Indosurya: IHSG Punya Potensi Rebound

Indosurya: IHSG Punya Potensi Rebound

- detikFinance
Kamis, 04 Agu 2011 08:25 WIB
Jakarta - IHSG melemah 41,34 poin (0,99%) di level 4.136,51. Total volume perdagangan BEI mencapai 5,73 miliar unit saham dengan nilai total Rp 5,70 triliun. Sebanyak 66 saham naik, 200 saham turun, dan 79 saham stagnan. LQ-45 turun 1,07% ke level 732,74 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,83% ke level 565,34.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak melemah diawali pada indeks properti yang turun 1,63% ke level 237,02; indeks infrastruktur turun 1,49% ke level 780,59; indeks pertambangan turun 1,28% ke level 3.347,99; indeks perdagangan turun 1,20% ke level 574,99; indeks keuangan turun 1,14% ke level 549,90; indeks aneka industri naik 0,51% ke level 1.290,77; indeks konsumer turun 0,49% ke level 1.267,99; indeks perkebunan turun 0,46% ke level 2.427,32; indeks manufaktur turun
0,39% ke level 973,58; dan indeks industri dasar turun 0,06% ke level 409,83. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 540,37 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,40 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,94 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 850 ke Rp 6.600; Charoen Pokphand (CPIN) naik Rp 225 ke Rp 2.750; Astra Graphia (ASGR) naik Rp 180 ke Rp 1.210; Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 150 ke level Rp 6.450; Lionmesh Prima (SOBI) naik Rp 150 ke Rp 2.700; Gajah Tunggal (GJTL) naik Rp 125 ke Rp 3.150; Japfa Comfeed (JPFA) naik Rp 100 ke Rp 5.400; Roda Vivatex (PUDP) naik Rp 100 ke Rp 690; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 100 ke Rp 16.100; dan Nipress (CEKA) naik Rp 70 ke level Rp 1.120.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awan hitam masih menyelimuti IHSG dimana kemarin masih melanjutkan pelemahannya mengikuti melemahnya mayoritas bursa saham regional. Kekhawatiran melambatnya perekonomian global berimbas dan memaksa IHSG berada di teritori negatif. Sebelumnya, disetujuinya UU darurat untuk mencegah gagal bayar utang pemerintah AS yang jatuh tempo diharapkan bisa membuat bursa saham naik namun, data ekonomi AS yang turun ikut mempengaruhi pergerakan IHSG. Pencapaian level 4.200 pun masih jauh. Saham bluechips yang terkena pelemahan antara lain BMRI, PGAS, dan GGRM. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.177,57 (level tertingginya) di akhir sesi 2 dan juga sempat menyentuh level 4.095,87 (level terendahnya) di awal sesi I dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.136,51. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.487/US$ dari sebelumnya di Rp 8.460/US$ yang dipengaruhi bertambahnya kecemasan pasar atas memburuknya krisis utang Italia dan perlambatan ekonomi AS. Disetujuinya UU darurat untuk mencegah default utang pemerintah AS yang jatuh tempo dimana dengan UU ini, Obama bisa menaikkan batas utang lebih dari US$ 14,3 triliun tidak langsung direspon positif karena bersamaan dengan keluarnya data ekonomi yang melambat. Pasar juga mengkhawatirkan kemungkinan gagal bayar dan pemecatan Menteri Ekonomi Italia Tremonti yang selama ini dianggap pasar menjadi stabilisator ekonomi negara itu. Pasar khawatir, kondisi itu akan menyebabkan kebijakan fiskal Italia tidak terjaga sehingga memicu kejatuhan sektor perbankan di bursa saham Italia.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali indeks saham Bangladesh yang dipengaruhi oleh sentimen negatif dari data ekonomi AS. Terjadinya kesepakatan kenaikan limit utang dan dipertahankannya rating kredit AS di level AAA oleh Moody's dan Fitch tidak langsung membuat bursa saham AS naik. Perhatian investor kini beralih ke masalah perekonomian AS yang mengindikasikan kini sedang dalam kesulitan. Kongres AS sebelumnya juga telah memberikan persetujuan, sehingga batas waktu 2/8/11 untuk kenaikan batas utang tidak terlampaui dan AS selamat dari penurunan peringkat utang. Tetapi, saham-saham eksportir Asia turun karena adanya penilaian outlook negatif rating kredit AS. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Retail Sales (MoM) Aussie di level -0,1% dari sebelumnya -0,6%; dan Trade Balance Aussie di level US$ 2,05 miliar dari sebelumnya US$ 2,7 miliar.

Bursa saham Eropa mayoritas melemah yang dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap krisis keuangan di sebagian negara Eropa. Indikator risiko investasi di Italia dan Spanyol dimana angka credit default swap (CDS) nya meroket. CDS Italia berada di posisi tertinggi di level 359,62 yang sebelumnya berada di titik 332,82. Selain itu, risiko gagal bayar Spanyol juga naik. CDS-nya berada di titik tertinggi yaitu 407,06 (2/8) yang sebelumnya berada di level 390,33. Di tempat lainnya, Swiss National Bank (SNB) secara tak terduga memangkas suku bunga acuan hingga 0% yang merupakan reaksi atas penguatan nilai tukar Swiss franc yang dianggap safe haven untuk melindungi dari ketidakpastian krisis dunia. SNB mempersempit kisaran target 3 bulan Libor menjadi 0,00%-0,25% dari 0,00%-0,75% dan berniat membeli kembali surat utang yang beredar. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Service PMI Perancis tetap di level 54,2; Service PMI Jerman tetap di level 52,9; Retail Sales (MoM) Eropa di level 0,9% dari sebelumnya -1,3.

Bursa kawasan Amerika bergerak mix dengan pelemahan pada bursa kawasan Amerika Selatan. Penguatan pada Wall Street dipengaruhi technical rebound setelah mengalami koreksi beberapa hari. Meskipun data ekonomi belum cukup kuat mendukung kenaikan. Data ekonomi yang dirilis, yaitu MBA Mortgage Applications di level 7,1% dari sebelumnya -5%; Challenger Job Cuts (YoY) di level 59,4% dari sebelumnya 5,3%; ADP Nonfarm Employment Change di level 114 ribu dari sebelumnya 145 ribu; ISM Non Manufacturing Index di level 52,7 dari sebelumnya 53,3; dan Factory Orders (MoM) di level -0,8% dari sebelumnya 0,6%.

Pada perdagangan Kamis (4/8) diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.054-4.095 dan resistance 4.177-4.218. IHSG kembali membentuk candle negatif dimana sebelumnya membentuk candle hammer di posisi atas. MACD membentuk death cross dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai kembali turun menyentuh area overbought Meski IHSG ada potensi melemah namun, dengan reboundnya bursa saham AS dan mulai banyaknya saham-saham yang terkoreksi cukup dalam bisa menahan penurunan IHSG lebih dalam dan memungkinkan peluang buy on weakness . Cermati saham ADRO, ADMF, ALDO, MAPI, dan GJTL.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads