Indosurya: IHSG Menanti Data Inflasi

Indosurya: IHSG Menanti Data Inflasi

- detikFinance
Senin, 28 Feb 2011 07:10 WIB
Jakarta - IHSG berbalik arah dengan kenaikan sebanyak 4,40 poin (0,13%) di level 3.443,53. Total volume perdagangan BEI mencapai 3,97 triliun unit saham dengan nilai total Rp 3,35 triliun. Sebanyak 136 saham naik, 76 saham turun, dan 84 saham stagnan. LQ-45 naik 0,02% ke 607,70 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,05% ke 490,68.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak mixed dengan kenaikan dipimpin oleh indeks perdagangan yang naik 0,64% ke level 494,48; indeks properti naik 0,56% di level 178,80; indeks pertambangan naik 0,41% ke level 3.113,57; indeks aneka industri naik 0,34% ke level 912,63; indeks keuangan naik 0,22% ke level 427,73; dan
indeks perkebunan naik 0,15% ke level 1.963,33. Sementara pelemahan pada indeks industri dasar turun 0,65% ke level 348,66; indeks konsumer turun 0,30% ke level 1.020,04; indeks manufaktur turun 0,20% ke level 762,45; dan indeks infrastruktur turun 0,14% ke level 743,11. Indeks MBX dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 299,42 juta dengan total pembelian asing Rp 1,14 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,44 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 700 ke Rp 12.200, H.M Sampoerna (HMSP) naik Rp 350 ke Rp 25.750, Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) naik 200 ke level 10.600, Astra International (ASII) naik 150 ke level 51.550, United Tractors (UNTR) naik 150 ke Rp 23.050, Bumi Resources (BUMI) naik Rp 150 ke Rp 2.925, Alumindo Light Metal Inds. (ALMI) naik Rp 110 ke Rp 800, Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp 100 ke Rp 7.450, dan Inovisi Infracom (INVS) naik Rp 100 ke Rp 6.400.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG kembali masuk ke zona positif setelah bergerak variatif di tengah penurunan volume dan nilai total transaksi. Bila dibandingkan dengan sebelumnya maka volume dan nilai total transaksi tercatat menurun dengan rata- rata penurunan 10,7%. Pada saat pembukaan, IHSG menguat tipis ke level 3.446,24. Investor merasa rilis kinerja keuangan emiten akan lebih bagus sehingga setidaknya bisa menahan kejatuhan harga saham-saham. Oleh karena optimisme ini, IHSG terus melaju hingga menyentuh level 3.454,88. Tetapi, setelah menyentuh level tersebut, IHSG mulai berkurang daya dorongnya dan terjerembab hingga ke level 3.429,02, yang merupakan level
terendahnya.

Setelah optimisme akan rilis kinerja emiten, investor juga merasa khawatir akan meningkatnya inflasi Februari 2011. Tidak lama kemudian, IHSG reversal dan bergerak menyentuh level 3.454,88, yang merupakan level tertinggi namun, kembali turun hingga akhirnya pada penutupan menapak di posisi 3.443,53. Meskipun IHSG naik seiring dengan kenaikan mayoritas bursa saham Asia Pasifik namun, investor asing mencatatkan nett sell yang nilainya naik tipis dari sebelumnya. Nilai transaksinya pun tercatat mengalami penurunan. Hal yang sama juga terjadi pada investor domestik dimana nilai total transaksinya menurun namun, masih bisa mencatatkan nett buy .

Rupiah menguat seiring dengan tumbuhnya risk aversion investor akibat naiknya harga minyak mentah dunia karena kisruh Libya. Selain itu, Rupiah juga naik dipicu pernyataan Gubernur BI bahwa level penguatan Rupiah ke 8.800/US$ sudah mencerminkan kondisi fundamental ekonomi RI dan naiknya outlook rating dari Fitch menjadi positif, meski rating tetap dipertahankan di level BB+. Kurs Rupiah di pasar spot valas ditutup menguat menjadi 8.838/8.845 per US$ dari posisi sebelumnya 8.868/8.878. Risk aversion berimbas terhadap Yen dan terutama Franc Swiss sehingga Rupiah terbawa arus menguat.

Bursa saham Asia Pasifik mayoritas bergerak menguat kecuali New Zealand, Pakistan, Bangladesh, dan Malaysia seiring dengan penurunan harga minyak disebabkan rumor Muammar Khadafi telah ditembak di Libya. Bursa saham Eropa di akhir pekan ditutup menguat setelah reli selama seminggu, di mana OPEC berjanji akan menambah produksi di tengah kisruh politik yang sedang berlangsung di Libya. Kondisi ketidakstablian ini benar- benar membawa Libya kembali ke risiko geopolitikal dan menjadi perhatian utama dalam pemikiran para investor. Salah satu imbas dari gejolak di Libya yang membawa harga minyak naik tinggi ialah terpuruknya industri transportasi. Selain itu, ditambah turunnya harga saham Induk Airbus EADS setelah kehilangan kontrak senilai US$ 30 miliar atas 179 Air Force AS baru untuk pengisian bahan bakar pesawat dan kalah dari pesaingnya, Boeing.

Bursa saham kawasan AS ditutup menguat kecuali Brazil dan Venezuela seiring dengan menurunnya kekhawatiran terhadap Libya. Peningkatan ini juga dipengaruhi dari kenaikan harga saham Boeing setelah AU AS mengumumkan bahwa Boeing telah mendapat kontrak senilai 30 miliar untuk membangun 179 pesawat tanker pengisian bahan bakar udara. Meski data pertumbuhan ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan namun, risiko utama yang berkaitan dengan gejolak sospol di Timur Tengah dan Afrika Utara sudah tidak terlalu meresahkan investor. Turunnya harga minyak setidaknya membantu untuk kembali fokus ke pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung dan valuasi menarik dari sektor korporasi. Harga minyak mentah, yang sebelumnya naik kini perlahan mulai turun menjadi US$112 di London dan US$97 di New York. Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal akhir 2010 turun menjadi 2,8% dari 3,2% akibat badai salju namun, kepercayaan konsumen Februari dari University of Michigan naik dengan angka tertinggi sejak Januari 2008.

Pada perdagangan Senin (28/2) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.416-3.430 dan resistance 3.456-3.468. Sebelumnya candle terbentuk pola bullish harami dan gagal mengkonfirmasi kenaikan lanjutan, kali ini kembali membentuk pola candle yang serupa. Akankah pola ini valid mengkonfirmasi lanjutan? mengingat selama Februari di akhir pekan selalu menguat dan di awal pekan selalu melemah, kecuali pada minggu ke-3 (14/2/11) ditutup naik menjelang libur Maulid Nabi Muhammad SAW. Kenaikan di akhir pekan kemarin menggenapkan kali ke-4 penguatan di akhir minggu perdagangan. MACD bergerak landai dan terlihat masih tertahan untuk melanjutkan penguatannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic konsolidasi dengan reversal sementara. Ada kecenderungan jelang rilis inflasi, investor wait & see dan mengurangi volume transaksinya. Bila ini terjadi maka wajar bila terjadi sedikit pelemahan. IHSG kemungkinan bisa rebound setelah rilis angka inflasi dan angkanya sesuai dengan ekspektasi pasar. Investor juga cermati pergerakan harga minyak seiring dengan kembali memanasnya konflik Libya dan serangan atas kilang minyak Baiji (52% dari total kapasitas produksi) di Irak pada akhir pekan kemarin.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads