Indeks sektoral saham mayoritas bergerak turun diawali pada indeks aneka industri yang turun 1,38% ke level 1.176,35; indeks keuangan turun 0,60% ke level 510,52; indeks infrastruktur turun 0,48% ke level 763,40; indeks perdagangan turun 0,46% ke level 531,74; indeks manufaktur turun 0,40% ke level 917,55; indeks konsumer turun 0,40% ke level 1.184,31; indeks perkebunan turun 0,32% ke level 2.308,82; indeks properti turun 0,27% ke kevel 208. Sementera penguatan terjadi
pada indeks industri dasar yang naik 0,81% ke level 408,27 dan indeks pertambangan naik 0,08% ke level 3.279,66. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 14,44 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,18 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,19 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 1.000 ke Rp 30.000; Mayora Indah (MYOR) naik Rp 800 ke Rp 13.750; Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) naik Rp 400 ke level Rp 5.050; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 250 ke Rp 15.650; Nippon Indosari Corpindo (ROTI) naik Rp 225 ke Rp 3.075; Bayan Resources (BYAN) naik Rp 200 ke Rp 23.750; Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 200 ke Rp 7.800; BFI Finance Indonesia (BFIN) naik Rp 150 ke Rp 5.600; dan Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) naik Rp 150 ke level Rp 5.600.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.532/US$ dari sebelumnya di Rp 8.540/US$. Pergerakan Rupiah sempat melemah dipengaruhi oleh penurunan peringkat utang Portugal oleh Moody's sebanyak 4 peringkat dari Baa1 menjadi Ba2 yang merupakan kategori sampah (junk ). Kondisi ini membuat investor beralih dari mata uang dengan level yield lebih tinggi termasuk juga Rupiah ke US$ yang dinilai sebagai mata uang sebagai safe haven . Selain itu, pelemahan juga dipicu berakhirnya Quantitative Easing (QE-2)pada Juni 2011. Tetapi, di akhir perdagangan Rupiah berhasil menguat tipis.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak mix dengan pelemahan pada bursa saham China, New Zealand, Thailand, dan Hong Kong yang dipengaruhi oleh kenaikan saham-saham material terutama saham Hyundai Heavy Industries Co. yang naik tajam serta penguatan harga minyak dan emas Asia. Tetapi, penguatan ini tertahan oleh pelemahan saham-saham perbankan. Bursa saham Jepang menguat meski terhalang oleh pelemahan saham-saham perbankan seperti Mitsubishi UFJ Financial Group Inc, Shinsei Bank Ltd, dan Daiwa Securities Group Inc. Begitu pun dengan bursa saham Asussie yang menguat namun, saham-saham perbankannya melemah. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Leading Index Jepang di level 99,8 dari sebelumnya 96,2.
Bursa saham Eropa mayoritas bergerak turun kecuali Iceland yang dipengaruhi oleh pernyataan Moody's yang menurunkan peringkat utang pemerintah Portugal karena tidak dapat memenuhi target pengurangan utang. Peringkat tersebut dipangkas menjadi Baa2 dari Baa1. Portugal diperkirakan akan mendapat bantuan pada tahun 2013. Bahkan negara itu akan membutuhkan banyak bantuan keuangan di atas US$113 miliar atau β¬78 miliar. Downgrade atas Portugal membuat pasar khawatir ECB tidak akan menerima kolateral dari sektor perbankan Eropa yang sebagian besar memegang surat utang Portugal. Data ekonomi yang dirilis, yaitu indeks Halifax House Price (MoM) Inggris di level 1,2% dari sebelumnya 0,4%; GDP (QoQ) Eropa tetap di level 0,8%; dan Factory Orders (MoM) Jerman di level 1,8% dari sebelumnya 2,9%.
Bursa kawasan Amerika mayoritas menguat kecuali Kanada, Meksiko, dan Brazil yang dipengaruhi oleh kenaikan saham-saham transportasi dan konsumer di tengah pelemahan industri non manufaktur. Bursa saham AS sempat melemah setelah bank sentral China menyebut akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25bps. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Challenger Job Cuts (YoY) AS di level 5,3% dari sebelumnya -4,3% dan ISM Non-Manufacturing Index di level 53,3 dari sebelumnya 54,6.
Pada perdagangan Kamis (7/7) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.868-3.889 dan resistance 3.931-3.953. Candle IHSG membentuk candle spinning tops di posisi bawah dan menyerupai pola homing pigeon . Pola ini menggambarkan ketidakpastian dari arah pasar dan bisa saja dimungkinkan untuk reversal. MACD mulai terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought dan terlihat masih melemah. Meski IHSG masih berada di area overbought namun, melihat dari posisi candle dan penguatan bursa saham AS, diharapkan IHSG bisa kembali menguat.
(qom/qom)











































