Indosurya: Penurunan IHSG Bisa Berlanjut

Indosurya: Penurunan IHSG Bisa Berlanjut

- detikFinance
Kamis, 05 Mei 2011 07:31 WIB
Jakarta - IHSG kembali bergerak positif dengan menguat 1,06 poin (0,03%) di level 3.814,93. Total volume perdagangan BEI mencapai 7,24 miliar unit saham dengan nilai total Rp 4,34 triliun. Sebanyak 134 saham naik, 101 saham turun, dan 92 saham stagnan. LQ-45 naik 0,08% ke 681,581 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,19% ke 527,21. Indeks sektoral saham bergerak mix dengan penurunan pada indeks industri dasar yang turun 0,54% ke level 395,56; indeks keuangan turun 0,53% ke level 506,57; indeks infrastruktur turun 0,46% ke level 798,71; indeks konsumer turun 0,36% ke level 1.114,94; indeks perkebunan turun 0,33% ke level 2.225,92; indeks properti turun 0,27% ke level 206,32; dan indeks manufaktur turun 0,16% ke level 846,59. Sementara kenaikan terjadi pada indeks perdagangan yang naik 1,87% ke level 504,63; indeks pertambangan naik 0,91% ke level 3.281,90; dan indeks aneka industri naik 0,45% ke level 1.014,10. Indeks MBX melemah dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 247,45 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,83 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,58 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Petrosea(PTRO) naik Rp 3.950 ke Rp 37.500; United Tractors (UNTR) naik Rp 850 ke Rp 24.300; Astra International (ASII) naik Rp 250 ke Rp 56.400; Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 250 ke Rp 5.850; Bank Mega (MEGA) naik Rp 225 ke level Rp 3.675; Citra Tubindo (CTBN) naik Rp 200 ke Rp 2.700; Sona Topas Tourism Industry (SONA) naik Rp 150 ke Rp 1.750; Tambang batubara Bukit Asam (PTBA) naik 150 ke level 22.350; dan Malindo Feedmill (MAIN) naik 150 ke Rp 5.850.

Adanya anggapan bahwa IHSG masih di atas area overbought tidak menyurutkan animo pelaku pasar untuk tetap masuk ke bursa saham. Meskipun di awal perdagangan bergerak melemah merespon penurunan pada bursa saham Asia Pasifik dan Eropa serta AS pada perdagangan sebelumnya namun, ternyata IHSG tetap mampu mencatatkan kenaikan pada perdagangan sesi II. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.815,35 (level tertingginya) menjelang penutupan dan juga sempat menyentuh level 3.813,68 (level terendahnya) di awal pembukaan sesi II dan akhirnya berhasil menapak di level 3.814,93. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap US$ berdasarkan kurs BI ditutup turun di Rp 8.561/US$ dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 8.554/US$. Pergerakan Rupiah seiring dengan turunnya harga komoditas sehingga menyurutkan minat pelaku pasar terhadap aset-aset berisiko. Hal ini karena adanya pengalihan aset ke mata uang yang lebih bertahan sebeperti Yen. Rilis data harga perumahan di Inggris yang -0,2% dari prediksi +0,2% turut melemahkan Euro sehingga juga turut melemahkan Rupiah.

Bursa saham Asia Pasifik mayoritas bergerak turun kecuali bursa saham Taiwan, New Zealand, dan Thailand. Sementara bursa saham Jepang masih tutup karena libur. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh penurunan saham-saham perbankan dan produsen bahan mentah di Australia seiring dengan penurunan harga-harga komoditas, terutama logam. Selain itu, upaya bank sentral China yang akan memprioritaskan pengendalian inflasi memberikan sinyal akan adanya pengetatan kebijakan moneter. Data penurunan penjualan rumah di Hong Kong yang turun 37,6% menjadi 7.635 turut memberikan sentimen negatif ke pasar.

Bursa saham Eropa mayoritas bergerak melemah. Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhi aksi ambil untung oleh investor. Adanya tren penguatan di hari-hari kemarin memberikan peluang gain kepada investor. Apalagi pasar masih mendapat sentimen bullish karena kenaikan pendapatan beberapa emiten. Selain itu, profit taking ini dilakukan saat terjadi penurunan harga komoditas logam seiring dengan ketidakpastian ekonomi dan US$ yang sempat menguat. Saham-saham industri dasar melaporkan perolehan laba di bawah target karena harus menanggung harga bahan baku dan biaya energi yang mahal. Selain itu, juga ada pengaruh dari penundaan proyek
infrastruktur di beberapa kawasan. Penurunan juga dipengaruhi oleh penurunan pada bursa saham AS pada perdagangan sebelumnya dan pasar juga masih mencermati krisis utang di kawasan Eropa setelah Portugal menyetujui US$116 miliar bailout dari Uni Eropa dan IMF pada awal pekan ini.

Bursa kawasan AS mayoritas bergerak melemah kecuali Panama dan Kolumbia. Pergerakan bursa saham AS seiring dengan pelemahan pada bursa saham Asia Pasifik dan Eropa. Pasar masih terpengaruh dengan turunnya harga komoditas, terutama logam seperti perak dan tembaga, ditambah dengan pertumbuhan jasa industri yang di bawah target dan penurunan pada data ketenagakerjaan sehingga meredam optimisme pemulihan ekonomi. Dari data ADP Employer Service's dilaporkan pertumbuhan di bulan April sebesar 179.000, sementara sebelumnya diprediksi sebesar 198.000.

Pada perdagangan Kamis (5/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.772-3.789 dan resistance 3.820-3.834. Setelah candle IHSG membentuk pola dark cloud yang mengindikasikan kemungkinan akan adanya penurunan lebih lanjut, kemarin menjelang akhir perdagangan mengalami penguatan dan membentuk lower dragonfly doji . Candle ini mengindikasikan adanya kekuatan daya beli yang menahan penurunan lebih lanjut. MACD masih bergerak datar dan cenderung turun dengan terbentuknya histogram negatif. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai bergerak turun menyentuh batas overbought namun, agak tertahan karena terjadinya penguatan. Penguatan kemarin menjadikan IHSG masih berada di area overbought . Belum adanya sentimen negatif membuat IHSG dimungkinkan untuk menguat namun, juga rawan profit taking. Oleh karena itu, selama IHSG masih berada di atas area overbought maka investor tetap mewaspadai terjadinya potensi koreksi.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads