Indosurya: Sentimen Positif dari AS dan Eropa

Indosurya: Sentimen Positif dari AS dan Eropa

- detikFinance
Senin, 09 Mei 2011 06:52 WIB
Jakarta - IHSG akhirnya kembali ke zona negatif dengan menguat 17,72 poin (0,46%) di level 3.798,55. Total volume perdagangan BEI mencapai 5,73 miliar unit saham dengan nilai total Rp 4,56 triliun. Sebanyak 82 saham naik, 155 saham turun, dan 93 saham stagnan. LQ-45 turun 0,48% ke 677,61 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,60% ke 523,67.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak turun kecuali indeks aneka industri yang naik 0,47% ke level 1.017,72 dan indeks manufaktur naik 0,03% ke level 848,89. Sementara pelemahan pada indeks perkebunan yang turun 1,52% ke level 2.214,63; indeks properti turun 1,02% ke level 205,22; indeks pertambangan turun 0,98% ke level 3.269,85; indeks perdagangan turun 0,85% ke level 501,81; indeks keuangan turun 0,53% ke level 499,71; indeks industri dasar turun 0,24% ke level 397,77; indeks infrastruktur turun 0,13% ke level 798,30; dan indeks konsumer turun 0,12% ke level 1.114,91. Indeks MBX dan DBX melemah. IHSG mengalami foreign buy sebesar Rp 239,60 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,71 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,47 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Sona Topas Tourism Industry (SONA) naik Rp 525 ke Rp 2.700; Plaza Indonesia (PLIN) naik Rp 300 ke Rp 3.200; Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 250 ke Rp 6.950; Astra International (ASII) naik Rp 250 ke Rp 56.500; Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 150 ke level Rp 7.300; Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 150 ke Rp 6.300; Gajah Tunggal (GJTL) naik Rp 125 ke Rp 2.450; Indofood Sukses Makmur (INDF) naik 100 ke level 5.700; dan Jaya Real Properti (JRPT) naik 100 ke Rp 1.400.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG akhirnya tidak dapat mempertahankan penguatan yang terjadi sebelumnya. Pola penguatan yang terjadi menjelang penutupan juga tidak terjadi pada perdagangan kemarin. Tampaknya akhir pekan memang benar-benar dimanfaatkan investor untuk merealisasikan gain di tengah penurunan bursa regional dan pengaruh pelemahan bursa AS dan Eropa seiring turunnya harga-harga komoditas, terutama komoditas logam. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.815,99 (level tertingginya) di pertengahan sesi I dan juga sempat menyentuh level 3.781,35 (level terendahnya) menjelang penutupan dan akhirnya berhasil menapak di level 3.798,55. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing masih mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap US$ berdasarkan kurs BI ditutup turun di Rp 8.577/US$ dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 8.566/US$. Pergerakan Rupiah seiring dengan turunnya harga komoditas terutama harga emas, perak, dan minyak. Selain itu, tertundanya kenaikan suku bunga acuan Eropa melemahkan Euro sehingga Rupiah pun ikut melemah. Pelemahan Rupiah juga karena apresiasi US$ seiring rilis data AS yang positif.

Bursa saham Asia Pasifik mayoritas bergerak turun kecuali bursa saham New Zealand, Sri Lanka, dan India. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh imbas negatif dari pelemahan bursa saham AS sebelumnya yang tidak hanya dikarenakan penurunan harga-harga komoditas namun, juga dikarenakan naiknya klaim pengangguran dan penurunan kepercayaan konsumen AS. Penurunan juga dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral India dan Filipina. Pasar melihat pemulihan ekonomi AS masih jauh dari yang diharapkan dimana sebelumnya aplikasi manfaat pengangguran AS naik 43 ribu menjadi 474 ribu untuk pekan yang berakhir 30 April, tertinggi sejak Agustus. Kepercayaan konsumen AS turun pekan lalu ke level terendah, lebih dari satu bulan karena meningkatnya biaya bahan bakar menekan anggaran rumah tangga AS. Indeks kenyamanan konsumen turun menjadi -46,2 dalam pekan yang berakhir 1 Mei, lebih rendah dari -45,1 periode sebelumnya.

Bursa saham Eropa mayoritas bergerak menguat kecuali Spanyol, Iceland, dan Yunani. Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhi oleh tertundanya kenaikan suku bunga acuan bank sentral Eropa (ECB) dan rilis kenaikan kinerja perusahaan. Selain itu, pasar juga mendapat kabar positif dari rilis data lapangan pekerjaan AS yang mengalami perbaikan dari periode sebelumnya. Sebelumnya, bursa saham Eropa sempat melemah karena investor masih wait and see atas rilis berita berubah atau tidaknya suku bunga acuan dan antisipasi rilis data ekonomi AS.

Bursa kawasan AS mayoritas bergerak menguat kecuali Meksiko. Pergerakan bursa saham AS seiring dengan membaiknya data ketenagakerjaan (nonfarm payrolls ) dimana sepanjang April tercipta 244.000 lapangan kerja di atas estimasi 186.000. Penyerapan di sektor swasta pun naik menjadi 268.000 di bulan April dari 231.000 di bulan Maret. Penguatan juga terjadi seiring dengan naiknya U.S Consumer Credit sebesar $ 6 miliar. Tetapi, penguatan ini belum dapat menghapus kerugian atas penurunan yang terjadi di hari-hari sebelumnya. Selain itu, secara keseluruhan jumlah pengangguran di AS pada April mencapai 9%, naik dari 8,8% di Maret. Sementara itu, harga emas mengalami kenaikan namun, harga minyak masih bergerak turun. Penjualan ritel pun diperkirakan naik 0,6% dibandingkan 0,4% pada Maret 2011.

Pada perdagangan Senin (9/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.760-3.780 dan resistance 3.815-3.830. Candle IHSG mengalami pelemahan setelah dua kali membentuk lower dragonfly doji . Selain itu, volume perdagangan pun juga turun. Hal ini mengindikasikan mulai berkurangnya minat beli untuk masuk ke pasar. Kekuatan daya jual berusaha untuk menekan harga walaupun beberapa kekuatan daya beli berusaha menahannya. MACD mulai bergerak turun dengan terbentuknya histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih mencoba bergerak turun menyentuh batas overbought dan membuatnya agar berada di bawah area tersebut. Pelemahan kemarin masih membuat IHSG berada di sekitar area overbought . Penguatan pada bursa saham AS dan Eropa dimungkinkan berpengaruh positif bagi IHSG dan belum adanya sentimen negatif membuat IHSG masih berada di sekitar area overbought. Untuk itu investor tetap mewaspadai bila terjadinya potensi koreksi.



(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads