Indeks sektoral saham mayoritas melemah kecuali indeks properti yang naik 0,55% ke level 195,12; indeks perdagangan naik 0,52% ke level 491,04; indeks pertambangan naik 0,36% ke level 3.216; dan indeks industri dasar naik 0,31% ke level 396,48. Sementara pelemahan pada indeks aneka industri yang turun 1,64% ke level
999,996; indeks perkebunan turun 1,33% ke level 2.121,71; indeks manufaktur turun 0,62% ke level 838,48; indeks konsumer turun 0,49% ke level 1.098,37; indeks keuangan turun 0,38% ke level 484,40; dan indeks infrastruktur turun 0,03% ke level 760,78. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 243,64 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,76 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,52 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya H.M Sampoerna naik Rp 4.250 ke Rp 30.750; Astra Otoparts (AUTO) naik Rp 1.550 ke Rp 15.850; Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 1.400 ke Rp 49.500; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 1.000 ke Rp 35.000; United Tractors naik Rp 600 ke level Rp 22.050; Sarana Menara Nusantara (TOWR) naik Rp 500 ke Rp 10.700; Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik 500 ke level 22.450; Adira Dinamika Multi Finance (ADMG) naik 400 ke Rp 11.600; dan Metro Realty (MTSM) naik 210 ke Rp 1.070.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
tertingginya). Tetapi, menjelang penutupan terjadi aksi profit taking sehingga melemahkan IHSG dan menyentuh level 3.681,81 (level terendahnya). Volume perdagangan dan nilai total transaksi mengalami penurunan.
Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan jual. Investor domestik masih mencatatkan nett sell . Pergerakan nilai tukar Rupiah menguat terhadap US$ yang ditutup di Rp 8.660 dibandingkan sebelumnya di Rp 8.690 per US$. Penguatan dipicu oleh derasya aliran dana asing ke pasar dan naiknya harga obligasi. Selain itu, didukung oleh deflasi di Maret.
Bursa saham Asia Pasifik mayoritas menguat kecuali Jepang, KorSel, Pakistan, Sri Lanka, dan Vietnam. Penguatan ini dipicu oleh sentimen positif dari AS yang telah merilis data ketenagakerjaan dimana mengalami peningkatan lapangan pekerjaan dan penurunan angka pengangguran serta mulai maraknya aksi merger dan akuisisi yang menandakan adanya pertumbuhan emiten; pertumbuhan laba emiten di China yang di atas estimasi dan imbas positif kenaikan data manufaktur; dan mulai beroperasinya
perusahaan Jepang sehingga menepis adanya ekspektasi perlambatan produksi lebih lama lagi.
Bursa saham Eropa mayoritas masih menguat, kecuali Jerman (pelemahan hanya pada DAX Index namun, indeks lainnya menguat), Perancis (pelemahan hanya pada CAC 40 Index namun, indeks lainnya menguat), Swiss, Belanda, dan Iceland. Di awal perdagangan, bursa saham Eropa sempat melemah dipicu aksi profit taking . Tetapi, aksi ini masih tertahan oleh optimisme terhadap serangkaian transaksi Merjer & Akuisisi (M & A). Penguatan terjadi pada saham kelompok bahan kimia dan operator telekomunikasi seiring dengan aksi korporasi M & A.
Bursa kawasan AS mayoritas menguat kecuali Peru dan Kolumbia. Penguatan dipicu oleh pelaku pasar yang masih merespons positif data pengangguran AS dan ekspektasi akan kinerja positif emiten-emiten bluechips pada Q2-11. Selain itu, penguatan juga dipicu oleh respon positif terhadap beberapa aksi M & A dari emiten-emiten di bursa. Akan tetapi, Nasdaq ditutup turun karena terkena tekanan profit taking .
Pada perdagangan Selasa (5/4) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.656-3.678 dan resistance 3.725-3.751. Setelah candle membentuk pola three white soldier , candle membentuk spinning tops dengan posisi di atas sehingga mengindikasikan adanya pola reversal negatif. Upper bollinger bands masih juga tersentuh sehingga candle masih membutuhkan penyesuaian posisi. MACD mulai tertahan kenaikannya dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic telah di atas area overbought dan menunjukkan sinyal pembalikan arah. Meski secara fundamental tidak ada berita signifikan yang melemahkan saham-saham di bursa efek namun, melihat harga saham yang mayoritas telah berada di area overbought maka dimungkinkan koreksi masih akan terjadi.
(qom/qom)











































