Indosurya: IHSG dalam Posisi Oversold

Indosurya: IHSG dalam Posisi Oversold

- detikFinance
Senin, 08 Agu 2011 08:00 WIB
Jakarta - IHSG melemah 200,44 poin (4,86%) di level 3.921,64. Total volume perdagangan BEI mencapai 10,3 miliar unit saham dengan nilai total Rp 9,93 triliun. Sebanyak 10 saham naik, 321 saham turun, dan 15 saham stagnan. LQ-45 turun 5,04% ke level 693,29 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,12% ke level 537,97.

Indeks sektoral saham mayoritas bergerak melemah diawali pada indeks pertambangan yang turun 6,17% ke level 3.111,75; indeks perkebunan turun 6,13% ke level 2.276,48; indeks perdagangan turun 5,34% ke level 537,73; indeks industri dasar turun 5,26% ke level 387,53; indeks properti turun 5,14% ke level 221,72; indeks infrastruktur naik 4,96% ke level 738,02; indeks aneka industri turun 4,74% ke level 1.225,86; indeks keuangan turun 4,37% ke level 522,31; indeks manufaktur turun 4,26% ke level 938,65; dan indeks konsumer turun 3,20% ke level 1.253,87. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 1,23 triliun dengan total pembelian asing Rp 2,27 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 3,51 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Tempo Scan Pacific (TSPC) naik Rp 175 ke Rp 2.950; Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 100 ke Rp 8.000; Bekasi Asri Pemula (BAPA) naik Rp 8 ke Rp 158; dan Prima Alloy Steel Universal (PRAS) naik Rp 2 ke level Rp 156. Suramnya pemulihan perekonomian global membuat awan hitam masih menyelimuti IHSG. Mayoritas saham pun diterjang badai profit taking yang membuat IHSG kehilangan kekuatannya untuk bertahan di area hijau. Saking derasnya terjangan badai membuat posisi IHSG kembali lagi ke akhir Juni 2011. Pendakian IHSG selama 1 bulan lebih yang mengantarkan IHSG menyentuh level tertinggi terbarunya di level 4.195,72 telah hilang dalam sehari. Pelemahan IHSG ini dipicu overreacting yang membuat panik pasar karena khawatir dengan situasi di AS dan Eropa pasca rilis data makro ekonomi. Sentimen positif dari dalam negeri berupa rilis GDP (YoY) sebesar 6,5% dan pertumbuhan industri pada 1H11 yang mencapai 6,2% tidak terlalu ditanggapi. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.119,88 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.866,72 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.921,64. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.538/US$ dari sebelumnya di Rp 8.483/US$ yang dipengaruhi imbas pelemahan IHSG yang terpengaruh dari penurunan bursa kawasan regional yang merespon pelemahan Dow Jones karena mengalami penurunan terbesar sejak 2008 lebih dari 500 poin. Pelemahan tersebut sebagai respons atas indikator ekonomi AS yang memburuk mulai dari indeks manufaktur, kepercayaan konsumen, hingga pertumbuhan ekonomi AS. Sentimen regional semakin terpuruk setelah Presiden ECB gagal meyakinkan pasar bahwa penyebaran krisis Eropa bisa dihentikan. ECB telah melakukan pembelian obligasi namun, hanya Irlandia dan Portugal. Padahal, di sisi lain pasar menganggap krisis utang sudah menyebar ke Italia dan Spanyol. Bila Italia dan Spanyol membutuhkan bailout maka nilainya jauh lebih besar dbandingkan Yunani.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Vietnam dan Laos yang dipengaruhi oleh respon negatif setelah kejatuhan dalam bursa saham AS, terburuk sejak pertengahan krisis di awal era 2009. Indeks DJIA ditutup merosot hingga 512,46 poin (4,31%), Indeks S&P500 turun 60,21 poin (4,78%), dan Nasdaq anjlok 136,68 (5,08%). Investor memilih keluar dari pasar modal untuk mengantisipasi terjadinya krisis akibat AS yang diprediksi masuk ke masa resesi. Apalagi ditambah krisis utang di Eropa yang belum tuntas sampai sekarang. Kondisi ekonomi global yang suram tersebut membuat otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menahan laju penguatan yen hingga Β₯4 triliun (US$ 50 miliar), terbesar dalam sejarah. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu GDP (YoY) Indonesia tetap di level 6,5%; CPI Taiwan (YoY) di level 1,3% dari sebelumnya 1,9%; AIG Construction Index Aussie di level 36,1 dari sebelumnya 35,8; Leading Index Jepang di
level 103,2 dari sebelumnya 99,4.

