Indeks sektoral saham mayoritas bergerak naik kecuali indeks perdagangan yang turun 1,42% ke level 488,95. Penguatan dipimpin oleh indeks pertambangan yang naik 2,11% ke level 3.124,78; indeks aneka industri naik 1,50% ke level 973,62; indeks manufaktur naik 1,03% ke level 808,80; indeks industri dasar naik 0,90% ke level 363,64; indeks infrastruktur naik 0,78% ke level 751,44; indeks konsumer naik 0,76% ke level 1.089,94; indeks properti naik 0,75% ke level 187,27; indeks keuangan naik 0,51% ke level 455,32; dan indeks perkebunan naik 0,40% ke level 2.022,31. Indeks MBX dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 196,10 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,33 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,13 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 2.650 ke Rp 45.500, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.950 ke Rp 41.700, Astra Internasional (ASII) naik 950 ke level 55.350, Harum Energy (HRUM) naik 600 ke Rp 9.000, Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 300 ke Rp 20.750, HM. Sampoerna (HMSP) naik Rp 250 ke Rp 25.350, Intraco Penta (UNVR) naik 150 ke Rp 3.125; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 150 ke Rp 22.200; dan Indika Energy (INDY) naik Rp 125 ke Rp 3.875.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya IHSG melemah terkena panic selling seiring dengan terjadinya bencana alam di Jepang. Investor mengkhawatirkan terpuruknya ekonomi Jepang pasca bencana alam ini, mengingat Jepang merupakan salah 1 tujuan utama ekspor Indonesia. Tetapi, ekspektasi pasar berubah setelah mencermati bahwa pasca bencana alam ini Jepang
membutuhkan banyak jasa pembangunan dan bahan baku untuk membangun sarana infrastrukturnya sehingga permintaan akan bahan baku akan meningkat. Peningkatan permintaan akan jasa konstruksi dan bahan baku ini dimungkinkan berasal dari Indonesia. Volume perdagangan menurun dari sebelumnya dan nilai total transaksi mengalami kenaikan. Investor domestik mencatatkan nett sell. Sementara investor asing mencatatkan nett buy.
Bursa saham Asia Pasifik mayoritas menguat kecuali Jepang, Taiwan, Australia, New Zealand, dan Sri Lanka. Bursa saham Jepang turun drastis dipicu saham-saham teknologi. Investor semakin khawatir akan dampak jangka panjang kondisi Jepang terutama pada pasokan listrik setelah sebuah gempa bumi merusak generator nuklir. Kondisi ini akan membuat permintaan akan bahan-bahan kimia mengalami penurunan. Tetapi, di sisi lain bencana alam di Jepang juga diperkirakan akan meningkatkan permintaan akan minyak, gas, baja, dan bahkan otomotif untuk mendukung rekonstruksi. Pasar berspekulasi akan hal tersebut.
Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali Spanyol, Portugal, dan Iceland. Pelemahan ini merupakan lanjutan pelemahan sebelumnya yang dipicu penurunan pada saham-saham asuransi dan reasuransi. Meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepang memicu kekhawatiran para investor, terutama pada emiten asuransi dan reasuransi karena akan membebankan keuangannya melalui klaim asuransinya.
Bursa kawasan AS mayoritas melemah kecuali Meksiko dan Brazil. Bila sebelumnya bencana alam di Jepang seakan tak berpengaruh kali ini pelemahan terjadi seiring dengan posisi investor yang wait and see terhadap bencana tersebut. Investor saat ini tengah memprediksi seberapa besar kerugian dampak gempa terbesar yang pernah dialami Jepang terhadap perekonomian global. Dampak dalam jangka pendek kemungkinan akan terasa bagi Jepang seiring dengan adanya penurunan permintaan akan produk mereka, penurunan suplai produksi, dan aliran dana yang masuk ke Jepang.
Pada perdagangan Selasa (15/3) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.500-3.535 dan resistance 3.593-3.618. Di tengah tren yang menurun, ternyata IHSG mampu menguat sehingga membuka peluang untuk melanjutkan kenaikan secara teknikal. Apalagi candle telah menyesuaikan posisinya setelah upper bollinger band tersentuh. MACD masih tertahan pergerakannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic yang awalnya bergerak turun meninggalkan area overbought , terlihat kembali mencoba reversal menguat. Secara teknikal, IHSG membentuk bullish harami yang memungkinkan adanya penguatan lanjutan namun, investor tetap waspada dan mencermati berita yang ada, terutama dampak bencana alam Jepang dan kondisi terakhir di Timur Tengah.
(qom/qom)











































