilanda kekhawatiran meningkatnya inflasi yang berujung pada peningkatan suku bunga acuan. Inggris berencana menaikan suku bunga acuannya untuk meredam inflasi.

Bursa kawasan AS juga terperosok ke zona merah, kecuali Kolumbia, karena antisipasi kisruh di Libya. Pelaku pasar mengantisipasi kisruh ini diprediksi akan berlangsung lama dan berpotensi menyebar ke negara-negara jazirah Arab. Volatilitas pergerakan saham mengalami peningkatan. Penurunan terbesar terjadi pada sektor energi dan sektor ritel dipicu Saham Wal-Mart Stores Inc turun 3,1% setelah retail terbesar ini melaporkan penjualannya turun di AS. Akan tetapi, masih ada harapan dari optimisme pemulihan AS. Laporan data ekonomi mengenai kepercayaan consumer naik pada Februari yang menandakan rasa optimis meningkat terhadap
pemulihan ekonomi dan prospek pendapatan.

Pada perdagangan Rabu (23/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.401-3.426 dan resistance 3.486-3.521. Setelah candle membentuk pola menyerupai bearish harami cross yang mengindikasikan adanya ketidakpastian pergerakan, IHSG membentuk big black candle yang mengindikasikan besarnya kekuatan daya jual dalam menekan harga. Sentimen negatif masih menyelimuti IHSG yang terkena imbas dari penurunan bursa- bursa kawasan regional. Selain itu, IHSG juga minim sentimen positif. Adanya rencana rilis laporan kinerja dari para emiten ditanggapi dingin oleh pelaku pasar. MACD bergerak naik namun, terlihat tertahan untuk melanjutkan penguatannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal menembus area overbought dan mulai berbalik arah. IHSG kehilangan daya dorongnya untuk melanjutkan penguatan namun, aksi beli oleh investor asing menunjukkan masih tingginya minat asing terhadap saham-saham di bursa sehingga diharapkan dapat menahan kejatuhan IHSG lebih dalam.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads