Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan kemarin hanya menguat tipis sebesar 4 poin (0,11%) di level 3808,93. Sedangkan indeks LQ-45 terkoreksi tipis sebesar 0,3 poin (0,04%) di level 680,89. Volume transaksi mencapai 5,8 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,8 triliun.
Investor asing kembali melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 373 miliar. Sedangkan sektor industri dasar dan sektor infrastrukur menjadi sektor yang terkoreksi masing-masing 0,23% di level 401,93 dan 0,64 % di level 794,43.
Pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin cukup fluktuatif dengan kecenderungan turun mengikuti pergerakan indeks regional yang cenderung mixed, walaupun pada akhir sesi menguat tipis akibat sentimen dari dari pengumuman kinerja keuangan beberapa emiten yang cukup baik dibandingkan tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cina telah mengambil langkah dengan menaikkan suku bunga acuan dan memperketat likuditas perbankan dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) sampai 20,5 % dan juga menaikkan batas minimal rasio kecukupan modal (CAR) perbankannya di level 11,5 %. Kondisi ini, membuat indeks di bursa Shanghai dalam dua hari terakhir cenderung dalam tren penurunan.
Sedangkan faktor dari keputusan The Fed untuk melanjutkan stimulus moneter sebesar $ 600 miliar sampai bulan juni dan mempertahankan suku bunga acuan di level sangat rendah, memberikan sinyal bahwa pasar keuangan di emerging market yang relatif memberikan yield yang lebih tinggi kembali akan bergairah.
Aliran dana asing jangka pendek (hot money) dipastikan masih akan membanjiri pasar keuangan di kawasan ini ditambah dengan daya tarik pertumbuhan emerging market yang tahun ini diprediksi tumbuh rata-rata sekitar 7 %-8 %.
Saham dan obligasi akan menjadi tujuan dari dana jangka pendek ini, khususnya Indonesia yang masih memberikan menawarkan yield yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan regional lainnya. Nilai tukar rupiah yang kemarin kembali menembus level Rp 8593/US$ juga didorong oleh masih besarnya aliran dana asing jangka pendek dan juga faktor dari penjualan obligasi global yang dilakukan pemerintah kemarin sebesar $ 2,5 miliar.
Melihat pergerakan IHSG kemarin dan faktor global, maka pada perdagangan hari ini, IHSG berpeluang untuk naik yang juga masih ditopang oleh sentimen positif dari kinerja kuangan emiten kuartal I/2011, pengumuman pembagian dividen, dan juga pengumuman inflasi bulan april pada 2 mei mendatang yang kembali diperkirakan terjadi deflasi.
Di samping itu, kondisi makro ekonomi Indonesia yang masih relatif stabil, dimana pada kuartal I/2011 pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu juga menjadi daya tarik bagi investor. IHSG untuk perdagangan hari ini diperkirakan berada di level support 3808 dan level resisten 3824.
Beberapa saham yang masih cukup menarik untuk dicermati karena relatif memiliki fundamental yang cukup baik, seperti BMRI, BBNI,BBRI dan BBJR, BJBR, PTBA, ADRO, HRUM, INDF, JSMR.
(ang/ang)











































