Indosurya: Kenaikan IHSG Masih Tertahan

Indosurya: Kenaikan IHSG Masih Tertahan

- detikFinance
Selasa, 31 Mei 2011 07:24 WIB
Jakarta - IHSG berada di jalur negatif dengan melemah 6,24 poin (0,16%) di level 3.826,14. Total volume perdagangan BEI mencapai 5,19 miliar unit saham dengan nilai total Rp 5,54 triliun. Sebanyak 91 saham naik, 143 saham turun, dan 102 saham stagnan. LQ-45 turun 0,09% ke level 680,68 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,38% ke level 529,41.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak melemah kecuali indeks perdagangan yang menguat 0,58% ke level 506,82 dan indeks keuangan naik 0,43% ke level 501,78. Sementara pelemahan pada indeks properti yang turun 1,01% ke level 207,13; indeks perkebunan turun 0,72% ke level 2.374,91; indeks konsumer turun 0,60% ke level 1.117,84; indeks pertambangan turun 0,51% ke level 3.233,52; indeks infrastruktur turun 0,45% ke level 792,66; indeks manufaktur turun 0,41% ke level 865,47; indeks industri dasar turun 0,31% ke level 402,31; dan indeks aneka industri turun 0,27% ke level 1.067,49. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 9,81 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,33 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,32 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 800 ke Rp 17.150; Petrosea (PTRO) naik Rp 500 ke Rp 41.500; United Tractors (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 22.900; BFI Finance Indonesia (BFIN) naik Rp 300 ke Rp 4.700; Asuransi Ramayana (ASRM) naik Rp 200 ke level Rp 2.200; Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 150 ke Rp 6.400; Capitalinc Investment (MTFN) naik Rp 130 ke Rp 1.170; Chandra Asri Petrochemical (TPIA) naik 125 ke level 4.250; dan FKS Multi Agro (FISH) naik 110 ke Rp 1.550.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG mengawali pekan ini dengan pelemahan. Investor tampaknya banyak melepas saham-saham pilihan terutama saham-saham berbasis komoditas. Pelemahan juga seiring penurunan pada bursa saham Asia Pasifik.

Pencatatan perdana saham JAWA pun tidak mampu membalikkan suasana dan ikut mengalami pelemahan. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.836,87 (level tertingginya) di awal perdagangan dan juga sempat menyentuh level 3.813,662 (level terendahnya) menjelang penutupan dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.826,14. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.548/US$ dari sebelumnya di Rp 8.565/US$. Pergerakan Rupiah dipengaruhi ekspektasi atas tetapnya suku bunga acuan sehingga masih memungkinkan mendukung aliran dana masuk. Pasar memprediksi Mei masih akan terjadi deflasi. Selain itu, aksi China yang menahan investasi baru mendorong dana asing mengalihkan dananya ke emerging market. Apalagi hal ini ditunjang oleh pertumbuhan negara-negara ASEAN seperti Filipina dan Malaysia sehingga menguatkan nilai tukar mata uang regional.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali bursa saham Hong Kong, Taiwan, New Zealand, dan Filipina. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh pelemahan saham-saham eksportir seiring
dengan rilis data penurunan pengeluaran belanja konsumen di AS melebihi perkiraan dan melambatnya payroll di AS, diperkirakan hanya bertambah 185.000 setelah 244.000 di April. Selain itu, dipengaruhi oleh harga komoditas Asia yang bergerak mix dengan kecenderungan melemah dan dipicu kekhawatiran terhadap Pemerintah China yang akan memperpanjang pengetatan keuangan untuk meredam tingginya inflasi. Sementara data positif dari Filipina yang melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9% pada Q1-11 dari Q1-10.

Bursa saham Eropa bergerak mix dengan penguatan diantaranya pada bursa saham Iceland, Belanda, Norwegia, dan Finlandia. Sementara bursa saham Inggris tutup karena libur. Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhi oleh penurunan utilitas Jerman yang turun sebesar 2,1%. Selain itu, minimnya berita karena pasar AS dan Inggris libur membuat volume perdagangan menjadi sangat tipis. Sebelumnya bursa saham Eropa menguat didukung kenaikan harga logam dan kenaikan data kepercayaan konsumen Inggris.

Bursa kawasan Amerika mayoritas bergerak menguat kecuali Argentina, Meksiko, dan Brazil. Sementara bursa saham US tutup karena libur. Sebelumnya pergerakan bursa saham AS ditopang oleh pelemahan US$ dan penguatan harga komoditas serta ekspektasi The Fed yang akan memberikan stimulus untuk merangsang pertumbuhan dan keinginan negara anggota G8 akan terus mengusahakan penguatan ekonomi, dengan pengurangan utang termasuk US yang bertekad untuk mengurangi defisit anggarannya. Tetapi, data di akhir pekan kemarin menunjukkan pelemahan dimana personal income bulanan turun menjadi 0,4% dari sebelumnya 0,5%, consumer spending bulanan turun menjadi 0,4% dari 0,6%, dan pending home sales index April turun dari level 94,1 menjadi 81,9.

Pada perdagangan Selasa (31/5) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.800-3.814 dan resistance 3.837-3.848. Meski candle IHSG secara perlahan mulai menapaki penguatannya namun, mulai tertahan dimana sebelumnya membentuk hanging man dan kemarin membentuk negative spinning tops . Umumnya pola ini mengggambarkan kekuatan daya beli yang mulai terbatas untuk mendorong harga lebih tinggi lagi. Sementara kekuatan daya jual mulai menekan harga. MACD tertahan untuk membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic reversal tertahan untuk melanjutkan penguatan menuju area overbought. Kenaikan IHSG terlihat tertahan dimana investor masih wait and see akan rilis resmi inflasi dari BPS. Meski diekspektasikan masih deflasi namun, investor lebih memilih menunggu rilis resminya. Investor tetap mewaspadai bila mulai ada sinyal penurunan

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads