Indosurya: IHSG Mungkin Lanjutkan Pelemahan

Indosurya: IHSG Mungkin Lanjutkan Pelemahan

- detikFinance
Selasa, 26 Jul 2011 08:00 WIB
Jakarta - IHSG melemah 18,73 poin (0,48%) di level 4.087,09. Total volume perdagangan BEI mencapai 8,92 miliar unit saham dengan nilai total Rp 5,16 triliun. Sebanyak 109 saham naik, 159 saham turun, dan 76 saham stagnan. LQ-45 turun 0,64% ke level 721,40 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,71% ke level 564,28.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak melemah diawali pada indeks pertambangan yang turun 1,07% ke level 3.332,30; indeks infrastruktur turun 0,85% ke level 779,80; indeks konsumer turun 0,80% ke level 1.236,63; indeks industri dasar turun 0,48% ke level 424,03; indeks manufaktur turun 0,60% ke level 981,04; indeks aneka industri turun 0,39% ke level 1.322,32; indeks keuangan turun 0,16% ke level 528,11; indeks perdagangan turun 0,11% ke level 568; dan indeks perkebunan turun 0,02% ke level 2.397,34. Sementara penguatan terjadi pada indeks properti yang naik 0,86% ke level 229,76. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 102,58 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,42 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,52 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Bintang Indonesia (MLBI) naik Rp 29.500 ke Rp 359.500; Mayora Indah (MYOR) naik Rp 500 ke Rp 16.250; Argha Karya Prima Industry (AKPI) naik Rp 370 ke level Rp 1.870; AKR Corporindo (AKRA) naik Rp 300 ke Rp 2.900; Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) naik Rp 250 ke Rp 13.950; Argo Pantes (ARGO) naik Rp 200 ke Rp 1.100; Elang Mahkota Teknologi (EMTK) naik Rp 200 ke Rp 2.400; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 150 ke Rp 23.350; dan Samudra Indonesia (SMDR) naik Rp 150 ke level Rp 4.100.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG akhirnya berbalik arah melemah setelah terpengaruh penurunan mayoritas bursa saham regional yang dipicu kekhawatiran investor terhadap deadlock nya kesepakatan limit utang AS. Selain itu, posisi mayoritas saham yang sudah overbought menjadi sasaran untuk profit taking terutama saham-saham tambang. Pernyataan BI terkait potensi bubble yang kemungkinan terjadi di sektor otomotif dan properti juga direspon negatif investor. Selain itu, pernyataan BPS yang memastikan bulan Juli akan terjadi inflasi namun, tidak akan sebesar 1% mengurangi kekhawatiran investor. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.104,46 (level tertingginya) di awal perdagangan dan juga sempat menyentuh level 4.067,24 (level terendahnya) di awal sesi II dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.087,09. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI melemah di level Rp 8.528/US$ dari sebelumnya di Rp 8.527/US$ yang dipengaruhi oleh kepanikan investor terkait krisis utang di AS maupun Eropa. Tetapi, Rupiah sempat menguat karena harapan pasar bahwa ekonomi Indonesia bisa terlindungi dari gejolak ekonomi global. Pada awal Agustus akan dirilis data inflasi dan Ex-Im yang diperkirakan positif sehingga memicu optimisme pasar. Minggu lalu, pasar berharap AS telah menyepakati kenaikan batas utangnya namun, ternyata tidak. Selain itu, pasar juga belum begitu yakin dengan bailout Yunani apakah akan berjalan lancar. Apalagi, Moody's kembali men-downgrade peringkat utang Yunani sebanyak 3 notes dari Caa1 ke Ca, level terendah atau hanya 1 note di atas default dengan outlook developing .

Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali bursa saham India, Filipina, dan Thailand yang dipengaruhi oleh penurunan rating Yunani oleh Moody's dan gagalnya pemerintah AS mencapai kesepakatan di tingkat parlemen untuk meningkatkan plafon utang setelah politisi AS melakukan tawar-menawar pada Minggu malam di Washington untuk menghindari potensi default AS namun, nyatanya tidak ada kesepakatan yang dibuat. Padahal, jika deadlock sebelum 2/8/11 maka akan ada penurunan peringkat utang dan akibatnya perekonomian AS kembali melambat. Bursa saham Jepang anjlok setelah apresiasi Yen seiring kegagalan kesepakatan plafon utang AS sehingga memberatkan emiten eksportir. Bursa saham Hong Kong melemah dipicu penurunan saham batubara dan energi. Bursa saham Aussie turun dipengaruhi pelemahan saham sektor keuangan dan pertambangan. Bursa saham China turun dipicu oleh anjloknya saham-saham produsen pembuat kereta setelah terjadinya tabrakan 2 kereta super cepat. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu PPI (QoQ) Aussie di level 0,8% dari sebelumnya 1,2%; Industrial Production (YoY) Taiwan di level 3,6% dari sebelumnya 7,6%; dan Trade Balance Taiwan di level US$ 1,21 triliun dari sebelumnya US$ 1,17 triliun.

Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali Jerman yang dipengaruhi oleh penurunan peringkat utang Yunani dan kondisi di AS. Sebelumnya, laporan laba perusahaan sudah telah memberikan sentimen positif. Tetapi, investor tetap menunggu perkembangan dari situasi politik terkait utang AS. Yunani masih dinilai akan menghadapi masalah solvabilits dalam jangka menengah meski telah mendapat komitmen dengan dana bantuan darurat dari Uni Eropa dan IMF. Data ekonomi yang dirilis, yaitu indeks Consumer COnfidence Italia di level 103,7 dari sebelumnya 105,8; BBA Mortgages Approval Inggris di level 31.700 dari sebelumnya 30.800; dan NBB Business Climate Index Belgia di level -2,5 dari sebelumnya -1,1.

Bursa kawasan Amerika bergerak melemah kecuali Panama, Peru, dan Kolumbia. Pergerakan ini dipengaruhi oleh gagalnya Obama dan kongres menyepakati batas atas utang. DPR AS dari Partai Republik mengatakan tidak ada kesepakatan tentang rencana kenaikan plafon utang sebelum 2 Agustus sehingga bisa memaksa S&P memangkas kredit AS dari AAA dalam 3 bulan. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Chicago Fed National Activity di level -0,46% dari sebelumnya -0,55%.

Pada perdagangan Selasa (26/7) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.049-4.068 dan resistance 4.105-4.123. IHSG membentuk candle hammer di posisi atas dan membentuk pola bearish harami . Pola ini menyerupai pola yang terjadi pada pekan kedua (11-12/7) dimana akan diikuti dengan pelemahan selama 2 hari. Upper bollinger bands masih tersentuh. MACD mulai terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought dan mulai turun. Bila melihat polanya dimungkinkan masih melanjutkan pelemahan. Investor bisa selective buy maupun buy on weakness .

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads