Indeks sektoral saham mayoritas bergerak menguat diawali pada indeks properti yang naik 4,53% ke level 242,96; indeks keuangan naik 2,55% ke level 557,05; indeks konsumer naik 2,24% ke level 1.282,14; indeks manufaktur naik 1,28% ke level 985,72; indeks perdagangan naik 1,11% ke level 591,68; indeks aneka industri naik 1,01% ke level 1.304,59; indeks pertambangan naik 0,85% ke level 3.391,27; indeks infrastruktur naik 0,59% ke level 784,96; dan indeks industri dasar naik 0,20%
ke level 416,70. Sementara pelemahan pada indeks perkebunan yang turun 0,03% ke level 2.455,26. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 248,88 miliar dengan total pembelian asing Rp 14,18 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 13,93 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Bintang Indonesia (MLBI) naik Rp 24.000 ke Rp 359.000; Schering Plough Indonesia (SCPI) naik Rp 5.000 ke Rp 30.000; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.100 ke level Rp 53.000; Merck (MERK) naik Rp 1.500 ke Rp 125.000; Hero Supermarket (HERO) naik Rp 1.300 ke Rp 8.000; Astra International (ASII) naik Rp 1.150 ke Rp 71.650; Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 850 ke Rp 6.150; Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 425 ke Rp 4.600; dan Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 300 ke level Rp 15.900.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Transaksi saham di BEI mengalami peningkatan dengan adanya transaksi SIMP di pasar negosiasi senilai Rp 12,54 triliun. Di sisi lain, rilis inflasi Juli 0,67% (MoM) dan neraca perdagangan selama 1H11 yang tercatat surplus US$15,05 miliar turut memberikan sentimen positif. Meski IHSG berada di zona positif tetapi cenderung flat. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.193,56 (level tertingginya) di awal sesi I dan juga sempat menyentuh level 4.131,73 (level terendahnya) di akhir sesi II dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.193,44. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.485/US$ dari sebelumnya di Rp 8.508/US$ yang dipengaruhi oleh imbas penguatan IHSG dan optimisme pasar atas AS yang akan mencapai kesepakatan terkait kenaikan batas atas utang ( debt ceiling ). Selain itu, naiknya Rupiah didukung oleh data-data ekonomi domestik, yaitu inflasi Juli 2011 di level 0,67% (MoM) dan inflasi YoY sebesar 4,61%; neraca perdagangan dan ekspor RI yang positif dimana surplus US$3,33 miliar dari prediksi US$2,44 miliar dan sebelumnya US$3,5 miliar; dan naiknya angka ekspor ke level 49,35% dari prediksi 45,05% dan angka sebelumnya 37,28%. Nilai eskpor naik ke level US$18,41 miliar dari angka sebelumnya US$14,33 miliar.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali indeks saham New Zealand, Vietnam, dan Bangladesh yang dipengaruhi oleh ekspektasi positif seiring pernyataan Presiden Obama mengenai kesepakatan batas utang AS. Sektor perbankan memimpin kenaikan diantara 10 sektor industri dalam MSCI APAC. Rencana AS memangkas anggaran hingga US$ 2,5 triliun membuat para pelaku pasar optimis AS bisa terhindar dari gagal bayar. Optimisme inilah yang membuat bursa-bursa saham di Asia rebound. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Trade Balance Indonesia di level US$ 3,33 miliar dari sebelumnya US$ 3,46 miliar; CPI (YoY) KorSel di level 4,7% dari sebelumnya 4,4%; Trade Balance KorSel di level US$ 7,22 miliar dari sebelumnya US$2,82 milar; AIG Manufacturing Index Aussie di level 43,4 dari sebelumnya 52,9; dan HIA New Home Sales (MoM) Aussie di level -8,7% dari sebelumnya -0,2%.
Bursa saham Eropa mayoritas melemah kecuali indeks saham Iceland yang dipengaruhi oleh turunnya data manufaktur di sejumlah negara Eropa. Padahal di awal pembukaan, bursa saham Eropa sempat terimbas kenaikan bursa saham Asia Pasifik seiring tercapainya kesepakatan untuk menaikkan batas pinjaman di AS. Tetapi, ada juga kekhawatiran terhadap pemangkasan peringkat kredit AS karena konflik politik yang bisa mendorong biaya pinjaman dan mengurangi kepercayaan di AS. Dari 275 perusahaan dalam MSCI APAC yang telah memaparkan laporan keuangan sejak 11 Juli hingga semalam, 122 melebihi perkiraan analis dan 94 lainnya hanya turun sedikit. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Manufacturing PMI Perancis di level 50,50 dari sebelumnya 50,10; Manufacturing PMI Jerman di level 52 dari sebelumnya 52,10; Manufacturing PMI Eropa tetap di level 50,40; Manufacturing PMI Inggris di level 49,10 dari sebelumnya 51,40; dan Unemployment rate Eropa tetap di level 9,9%.
Bursa kawasan Amerika bergerak melemah kecuali indeks saham Panama, Argentina, Chile, dan Kolumbia yang dipengaruhi oleh rilis data manufaktur AS yang lebih buruk dari prediksi. ISM factory index turun ke posisi 50,9 pada Juli dari posisi 55,3 pada bulan sebelumnya. Pasca terjadinya kesepakatan, angka Credit Default
Swap (CDS) AS langsung turun menjadi 62,06 dari sehari sebelumny di 64,36. Data ekonomi yang dirilis, yaitu ISM Manufacturing Prices di level 59 dari sebelumnya 68; dan Construction Spending (MoM) di level 0,2% dari sebelumnya 0,3%.
Pada perdagangan Senin (2/8) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.101-4.132 dan resistance 4.194-4.224. IHSG membentuk candle white marubozu dimana candle kembali menyentuh Upper bollinger bands. MACD mulai terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali mencoba naik dari area overbought Meski IHSG berpeluang untuk melanjutkan kenaikannya namun, bersifat terbatas mengingat IHSG masih berada di atas area overboght. IHSG dimungkinkan mengalami konsolidasi dan bisa melemah sebelum akhirnya kembali naik mendekati level 4.200.
(qom/qom)











































