IHSG mengalami foreign buy sebesar Rp 224,94 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,66 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,43 triliun net. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Merck (MERK) naik Rp 1.000 ke Rp 95.000; Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 500 ke Rp 11.000; United Tractors (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 22.500; Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) naik Rp 300 ke Rp 12.000; Astra Agro Lestari naik Rp 300 ke level Rp 22.800; Sinarmas Multiartha (SMMA) naik Rp 200 ke Rp 2.225; Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 200 ke Rp 6.350; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik 200 ke level 16.700; dan Inovisi Infracom (INVS) naik 150 ke Rp 7.250.
IHSG di awal pekan masih menunjukkan ketangguhannya dengan terus berada di area positif. Meski IHSG dibayang-bayangi profit taking dan beberapa sentimen negatif namun, sentimen positif yang beredar di pasar telah berhasil menutupi itu semua. Sentimen positif berupa kenaikan rating Indonesia dan optimisme petumbuhan Q1-11 masih mampu membawa angin segar ditambah dengan ekspektasi investor terhadap pembagian dividen setelah rilis laporan keuangan di minggu sebelumnya. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.768,02 (level tertingginya) di awal-awal perdagangan namun, setelah itu IHSG bergerak melemah hingga menyentuh level 3.732,28 (level terendahnya) dan akhirnya menjelang penutupan bisa naik dan bertengger di level 3.745,84. Volume perdagangan dan nilai total transaksi mulai mengalami penurunan. Investor asing masih mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan jual. Investor domestik mencatatkan nett sell . Pergerakan nilai tukar Rupiah menguat terhadap US$ yang ditutup di Rp 8.641 dibandingkan sebelumnya di Rp 8.656/US$. Penguatan dipicu oleh pelemahan US$
seiring dengan potensi government shutdown akibat alotnya kesepakatan APBN AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursa saham Eropa mayoritas melemah, kecuali Portugal dan Finlandia. Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhi oleh kekhawatiran investor akan pemulihan ekonomi Eropa pasca kenaikan harga minyak mentah dunia. Tetapi, pada penutupan perdagangan komoditas, harga minyak kembali turun seiring dengan sikap melunaknya Pemerintah Libya yang bersedia berdamai dengan pihak yang kontra dengannya. Selain itu, pelemahan juga dipengaruhi oleh aksi profit taking dimana sebelumnya saham-saham telah menguat karena laporan kinerja emiten FY2010 dan menjelang laporan Q1-11.
Bursa kawasan AS mayoritas bergerak melemah kecuali Meksiko dan Panama. Pelemahan ini dipengaruhi oleh penjualan saham-saham energi dan minyak seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia setelah adanya upaya damai di Libya. Selain itu, kekhawatiran kenaikan biaya material dan efek bencana alam di Jepang bisa mempengaruhi kondisi perusahaan pada kuartal berikutnya. Investor memanfaatkan penurunan harga minyak untuk profit taking di saham-saham energi dan migas. Padahal di awal pembukaan, bursa AS menguat dipicu oleh ekspektasi kenaikan pendapatan pada laporan kinerja Q1-11. Pada pekan lalu, bursa AS ditutup melemah seiring kenaikan harga minyak dunia yang menembus level US$102/barel dan belum dicapainya kesepakatan pada APBN AS. Tetapi, akhirnya parlemen menyetujui pemotongan anggaran sebesar US$38 miliar di 2011.
Pada perdagangan Selasa (11/4) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.700-3.727 dan resistance 3.750-3.770. IHSG masih terus bergerak naik dengan membentuk kembali spinning tops di posisi atas. Tetapi, kali ini dengan ekor atas yang lebih panjang dari sebelumnya. Hal ini memperlihatkan kekuatan daya jual yang mulai menekan harga namun, masih tertahan oleh kekuatan daya beli. Meski pola ini telah membawa candle berada di area overbought namun, masih tetap bergerak naik. Akan tetapi, dimungkinkan terjadi koreksi sewaktu-waktu karena posisinya yang rentan. MACD masih bergerak naik dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought namun, mulai terlihat gejala penurunan. Meski sentimen positif yang beradar di pasar mampu menghalau / menutupi sentimen negatif yang berhembus ke bursa namun, Investor tetap berhati-hati bila terdapat sinyal profit taking.
(qom/qom)











































