0,61% ke level 3.302,08; indeks properti naik 0,49% ke level 207,33; indeks perdagangan naik 0,29% ke level 506,11; indeks manufaktur naik 0,24% ke level 848,65; indeks konsumer naik 0,12% ke level 1.116,24; dan indeks infrastruktur naik 0,08% ke level 799,35. Indeks MBX melemah dan DBX menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 134,36 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,57 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,43 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Tembaga Mulia Semanan (TBMS) naik Rp 1.000 ke Rp 6.050; Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 650 ke Rp 47.700; Lionmesh Prima (LMSH) naik Rp 600 ke Rp 4.600; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 450 ke Rp 17.050; Sona Topas Tourism Industry (SONA) naik Rp 425 ke level Rp 2.175; Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 300 ke Rp 6.700; Smart (SMAR) naik Rp 300 ke Rp 5.600; Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik 300 ke level 6.150; dan Astra Otoparts (AUTO) naik 250 ke Rp 16.600.
IHSG ternyata masih mampu mengalami peningkatan meskipun di tengah kekhawatiran terjadinya aksi profit taking karena posisi IHSG yang masih berada di atas area overbought. Pola yang terjadi dari awal minggu ini hingga kemarin memiliki kesamaan dimana pada sesi pagi mengalami pelemahan karena investor profit taking merespon pelemahan pada bursa AS dan Eropa serta terpengaruh dari perdagangan bursa saham regional. Tetapi, di sesi siangnya IHSG kembali berbalik arah dan akhirnya menutup perdagangan dengan positif. Hal ini memperlihatkan sebenarnya penguatan IHSG mulai terbatas namun, sentimen positif masih beredar. Apalagi dengan dkeluarkannya rilis GDP Q1-11 yang mencapai 1,5% dan 6,5% (YoY). Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.817,47 (level tertingginya) menjelang penutupan dan juga sempat menyentuh level 3.787,94 (level terendahnya) di awal perdagangan dan akhirnya berhasil menapak di level 3.816,27. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bursa saham Asia Pasifik mayoritas bergerak turun kecuali bursa saham Taiwan, Australia, Pakistan, dan Sri Lanka. Sementara bursa saham Jepang masih tutup karena libur. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan industri jasa dan pekerjaan sehingga mengurangi kepercayaan investor akan percepatan
pemulihan ekonomi AS. Data payroll AS untuk April turun menjadi 179 ribu serta indeks non-manufaktur AS April juga turun menjadi 52.8. Penurunan juga dipicu meningkatnya inflasi Filipina dan penurunan penjualan ritel Australia.
Bursa saham Eropa mayoritas bergerak melemah kecuali Portugal dan Iceland. Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhi penurunan saham-saham perbankan seiring dengan penurunan kinerjanya. Investor juga terlihat wait and see terhadap keputusan suku bunga yang akan diumumkan oleh ECB. Keputusan itu didahulu dengan konferensi yang diperkirakan memberi sinyal kenaikan suku bunga ke depan.
Bursa kawasan AS mayoritas bergerak melemah kecuali Panama, Chile, dan Venezuela. Pergerakan bursa saham AS seiring dengan pelemahan pada kontrak komoditas logam terutama emas dan perak serta penguatan US$. Penurunan juga dipicu oleh kenaikan U.S jobs unemployment claims yang naik menjadi 474.000 dari ekspekstasi 410.000 dimana produktivitas pekerja menurun. Data non farm payrolls tumbuh 185.000, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 216.000. Indeks kepercayaan konsumen AS juga turun seiring naiknya harga BBM.
Pada perdagangan Jumat (6/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.772-3.794 dan resistance 3.825-3.836. Candle IHSG kembali membentuk membentuk lower dragonfly doji . Candle ini mengindikasikan adanya kekuatan daya beli yang menahan penurunan lebih lanjut. Meski dimungkinkan mengalami penguatan namun, penguatan tersebut bersifat terbatas. MACD masih bergerak datar dan cenderung turun dengan terbentuknya histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba bergerak turun menyentuh batas overbought namun, kembali tertahan karena terjadinya penguatan. Penguatan kemarin menjadikan IHSG masih berada di area overbought. Belum adanya sentimen negatif membuat IHSG dimungkinkan untuk menguat namun, juga rawan profit taking . Oleh karena itu, selama IHSG masih berada di atas area overbought maka investor tetap mewaspadai terjadinya potensi koreksi. Tetapi, bisa menjadi peluang bagi investor untuk menyeleksi saham-saham pilihan yang sudah terdiskon harganya.
(qom/qom)











































