Indeks sektoral saham mayoritas menghijau kecuali indeks konsumer dengan penurunan 0,20% ke level 1.136,86 dan indeks properti turun 0,28% ke level 208,67. Sementara penguatan pada indeks perkebunan yang naik 1,55% ke level 2.358,56; indeks aneka industri naik 1,38% ke level 1.118,82; indeks manufaktur naik 0,64% ke level 887,80; indeks industri dasar naik 0,97% ke level 407,599; indeks perdagangan naik 0,79% ke level 502,57; indeks pertambangan naik 0,07% ke level 3.271,36; indeks infrastruktur naik 1,98% ke level 794,98; dan indeks keuangan naik 0,01% ke level 508,38. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami foreign buy sebesar Rp 88,38 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,34 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,25 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 1.000 ke Rp 19.000; Astra International (ASII) naik Rp 900 ke Rp 62.000; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 650 ke Rp 24.450; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 550 ke Rp 17.200; Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 450 ke level Rp 7.800; Smart (SMAR) naik Rp 400 ke Rp 6.800; Astra Otoparts (AUTO) naik Rp 250 ke Rp 16.850; Goodyear Indonesia (GDYR) naik 200 ke level 12.000; dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik 200 ke Rp 47.050.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
menembus level 3.872,95 (level tertingginya) dan juga sempat menyentuh level 3.855,89 (level terendahnya) menjelang penutupan dan akhirnya berhasil tertahan di level 3.872,95. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.535/US$ dari sebelumnya di Rp 8.544/US$. Pergerakan Rupiah dipengaruhi oleh pengalihan dana investor dari pasar global ke dalam negeri. Gejolak krisis utang dan sentimen negatif di Eropa, pelemahan US$ setelah FOMC mempertahankan suku bunga rendah (0%-0,25%), dan GDP Jepang yang di bawah estimasi membuat nilai tukar Rupiah naik.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak mix dengan pelemahan diantaranya pada bursa saham Jepang, China, Taiwan, dan Aussie. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh penurunan harga minyak global dan laporan dari Jepang dimana GDP Q1-11 turun -0,9% dari Q1-10 (-0,8%) dan perkiraan (-0,5%). Selain itu, Jepang memutuskan kembali mempertahankan suku bunganya di level 0%-0,1%. Sebelumnya dilaporkan perekonomian Jepang turun 3,7%. Penguatan pada bursa saham Asia Pasifik dipicu oleh kenaikan saham eksportir setelah data turunnya klaim pengangguran AS. Tetapi, ada sentimen negatif dimana pertumbuhan manufaktur Philadelphia, AS di Mei di luar ekspektasi melemah, kekhawatiran akan kebijakan anti-inflasi China, dan turunnya saham pengembang Hong Kong karena kekhawatiran pemerintah akan mengekang harga properti.
Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali Belgia, Denmark, dan Swedia. Pergerakan bursa saham Eropa di awal perdagangan dipengaruhi oleh imbas positif dari penguatan bursa saham AS sebelumnya dan sentimen positif dari IPO Glencore yang memiliki kapitalisasi pasar lebih dari 6 miliar pound. Tetapi, investor masih diselimuti kekhawatiran kondisi keuangan Eropa, terutama negara-negara bermasalah dengan utang seperti Yunani, Portugal dan kawasan Eropa lainnya yang memiliki utang besar. Sentimen negatif terhadap krisis utang di Eropa meningkat ketika Fitch Ratings kembali menurunkan peringkat utang Yunani sebanyak 3 level. Akhirnya menjelang penutupan, investor merealisasikan gain yang mengakibatkan penurunan pada mayoritas bursa saham Eropa.
Bursa kawasan AS mayoritas bergerak melemah kecuali Kanada, Meksiko, dan Panama. Pergerakan bursa saham AS melemah di tengah optimisme pemulihan ekonomi setelah rilis positif angka pengangguran yang turun menjadi 402 ribu, lebih baik dari ekspektasi dan sentimen positif dari IPO Linkedln yang naik hingga 109,4%. Pelemahan ini terjadi setelah rilis penurunan keuntungan di sektor ritel dimana menimpa Gap. Inc yang mengalami penurunan proyeksi pendapatan dan penurunan laba sebesar 23% pada Q1-11 dan kekhawatiran Yunani akan default serta terkoreksinya harga komoditas dunia yang membebani penguatan saham tambang. Banyak kalangan mengharapkan ada sentimen positif yang kuat untuk bulan depan karena periode musim laporan pendapatan sudah berakhir dan menjelang berakhirnya QE-2 pada Juni nanti.
Pada perdagangan Senin (23/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.850-3.861 dan resistance 3.878-3.884. Candle IHSG yang masih melanjutkan penguatan di akhir pekan terlihat membentuk candle menyerupai hanging man namun, dengan bentuk body yang lebih panjang. Candle ini menunjukkan mulai berkurangnya minat dari kekuatan daya beli untuk mendorong harga. Sebaliknya, kekuatan daya jual mulai menekan harga. Selain itu, upper bollinger bands yang sudah terlewati menunjukkan akan adanya penyesuaian posisi ke bawah. MACD telah membentuk golden cross dengan terbentuknya histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali menembus area overbought . Melihat dari posisi teknikal maka dimungkinkan akan terjadi koreksi. Kalaupun terjadi penguatan maka bersifat terbatas karena ada kecenderungan melemah. Investor harap berhati-hati bila terdapat sinyal penurunan.
(qom/qom)











































