Indeks sektoral saham mayoritas bergerak menguat diawali pada indeks aneka industri yang menguat 1,58% ke level 1.117,41; indeks manufaktur naik 0,98% ke level 891,89; indeks industri dasar naik 0,81% ke level 399,90; indeks perdagangan naik 0,74% ke level 522,11; indeks keuangan naik 0,71% ke level 499,86; indeks konsumer naik 0,62% ke level 1.167,17; indeks properti naik 0,58% ke level 206,91; indeks infrastruktur naik 0,57% ke kevel 770,51; indeks perkebunan naik 0,15% ke level 2.299,94; dan indeks pertambangan naik 0,11% ke level 3.252,37. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 406,74 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,30 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 898,19 miliar.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra International (ASII) naik Rp 1.100 ke Rp 61.900; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 900 ke Rp 16.150; Indo-Rama Synthetics (INDR) naik Rp 425 ke level Rp 3.850; Indospring (INDS) naik Rp 300 ke Rp 5.250; Nipress (NIPS) naik Rp 250 ke Rp 3.250; Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) naik Rp 250 ke Rp 4.875; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 200 ke Rp 15.200; BFI Finance Indonesia (BFIN) naik Rp 200 ke Rp 5.500; dan Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 150 ke level Rp 3.950.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI melemah di level Rp 8.602/US$ dari sebelumnya di Rp 8.601/US$. Pergerakan Rupiah melemah seiring bervariatifnya sentimen di pasar. Di satu sisi, sentimen dari AS menunjukkan bahwa kebijakan moneternya mungkin masih akan longgar dalam beberapa bulan ke depan untuk menopang pertumbuhan ekonomi AS. Tapi, di sisi lain, investor masih dibayangi ketidakpastian bailout utang Yunani meski lembaga moneter dunia dan ECB telah menjanjikan pencairan dana bailout. Pasar memilih wait and see atas voting parlemen Yunani pada Selasa (28/6/11) untuk kesepakatan penghematan fiskal yang menjadi syarat untuk mendapatkan bailout.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali bursa saham Taiwan, New Zealand, dan Pakistan dimana dipengaruhi oleh ekspektasi meredanya kekhawatiran krisis utang Eropa dan ekspektasi China tidak akan terlalu mengetatkan ekonominya seiring pernyataan PM China bahwa upaya untuk menahan dan menstabilkan inflasi di Cina telah mulai efektif sehingga mengurangi kekhawatiran yang beredar selama ini bahwa China akan menaikkan suku bunganya. China telah membuat pembatasan kenaikan harga prioritas dan menyusun sejumlah kebijakan yang ditargetkan. Tingkat harga keseluruhan dalam kisaran terkendali dan diperkirakan akan terus turun. Selain itu kenaikan dipicu kenaikan saham penerbangan setelah turunnya harga minyak mentah dan listing perdana saham Prada di bursa Hong Kong. Dari Asia Pasifik laporan ekonomi yang keluar yaitu Consumer Confidence KorSel yang turun menjadi 102 dari sebelumnya 104 dan Industrial Production Singapura yang turun -17,5% dari sebelumnya -9,5% dan perkiraan -6,2%.
Bursa saham Eropa bergerak mix dengan pelemahan pada Jerman, Perancis, Itali, dan Spanyol yang dipengaruhi oleh masih adanya kekhawatiran terhadap krisis utang Italia yang tertular krisis Uni Eropa. Sebelumnya bursa saham Eropa menguat setelah pasar mendapat tambahan berita positif soal penyelamatan Yunani dengan kesepakatan Uni Eropa yang didukung oleh IMF. Ada keinginan kuat dari para anggota Uni Eropa untuk bertindak yang diperlukan untuk mengatasi hal ini dan memberikan kemudahan bagi Yunani dalam mengakses dana pembangunan Uni Eropa. Tetapi, diharapkan Yunani memenuhi kewajibannya untuk menjalankan program pengetatan keuangan. Meski sudah dipastikan akan dibantu tetapi pengesahannya menunggu tanggal 28 Juni. Di sisi lain, dilaporkan indeks Consumer Confidence Perancis yang turun menjadi 83 dari sebelumnya 84; penjualan ritel bulanan Italia naik 0,4% dari sebelumnya -0,2%; indeks Ifo Business Climate Jerman naik menjadi 114,5 dari sebelumnya 114,2; dan indeks Business Expectations Jerman yang turun menjadi 106,3 dari sebelumnya 107,4.
Bursa kawasan Amerika mayoritas melemah kecuali Meksiko dan Panama yang dipengaruhi oleh imbas penurunan saham Oracle yang memicu turunnya saham-saham teknologi lainnya, kekhawatiran investor terhadap perbankan Italia yang kemungkinan bisa tertular krisis utang Eropa, serta imbas dari penurunan peringkat 13 bank Eropa oleh Moody's. Rilis beberapa data antara lain, kenaikan permintaan durable goods
(MoM) sebesar 1,9% dari sebelumnya -2,7% dan perkiraan naik 1,6%; kenaikan GDP (QoQ) sebesar 1,9% dari sebelumnya 1,8%; dan kenaikan GDP Price Index sebesar 2% dari sebelumnya 1,9%.
Pada perdagangan Senin (27/6) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.803-3.826 dan resistance 3.863-3.877. Candle IHSG membentuk candle spinning tops di posisi atas dimana sebelumnya membentuk hammer dengan body yang lebih tipis. Secara teknikal pola ini memperlihatkan pergerakan IHSG mulai terbatas meskipun masih terdapat peluang kenaikan. Upper bollinger band mulai tersentuh. MACD masih naik setelah membentuk golden cross dengan histogram positif yang memajang. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai menyentuh area overbought . Meski dimungkinkan untuk kembali menguat namun, bersifat terbatas. IHSG kemungkinan bisa melemah seiring pelemahan bursa saham AS namun, Investor sebaiknya cermati rilis data dari Asia dengan harapan bisa menutupi imbas negatif tersebut.
(qom/qom)











