Bursa saham Eropa mayoritas melemah yang dipengaruhi oleh ketakutan investor terhadap krisis utang di Eropa dan perlambatan pemulihan ekonomi global. Imbal hasil obligasi pemerintah Italia naik ke rekor tertinggi. Sementara itu, untuk meredam perluasan krisis, ECB telah memutuskan untuk mulai membeli obligasi Italia pada Senin minggu depan dan secara terbuka juga telah setuju akan membeli obligasi Spanyol. Tetapi belum membuat komitmen untuk melakukannya. Pada Kamis (4/8/11) ECB telah mulai membeli obligasi Portugal dan Irlandia. Saat ini, ECB mempertahankan suku bunga 1,5% dan akan menyuntikkan likuiditas ke pasar dalam waktu 6 bulan ke depan. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Trade Balance Perancis di level US$ -5,6 miliar dari sebelumnya US$ -6,4 miliar; Industrial Production (YoY) Spanyol di level -2% dari sebelumnya -0,4%; Industrial Production (MoM) Italia tetap di level -0,6%; Industrial Production (MoM) Jerman di level -1,1% dari sebelumnya 0,9%; dan PPI Input (MoM) Inggris di level 0,6% dari sebelumnya 0,2%.

Bursa kawasan Amerika bergerak melemah kecuali indeks saham DJIA, bursa saham Meksiko, Panama, dan Brazil yang dipicu membaiknya data ketenagakerjaan meski situasi ekonomi belum kondusif. Di sisi lain, S&P menurunkan peringkat utang luar negeri AS menjadi AA+ dari sebelumnya AAA dan level A-1+ untuk rating jangka pendeknya yang dikarenakan situasi politik yang tak menentu, naiknya beban AS terhadap utang-utangnya, serta outlook yang negatif. Kesepakatan untuk memotong US$ 2,5 triliun dari defisit selama 10 tahun ke depan membuat rekor utang AS naik. Ratio utang/GDP mencapai 100% PDB AS di tahun 2010 sebesar US$ 14,53 triliun dengan naiknya limit utang senilai US$ 238 miliar hingga total menjadi US$ 14,58 triliun. Sebelumnya, bursa saham AS dilanda aksi jual yang menghempaskan DJIA hingga 512 poin. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Nonfarm payrolls di level 117.000 dari sebelumnya 46.000; Unemployment rate di level 9,1% dari sebelumnya 9,2%; Private nonfarm payrolls di level
154.000 dari sebelumnya 80.000; Building Permits (MoM) Kanada di level 2,1% dari sebelumnya 20,90%; dan Unemployment rate Kanada di level 7,2% dari sebelumnya 7,4%.

Pada perdagangan Senin (8/8) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.716-3.819 dan resistance 4.072-4.222. Setelah membentuk pola uptrend triangle dan three black crows , IHSG membentuk candle negatif besar yang menggambarkan besarnya kekuatan daya jual di pasar. Posisi candle telah menyentuh lower bollinger bands. MACD bergerak turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak turun mendekati area oversold . Akhirnya IHSG mengalami penurunan, begitupun juga dengan mayoritas saham. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk mulai kembali mengakumulasi saham-saham pilihan. Asing pun diperkirakan juga mulai masuk untuk ambil harga saham di bawah.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads