Indosurya: IHSG Berpeluang Koreksi

Indosurya: IHSG Berpeluang Koreksi

- detikFinance
Senin, 11 Jul 2011 07:21 WIB
Jakarta - IHSG menguat 64,22 poin (1,63%) di level 4.003,69. Total volume perdagangan BEI mencapai 5,37 miliar unit saham dengan nilai total Rp 5,86 triliun. Sebanyak 144 saham naik, 77 saham turun, dan 112 saham stagnan. LQ-45 naik 2,06% ke level 710,90 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,78% ke level 552,52.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak menguat diawali pada indeks aneka industri yang naik 2,87% ke level 1.228,18; indeks keuangan naik 2,32% ke level 525,54; indeks manufaktur naik 1,88% ke level 945,18; indeks pertambangan naik 1,70% ke level 3.344,15; indeks konsumer naik 1,55% ke level 1.216,44; indeks industri dasar naik 1,15% ke level 415,44; indeks perkebunan naik 1,14% ke level 2.343,18; indeks properti naik 0,97% ke kevel 210,56; indeks perdagangan naik 0,76% ke level 546,32; dan indeks infrastruktur naik 0,61% ke level 7718,62. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 611,3 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,16 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,55 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Merck (MERK) naik Rp 3.000 ke Rp 123.000; Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 2.400 ke Rp 47.150; Astra International (ASII) naik Rp 1.950 ke level Rp 67.800; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.750 ke Rp 51.000; Delta Djakarta (DLTA) naik Rp 1.450 ke Rp 127.350; Indomobil Sukses Internasional (IMAS) naik Rp 700 ke Rp 9.850; Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 600 ke Rp 8.850; United Tractors (UNTR) naik Rp 450 ke Rp 25.500; dan Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 400 ke level Rp 21.500.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG masih melanjutkan kenaikan di akhir pekan kemarin seiring banyaknya sentimen positif diantaranya imbas penguatan Wall Street di perdagangan sebelumnya yang dipicu data ketenagakerjaan AS serta data pertumbuhan manufaktur dan produksi industri di beberapa negara di Eropa yang melebihi ekspektasi pasar. Selain itu, pengumuman perubahan suku bunga Eropa dan Inggris juga direspon positif. Sentimen tersebut melambungkan IHSG ke posisi tertingginya di level 4.005,686. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.005,69 (level tertingginya) di awal sesi II dan juga sempat menyentuh level 3.939,75 (level terendahnya) di perdagangan dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.003,69. Volume perdagangan tercatat naik dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.524/US$ dari sebelumnya di Rp 8.535/US$ yang dipicu oleh pernyataan BI yang memproyeksikan nilai tukar Rupiah terhadap US$ akan berada di kisaran Rp 8.500/US$ selama 2H11. Apresiasi ini juga sejalan dengan tersentuhnya rekor baru IHSG. Investor merespon positif rilis data ketenagakerjaan AS dan sejumlah data ekonomi di wilayah Eropa. Apalagi dalam konferensi pers, ECB selain menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 1,5% juga berkomitmen pada krisis utang Portugal pasca di-downgrade oleh Moody’s sebelumnya sehingga membuat kekhawatiran pasar atas penyebaran krisis Yunani mereda.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali Taiwan, KorSel, New Zealand, dan Pakistan yang dipengaruhi oleh respon positif investor terhadap rilis Chain Store Sales dan data ketenagakerjaan AS (kenaikan ADP Nonfarm Employment dan penurunan initial jobless claims ) sehingga mendorong prospek pemulihan ekonomi global. Bursa saham Jepang naik terkait data ekonomi yang dirilis. Saham energi Asia Pasifik menguat seiring dengan naiknya harga minyak untuk pengiriman Agustus di New York. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Bank Lending (YoY) Jepang sebesar -0,6% dari sebelumnya -0,8%; dan Economy Watchers Current Index Jepang di level 49,6 dari sebelumnya 36. Pada hari Sabtu (9/7/11) dirilis angka CPI (YoY) China sebesar 6,4% dari sebelumnya 5,5% dan PPI (YoY) China di angka 7,1% dari sebelumnya 6,8%.

Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali Iceland. Sebelumnya bursa saham Eropa menguat yang dipengaruhi oleh ekspektasi positif investor terhadap data non-farm payrolls AS sehingga membuat seluruh saham perbankan naik. Tetapi, investor kemudian menahan diri dan melakukan aksi profit taking sembari wait and see terhadap rilis data inflasi di China. Penguatan tertahan dimana sebelumnya pasar bereaksi positif atas kenaikan suku bunga ECB. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Trade Balance Jerman di level US$ 12,8 miliar dari sebelumnya US$ 11,9 miliar; Gov't Budget Balance Perancis di level US$ -68,4 miliar dari sebelumnya US$ -61,4 miliar; produksi industri (MoM) Italia di level -0,6% dari sebelumnya 1,1%; dan PPI input dan output (MoM) Inggris yang mengalami kenaikan.

Bursa kawasan Amerika mayoritas melemah kecuali Panama yang dipengaruhi oleh aksi profit taking investor setelah dirilisnya data-data ekonomi yang di bawah estimasi. Padahal pelaku pasar berharap banyak terhadap data ekonomi yang dirilis setelah sehari sebelumnya data ketenagakerjaan berhasil mengangkat harapan akan pulihnya ekonomi AS. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Nonfarm Payrolls di level 18.000 dari sebelumnya 25.000 dan perkiraan 89.000; Private Nonfarms Payrolls di level 57.000 dari perkiraan 120.000; Unemployment Rate di level 9,2% dari sebelumnya 9,1%; Wholesale Inventories bulanan di level 1,8% dari sebelumnya 1,1%; dan Average Hourly Earnings (MoM) AS sebesar 0% dari sebelumnya 0,3%.

Pada perdagangan Senin (11/7) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.917-3.960 dan resistance 4.026-4.048. IHSG kembali hampir membentuk candle white marubozu namun, terdapat ekor atas. IHSG masih melanjutkan kenaikannnya bahkan kembali menyentuh rekor terbarunya. MACD masih terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought dan mencoba kembali menguat namun, terbatas. Pencapaian IHSG menyentuh rekor barunya kali ini yang terasa lebih singkat dibandingkan sebelumnya berpeluang untuk terjadinya koreksi. Belum lagi data di akhir pekan dari AS dan China yang tidak begitu baik bisa berpengaruh negatif bagi IHSG.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads