Indeks sektoral saham mayoritas bergerak turun dengan pelemahan dipimpin oleh indeks keuangan yang turun 2% ke level 446,21; indeks perkebunan turun 1,90% ke level 1.983,81; indeks infrastruktur turun 1,74% ke level 738,36; indeks industri dasar turun 1,72% ke level 357,37; indeks perdagangan turun 1,09% ke level 483,62; indeks properti turun 1,04% ke level 185,31; indeks manufaktur turun 0,97% ke level 800,95; indeks aneka industri turun 0,85% ke level 965,38; indeks konsumer turun 0,55% ke level 1.083,89; dan indeks pertambangan turun 0,26% ke level 3.116,62. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 41,35 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,29 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,25 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 1.500 ke Rp 47.000, Nippon Indosari Corpindo (ROTI) naik Rp 125 ke Rp 2.600, Adira D.M Finance (ADMF) naik 50 ke level 10.750, FKS Multi Agro (FISH) naik 50 ke Rp 1.630, Ultra Jaya Milk (ULTJ) naik Rp 40 ke Rp 1.050, Bank OCBC NISP (NISP) naik Rp 30 ke Rp 1.410, Mitra Adiperkasa (MAPI) naik 25 ke Rp 2.375; Pembangunan Perumahan (PTPP) naik Rp 20 ke Rp 680; dan Suparma (SPMA) naik Rp 10 ke Rp 225.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terjadinya krisis nuklir di Jepang menyebabkan investor panik dan mengamankan portofolionya. Meski melemah, volume perdagangan dan nilai total transaksi mengalami kenaikan. Investor domestik mencatatkan nett sell . Sementara investor asing masih mencatatkan nett buy meski mengalami penurunan. Nilai tukar Rupiah terhadap US$ melemah di posisi Rp 8.785 per US$ dibandingkan sebelumnya di Rp 8.765 per US$. Bursa saham Asia Pasifik mayoritas melemah kecuali Australia, New
Zealand, dan Laos. Terjadinya ledakan PLTN di Jepang makin memperparah penurunan bursa saham Jepang dimana kemarin anjlok hingga 10,55%. Investor terlihat menghindari aset berisiko seperti ekuitas dan komoditas di seluruh Asia. PM Naoto Kan menyatakan bahwa tingkat radiasi di pabrik nuklir telah meningkat sehingga mendesak orang dalam radius 30 km atau 18 mil harus diungsikan segera. Laporan lain mengatakan radiasi ini sudah terdeteksi di Tokyo. Dalam pekan ini diperkirakan bursa Jepang merugi hingga US$ 720 miliar setelah bencana alam pekan lalu. Bursa saham Jepang mengalami penurunan terendah sejak 1987. Kondisi ini membuat
ketidakpastian, apalagi sejumlah pabrikan di Jepang ditutup sementara waktu untuk memulihkan keadaan.
Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali Hungary. Kondisi bencana alam di Jepang membuat bursa saham Eropa turun ke tingkat terendah dalam 14 minggu. Apalagi setelah terjadi 2 ledakan yang terpisah di PLTN Jepang. Investor melihat Jepang memiliki sejumlah besar utang luar negeri, khususnya kepada negara-negara Eropa dan ada kekhawatiran bahwa bencana alam tersebut dapat menyebabkan Jepang menjual sebagian dari utangnya untuk membangun kembali. Pada saat PLTN Jepang meledak, investor menilai pasokan energi Jepang berkurang. Mengingat konsumsi energi Jepang, sebagian ditopang oleh energi nuklir. Produksinya pun akan berkurang sehingga aktivitas ekonomi pun diperkirakan bisa turun di Q1-11. Bursa kawasan AS mayoritas melemah namun, terhindar dari penurunan drastis akibat krisis nuklir di Jepang yang dikarenakan komentar dari The Fed. Sementara harga minyak mentah tercatat merosot hingga 4%. The Fed menyatakan tentang pandangan perekonomian yang lebih baik. Investor juga meyakini dampak krisis nuklir di Jepang bakal sementara saja menekan harga saham-saham.
Pada perdagangan Rabu (16/3) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.430-3.477 dan resistance 3.570-3.616. IHSG gagal melanjutkan penguatannya setelah membentuk pola seperti bullish harami . Akibatnya ruang penguatan menjadi terbatas dan cenderung mengalami pelemahan. Pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi oleh kondisi regional. Secara teknikal pun IHSG sudah berada di area overbought sehingga wajar jika terjadi penurunan. MACD terlihat akan membentuk death cross dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic melanjutkan pergerakan meninggalkan area overbought. Secara teknikal, IHSG belum memperlihatkan adanya tanda-tanda kenaikan dan cenderung melemah. Akan tetapi, investor bisa mencermati beberapa laporan keuangan emiten yang akan dirilis. Diharapkan adanya rilis laporan keuangan dan penguatan pada beberapa saham lapis kedua bisa menahan penurunan IHSG.
(qom/qom)











































