indeks industri dasar turun 0,02% ke level 398,43. Sementara kenaikan terjadi pada indeks properti yang menguat 0,59% ke level 201,04; indeks konsumer naik 0,33% ke level 1.107,73; indeks infrastruktur naik 0,32% ke level 769,82; dan indeks keuangan naik 0,18% ke level 497,47. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 19,36 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,17 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,15 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya XL Axiata (EXCL) naik Rp 200 ke Rp 5.850; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 200 ke Rp 40.700; Indomobil Sukses International (IMAS) naik Rp 150 ke Rp 8.200; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 150 ke Rp 17.150; Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI) naik Rp 130 ke level Rp 660; Ace Hardware Indonesia (ACES) naik Rp 100 ke Rp 2.625; Asuransi Multi Artha Guna (AMFG) naik Rp 100 ke Rp 6.400; Bank Central Asia (BBCA) naik 100 ke level 7.400; dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 100 ke Rp 6.250.
IHSG kembali masuk ke area negatif di awal pekan dimana sebelumnya mengalami penguatan. Investor kembali melakukan aksi profit taking terhadap beberapa saham-saham pilihan. Profit taking dimanfaatkan investor ditengah pelemahan yang terjadi pada bursa regional seiring dinaikkannya GWM China di akhir pekan kemarin. Tingginya inflasi di China membuat pemerintah China akan meneruskan kebijakan pengetatan ekonominya. Kebijakan inilah yang direspon negatif oleh investor. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.738,93 (level tertingginya) menjelang penutupan. Tetapi, juga sempat menyentuh level 3.712,18 (level terendahnya) di awal perdagangan dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.727,07. Volume perdagangan mengalami penurunan namun, nilai total transaksi mengalami kenaikan. Investor asing kembali mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli maupun nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell . Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap US$ berdasarkan kurs BI ditutup melemah di Rp 8.670/US$ dibandingkan penutupan sebelumnya d level Rp 8.661/US$. Pergerakan Rupiah dipengaruhi oleh kenaikan GWM China sebesar 50 bps ke level 20,5%, efektif per 21/4/11. Pasar menilai kebijakan itu akan memicu kenaikan biaya pinjaman di China. Aktivitas ekonomi China diperkirakan akan berkurang. Ekspor ke China pun otomatis juga akan menurun. Rupiah juga melemah karena sentimen negatif di Eropa setelah oposisi Finlandia tidak menyetujui proses bail-out.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursa saham Eropa mayoritas melemah dan tidak ada yang menguat. Pergerakan bursa saham Eropa yang melemah ini menjelang rilis kinerja emiten Q1-11 dan juga dipengaruhi oleh krisis utang di Eurozone. Hasil kinerja emiten pada Q1-11 dirasa belum menggembirakan dan ada kekhawatiran marjin perusahaan tergerus sehingga pasar menjadi negatif. Kebijakan ECB pun diperkirakan belum akan mengubah pergerakan pasar meskipun diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga. Pasar juga bereaksi negatif seiring dengan kemenangan partai oposisi di Finlandia yang kontra dengan bailout di Portugal. Pengucuran bailout ini diperlukan kesepakatan dari
semua pemerintahan di Eropa termasuk Finlandia meski sebagai negara kecil. Kondisi ini akan menghambat proses pencairan bailout Portugal. Sebelumnya pasar mendapat sentimen negatif dari isu restrukturisasi utang Yunani dan penurunan peringkat utang Irlandia oleh Moody's ke Baa3 atau satu tingkat di atas 'junk'. Di luar itu, pasar juga mendapat sentimen negatif dari kenaikan GWM di China.
Bursa kawasan AS mayoritas bergerak melemah. Pergerakan bursa saham AS dipengaruhi oleh ekspektasi penurunan kinerja dari Citigroup dimana sebelumnya rilis kinerja Bank of America dan Google kurang bagus. Pembangunan properti perumahan naik tipis di bulan Maret, menjadi 500.000 unit dari 479.000 di bulan Februari. Pasar semakin bereaksi negatif setelah S&P merevisi outlook jangka panjang AS menjadi negatif dari stabil dan kekhawatiran krisis utang Eropa. Penurunan ini membuat AS kehilangan rating AAA dalam jangka pendek dan meningkatkan biaya pinjaman. Bursa saham AS juga terkena imbas negatif kenaikan GWM China.
Pada perdagangan Selasa (19/4) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.697-3.715 dan resistance 3.745-3.755. IHSG masih bergerak berfluktuatif dimana kembali melemah setelah sebelumnya menguat di akhir pekan kemarin. Pelemahan ini membawa IHSG membentuk candle upper long legged doji yang umumnya mengindikasikan akan adanya reversal negatif karena dianggap sebagai awal dari tren bearish . Sekalipun terjadi pelemahan, IHSG masih berada di sekitar area overbought . MACD telah membentuk death cross dan bergerak datar dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali menyentuh batas overbought dalam tren penurunannya. Posisi IHSG yang masih di sekitar area overbought membuat IHSG rentan profit taking atau terkoreksi sewaktu-waktu. Sekalipun dimungkinkan terjadi penguatan namun, akan selalu diikuti dengan pelemahan selanjutnya. Investor diharapkan tetap mewaspadai sinyal terjadinya koreksi.
(qom/qom)











































