Indeks sektoral saham mayoritas bergerak menguat kecuali indeks infrastruktur yang melemah 0,19% ke level 766,86 dan indeks properti turun 0,01% ke level 205,33. Sementara penguatan pada indeks konsumer yang menguat 1,89% ke level 1.127,31; indeks aneka industri naik 1,46% ke level 1.044,10; indeks perkebunan naik 1,35% ke level 2.336,28; indeks manufaktur naik 1,34% ke level 856,62; indeks perdagangan naik 0,63% ke level 509,20; indeks keuangan naik 0,50% ke level 489,28; indeks pertambangan naik 0,46% ke level 3.247,20; dan indeks industri dasar naik 0,43% ke level 393,15. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat.
IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 1,79 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,64 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 847,11 miliar. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Merck (MERK) naik Rp 5.000 ke Rp 110.000; Multi Bintang Indonesia (MLBI) naik Rp 2.000 ke Rp 362.000; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.700 ke Rp 45.450; Fast Food Indonesia (FAST) naik Rp 1.000 ke Rp 11.000; Astra International (ASII) naik Rp 950 ke Rp 57.350; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 700 ke level Rp 24.300; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 350 ke Rp 23.050; Smart (SMAR) naik Rp 300 ke Rp 7.000; dan Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 250 ke Rp 46.250.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI melemah di level Rp 8.538/US$ dari sebelumnya di Rp 8.531/US$. Pergerakan Rupiah di awal sesi sempat menguat dipicu oleh data-data ekonomi China yang secara umum positif meski terjadi kenaikan inflasi. Rilis inflasi China di level 5,5% memberikan sinyal bagi Bank Sentral China untuk melanjutkan pengetatan moneter yang dikhawatirkan akan memukul perekonomian di China. Di sisi lain, laju penguatan Rupiah tertahan setelah penurunan Euro seiring dengan langkah Standar & Poor's Rating Service memangkas peringkat utang jangka panjang Yunani dari B menjadi CCC yang merupakan level terendah.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali bursa saham Hong Kong, Pakistan, dan Sri Lanka. Pergerakan bursa Asia Pasifik dipengaruhi oleh rilis data China dimana inflasi pada Mei sebesar 5,5% naik 2 bps dari April; produksi industrinya bertumbuh 13,3% dari bulan lalu di atas perkiraan, dan investasi fixed asset nya naik 25,8% dari sebelumnya 25,40% dan perkiraan 25,30%. tetapi, penjualan ritel turun 16,9% dari sebelumnya 17,10% dan perkiraan 17%. Selain itu, Bank Sentral China juga telah menaikkan cadangan wajib minimum sebesar 50 bps untuk mengendalikan lonjakan harga konsumen. Sementara di India dirilis inflasi yang naik menjadi
9,06% (YoY) pada Mei, di atas perkiraan 8,70% sehingga memberi tekanan bagi bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya. Dari Jepang dilaporkan, BoJ mempertahankan suku bunganya di level 0%-0,1% dan mengatakan akan memperluas program pinjaman kepada perusahaan-perusahaan untuk mendukung pemulihan ekonominya melalui penyaluran kredit hingga Β₯500 miliar serta kenaikan produksi industri sebesar 1,6% dari sebelumnya 1%.
Bursa saham Eropa mayoritas bergerak menguat kecuali bursa saham Iceland. Pergerakan bursa saham Eropa dipengaruhi turunnya prediksi pertumbuhan ekonomi Swiss untuk 2012 oleh Pemerintah setelah apresiasi Swiss Franc yang diperkirakan terlalu berisiko. Ekonomi Swiss diperkirakan di level 2,1% pada 2011 dan 1,5% pada 2012 atau lebih rendah dari prediksi sebelumnya dimana 2,1% pada 2011 dan 1,9% di 2012. Selain itu, dari Spanyol dilaporkan CPI YoY turun 3,5% dari sebelumnya 3,8% dan perkiraan 4%. Sementara CPI Swedia dan Inggris tidak berubah namun, CPI Inti Inggris turun 0,4% menjadi 3,30%.
Bursa kawasan Amerika mayoritas menguat kecuali bursa saham Panama, Kolumbia, dan Chile. Pergerakan bursa saham AS dipengaruhi oleh kenaikan saham-saham ritel dan energi setelah terimbas data positif industri di China dan rilis data penjualan ritel AS yang turun hanya 0,2% dari perkiraan turun 0,3% dimana sebelumnya naik 0,3%. Penjualan ritel di luar auto sebesar 0,3% dimana sebelumnya 0,5%.
Pada perdagangan Rabu (15/6) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.725-3.749 dan resistance 3.786-3.800. Candle IHSG yang sebelumnya berada dalam tren pelemahan, kemarin berhasil tertahan dengan terbentuknya candle positif yang membentuk pola menyerupai bullish harami. Pola ini mengindikasikan mulai berkurangnya kekuatan daya jual untuk menekan harga dan kekuatan daya beli mulai menahan dan mendorong harga ke atas. MACD masih bergerak turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic mendekati area oversold dan terlihat mulai reversal. Diharapkan penguatan bursa saham AS dan Eropa serta didukung dengan faktor teknikal yang mulai reversal bisa berimbas positif terhadap IHSG.
(qom/qom)











































