Indeks sektoral saham mayoritas bergerak turun dengan pelemahan dipimpin oleh indeks aneka industri yang turun 2,96% ke level 959,26; indeks perkebunan turun 2,22% ke level 2.014,29; indeks properti turun 1,73% ke level 185,86; indeks keuangan turun 1,63% ke level 453,02; indeks manufaktur turun 1,35% ke level 800,58; indeks perdagangan turun 1,21% di level 496; indeks pertambangan turun 0,79% ke level 3.060,27; indeks infrastruktur turun 0,70% ke level 745,60; indeks konsumer turun 0,63% ke level 1.081,72; dan indeks industri dasar turun 0,58% ke level 360,40. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 275,56 miliar dengan total pembelian asing Rp 836,21 miliar dan total penjualan asing mencapai Rp 1,11 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Fast Food Indonesia (FAST) naik Rp 1.300 ke Rp 10.000, Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 600 ke Rp 13.350, Bayan Resources (BYAN) naik 400 ke level 17.400, Samudera Indonesia (SMDR) naik 275 ke Rp 4.100, XL Axiata (EXCL) naik Rp 150 ke Rp 5.800, Indo Rama Synthetics (INDR) naik Rp 110 ke Rp 1.790, Unilever Indonesia (UNVR) naik 100 ke Rp 16.800; Lippo General Insurance (LPGI) naik Rp 80 ke Rp 1.390; dan Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 50 ke Rp 5.050.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara tidak terduga, terjadi bencana alam di Jepang dan langsung berimbas pada pelemahan regional, termasuk Indonesia. Di akhir sesi, IHSG sempat menguat dan berakhir di level 3.542,23. Padahal volume dan nilai total transaksi mengalami kenaikan. Investor domestik pun mencatatkan nett buy . Berkurangnya nilai transaksi beli asing menyebabkan asing mencatatkan nett sell.
Bursa saham Asia Pasifik mayoritas melemah kecuali Vietnam dan Bangladesh. Selain karena terpengaruh kondisi geopolitik di Timur Tengah, rilis ekonomi di AS dan Eropa, serta defisit China, pelemahan bursa Asia Pasifik juga terpengaruh bencana alam di Jepang. Nilai tukar Yen langsung anjlok atas US$ setelah bencana alam terjadi. Indeks Nikkei-225 sebelumnya melemah di tengah jalannya sidang terhadap PM Naoto Khan yang ternyata menerima dana kampanye dari pihak asing. Pelemahan
makin parah setelah gempa terjadi. Hal ini menimbulkan ketidakpastian pemulihan ekonomi di Jepang. Apalagi sebelumnya dilaporkan ekonominya melambat. Yield obligasi berjangka Jepang naik drastis sebagai respon terjadinya bencana alam. Sementara KOSPI dan Shanghai melemah atas tekanan inflasi keduanya. Inflasi di Korsel naik ke 4,5 % pada Februari, tertinggi sejak 27 bulan terakhir. Inflasi China naik menjadi 4,9%.
Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali Yunani. Pelemahan ini merupakan lanjutan pelemahan sebelumnya karena diturunkannya peringkat Yunani dan Spanyol serta tingginya inflasi di Eurozone yang pada akhirnya membuat ECB berpikir untuk meningkatkan suku bunga acuannya. Pelemahan ini makin mendalam setelah jatuhnya saham asuransi setelah gempa bumi berkekuatan 8,9 SR di Jepang yang memicu tsunami setinggi 10 meter. Saham Swiss Reasuransi Co dan Munich Re sebagai perusahaan reasuransi terbesar di dunia mengalami penurunan dan berimbas pada harga saham-saham asuransi lainnya. Pelemahan juga dipicu terjadinya inflasi di China sehingga memberi sinyal akan pengetatan moneter. Bursa kawasan AS justru berbeda kondisinya dimana mayoritas menguat kecuali Argentina, Chile, dan Kolumbia.
Seakan tak terpengaruh pelemahan bursa saham Eurozone dan Asia Pasifik, bursa saham AS naik seiring dengan kenaikan U.S retail sales Februari dan turunnya harga minyak karena meredanya aksi demonstrasi di Arab Saudi. Pembelian ritel naik 1% setelah sebelumnya naik 0,7% di Januari. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen tidak bereaksi negatif terhadap kenaikan harga pangan dan energi. Padahal sebelumnya data pemerintah AS menunjukkan klaim awal pengangguran naik 26.000 menjadi 397.000 dan defisit perdagangan AS melebar dan jauh dari ekspektasi menjadi US$ 46,3 miliar. Penguatan dipicu saham konstruksi dimana investor memiliki persepsi akan adanya peluang dari permintaan emiten konstruksi AS untuk rebuilding di Jepang.
Pada perdagangan Senin (11/3) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.473-3.507 dan resistance 3.582-3.621. Kekuatan daya jual dalam menurunkan harga masih besar namun, kekuatan daya beli berusaha menahannya yang terlihat dari terbentuknya candle yang tidak membentuk black marubozu. Posisi ini membawa IHSG kembali ke awal Maret 2011 atau sama seperti pada pertengahan Januari 2011 dimana terjadi penurunan. Candle sedang menyesuaikan posisinya setelah upper bollinger band tersentuh. MACD mulai tertahan pergerakannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic berada di atas area overbought dan mulai sedang reversal. Meski penurunan ini sementara namun, persepsi terhadap bencana di Jepang masih menyelimuti IHSG. Kemungkinan ada baiknya investor beralih sementara ke saham-saham local oriented dan menghindari saham-saham yang berhubungan langsung dengan produk-produk Jepang. Selain itu, juga cermati rilis laporan keuangan emiten.
(qom/qom)











































