Indosurya: Waspadai Profit Taking

Indosurya: Waspadai Profit Taking

- detikFinance
Kamis, 28 Jul 2011 07:50 WIB
Jakarta - IHSG menguat 41,34 poin (1%) di level 4.174,11. Total volume perdagangan BEI mencapai 8,14 miliar unit saham dengan nilai total Rp 6,28 triliun. Sebanyak 138 saham naik, 114 saham turun, dan 100 saham stagnan. LQ-45 naik 1,36% ke level 740,99 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,17% ke level 578,74.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak menguat diawali pada indeks keuangan yang naik 2,40% ke level 547,48; indeks perdagangan naik 2,31% ke level 586,46; indeks aneka industri naik 1,31% ke level 1.361,51; indeks properti naik 0,90% ke level 233,49; indeks manufaktur naik 0,46% ke level 997,36; indeks perkebunan naik 0,35% ke level 2.430,44; indeks industri dasar naik 0,22% ke level 431,85; dan indeks pertambangan naik 0,07% ke level 3.383,76. Sementara pelemahan pada
indeks konsumer turun 0,15% ke level 1.240,90 dan indeks infrastruktur turun 0,12% ke level 782,11. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 422,79 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,85 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,43 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Taisho Pharmaceutical Indonesia (SQBI) naik Rp 4.000 ke Rp 126.000; United Tractors (UNTR) naik Rp 1.950 ke Rp 27.700; Astra International (ASII) naik Rp 1.050 ke level Rp 75.000; Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 650 ke Rp 4.950; Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 600 ke Rp 8.200; Resources Alam Indonesia (KKGI) naik Rp 500 ke Rp 6.950; Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 450 ke Rp 21.500; Hero Supermarket (HERO) naik Rp 400 ke Rp 6.700; dan Indomobil Sukses Internasional (IMAS) naik Rp 400 ke level Rp 11.550.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG kembali menguat dan mencetak rekor terbarunya yang dipicu publikasi beberapa laporan keuangan berbagai emiten untuk periode Q2-11. Di sisi lain, investor melihat kondisi makro ekonomi Indonesia juga cukup baik. Tetapi, pasar masih diliputi kekhawatiran negosiasi batas atas utang AS yang belum menemukan titik temu. Selain itu, AS mendapat ancaman dari lembaga pemeringkat internasional yang akan men-downgrade rating utangnya. Kongres AS mengajukan alternatif, yakni pengurangan utang melalui 2 tahap, masing-masing US$1,2 triliun dan US$ 1,8 triliun. Tetapi, Pemerintah berencana memveto usulan tersebut. Karena itu, investor akan mencari kawasan yang lebih menguntungkan untuk investasi ke depan dan yang basis fundamental makro ekonominya sangat positif. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.177,74 (level tertingginya) di awal perdagangan sesi II dan juga sempat menyentuh level 4.132,68 (level terendahnya) di awal sesi I dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.174,11. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.489/US$ dari sebelumnya di Rp 8.521/US$ yang dipengaruhi oleh meningkatnya risiko gagal bayar dan downgrade peringkat utang AS oleh lembaga rating internasional. Akibatnya US$ menjadi tidak menarik di mata investor. Apalagi ini terjadi karena deadline pada 2 Agustus sehingga memicu kecemasan investor. Pasar khawatir AS akan mengulang gagal bayar pada 1979 dimana sempat terjadi default sebagian atas Treasury Bill AS. Kondisi ini sama dengan selective default dimana pemerintah AS tidak mampu membayar semua utang yang jatuh tempo. Semakin lama Kongres AS tidak mampu menghasilkan keputusan, ketakutan pasar akan semakin tinggi. Secara tdak langsung, penguatan Rupiah juga turut menekan imbal hasil ( yield ) SUN Indonesia.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak mix dengan pelemahan pada bursa saham Jepang, Hong Kong, dan Australia yang dipengaruhi oleh penurunan saham-saham eksportir dan bank. Potensi deadlock nya peningkatan plafon utang AS menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar dunia akan default sehingga bisa menjauhkan pemulihan ekonomi global. Belum lagi rencana veto pemerintahan Obama terhadap kongres untuk rencana pemangkasan anggaran. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu GDP (QoQ) KorSel di level 0,8% dari sebelumnya 1,3%; Business Confidence New Zealand di level 47,6 dari sebelumnya 46,5; dan CPI (QoQ) Aussie di level 0,9% dari sebelumnya 1,6%.

Bursa saham Eropa mayoritas melemah yang dipengaruhi oleh ketidakpastian penganganan utang AS sehingga menimbulkan kekhawatiran AS akan default. Kondisi ini menekan perdagangan bursa saham Eropa semalam dan investor memilih menghindari aset berisiko. Di sisi lain, S&P kembali memangkas peringkat utang Yunani dari CCC menjadi CC dengan outlook negatif karena pengajuan proposal untuk restrukturisasi utang akan berpotensi menimbulkan default . Data ekonomi yang dirilis, yaitu indeks Import Price Index (MoM) Jerman tetap di level -0,6%; M3 Money Supply Eropa (YoY) di level 2,1% dari sebelumnya 2,5%; dan Business Confidence Index Italia di level 98,5 dari sebelumnya 100,5. Bursa kawasan Amerika bergerak melemah kecuali Meksiko dan Venezuela yang dipengaruhi kekhawatiran dan kebingungan pasar terhadap kebuntuan plafon utang AS. Ketua DPR John Boehner tengah menulis ulang RUU untuk mengangkat plafon utang dan memotong pengeluaran setelah Kantor Anggaran Kongres (CBO) memutuskan rencananya akan menurunkan pengeluaran. Selain itu, penurunan juga dipicu oleh data makro yang melemah. Data ekonomi yang dirilis, yaitu MBA Mortgage Applications di level -5% dari sebelumnya 15,5%; Core Durable Goods Orders (MoM) di level 0,1% dari sebelumnya 0,7%; Durable Goods Orders (MoM) di level -2,1% dari sebelumnya 1,9%, dan Economic Activity (YoY) Meksiko di level 4,5% dari sebelumnya 2,4%.

Pada perdagangan Kamis (28/7) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.107-4.141 dan resistance 4.192-4.211. IHSG membentuk candle spinning tops di posisi atas. Upper bollinger bands telah terlewati. MACD mulai terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic masih berada di atas area overbought dan bergerak dalam rentang tipis. Bila melihat polanya kemungkinkan IHSG akan mengalami konsolidasi terlebih dahulu, mengingat posisi IHSG yang sudah melewati area overbought. Investor tetap mewaspadai potensi terjadinya profit taking. Cermati saham JPFA, INDR, dan INDS.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads