849,38; indeks konsumer naik 0,08% ke level 1.118,38; indeks pertambangan naik 0,05% ke level 3.257,34; indeks keuangan naik 0,04% ke level 511,42; dan indeks properti naik 0,04% ke level 208,42. Sementara indeks industri dasar turun 0,35% ke level 400,51. Indeks MBX dan DBX menguat.
IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 600,01 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,58 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 976,43 miliar. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indospring (INDS) naik Rp 1.800 ke Rp 11.000; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 1.100 ke Rp 27.000; Merck (MERK) naik Rp 1.000 ke Rp 100.500; Petrosea (PTRO) naik Rp 600 ke Rp 36.000; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 600 ke level Rp 19.500; Astra International (ASII) naik Rp 550 ke Rp 56.150; Sinarmas Multiartha (SMMA) naik Rp 450 ke Rp 2.800; Plaza Indonesia Realty (PLIN) naik 400 ke level 2.900; dan Indomobil Sukses International (IMAS) naik 400 ke Rp 8.800.
IHSG kembali masuk ke zona positif pada penutupan perdagangan di akhir pekan sehingga melengkapi pola penguatan di akhir pekan selama bulan April 2011 kemarin. Pada awal perdagangan sempat mengalami pelemahan di tengah banyaknya rilis laporan keuangan emiten untuk kuartal I 2011. Pelemahan ini wajar karena memang IHSG masih bergerak di sekitar area overbought. Bahkan dengan tertembusnya level 3.800, IHSG telah berada di atas area overbought maka wajar bila ada yang memanfaatkan momen ini untuk profit taking . Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.822,64 (level tertingginya) menjelang penutupan dan juga sempat menyentuh level 3.796,71 (level terendahnya) di awal perdagangan dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.819,62. Volume perdagangan mengalami penurunan namun, nilai total transaksi mengalami kenaikan. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursa saham Asia Pasifik bergerak mix dengan pelemahan pada bursa saham Hang Seng, Taiwan, KorSel, Malaysia, Singapura, dan Australia. Sementara bursa saham Jepang libur. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh berita negatif dari KorSel dimana produksi industrinya melambat dan AS dimana pertumbuhannya ekonominya diperkirkan masih melambat seiring masih berlanjutnya kebijakan pelonggaran moneter oleh The Fed. Selain itu, beredar spekulasi bahwa China masih akan melanjutkan memperketat kebijakan moneternya untuk meredam masih tingginya inflasi.
Bursa saham Eropa mayoritas bergerak menguat kecuali Iceland, Austria, dan Polandia. Sementara bursa saham Eropa libur seiring dengan adanya acara pernikahan keluarga kerajaan Inggris. Sebelumnya pada awal perdagangan, bursa saham Eropa didera aksi profit taking dari investor setelah banyak emiten merilis kinerja yang positif. Tetapi, investor juga berhati-hati seiring mulai naiknya harga bahan baku.
Bursa kawasan AS mayoritas bergerak menguat kecuali Venezuela. Pergerakan bursa saham AS di awal perdagangan bergerak mix dipengaruhi oleh rilis data klaim pengangguran yang mengecewakan pelaku pasar pada hari-hari sebelumnya. Selain itu,
pelemahan US$ dan peningkatan pendapatan emiten di kuartal I turut mempengaruhi pasar. Adanya berita positif tersebut mampu menutup berita negatif dari sektor ketenagakerjaan. Pelemahan US$ juga telah membuat investor beralih ke pasar komoditas, terutama emas. Banyaknya permintaan ke sektor komoditas nantinya akan mempengaruhi harga kontraknya sehingga mengalami kenaikan.
Pada perdagangan Senin (2/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.770-3.790 dan resistance 3.827-3.845. Meski telah berada dalam area overbought, IHSG masih dapat melanjutkan kenaikannya. Sentimen positif masih beredar di pasar. Terutama dari rilis laporan keuangan emiten dan ekspektasi terjadinya kembali deflasi di April. MACD masih bergerak datar dengan histogram positif yang mulai memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak di atas batas overbought. Penguatan di akhir pekan membuat IHSG membentuk hammer , lebih tepatnya hanging man yang mengindikasikan kemungkinan pergerakan naik telah mencapai puncak dan dimungkinkan terjadi reversal. Seperti biasanya di awal bulan, Investor akan menanti rilis data inflasi. Bila terjadi penurunan, apalagi deflasi maka pasar akan menyambut positif. Meski secara fundamental, IHSG masih dimungkinkan untuk menguat namun, juga rentan mengalami profit taking . Investor diharapkan tetap mewaspadai bila terdapat sinyal terjadinya koreksi.
(qom/qom)











































