Meskipun perekonomian Indonesia sejauh ini menunjukkan tren positif namun pengaruh memburuknya pasar keuangan di AS dan Eropa bisa memicu aksi ambil untung lanjutan, terutama oleh investor asing. Penurunan peringkat utang AS ini sebagai respon atas persoalan krisis anggaran di AS akibat perseteruan antara politisi di AS.
Membengkaknya utang AS dan defisit ganda yang dihadapi negara tersebut telah memperburuk prospek ekonomi di negara adidaya tersebut. Penurunan peringkat utang AS tersebut diperkirakan akan berdampak pada perdagangan saham pekan ini di AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi pasar saham global yang kembali ditandai dengan meningkatnya resiko pasar tentunya akan kembali berimbas pada kondisi pasar domestik. Diperkirakan untuk jangka pendek, pasar saham Indonesia akan terkena dampak negatif.
Namun kondisi ini dinilai bersifat sementara, mengingat perekonomian Indonesia yang memiliki prospek pertumbuhan positif. Hingga kuartal kedua tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,5% sesuai dengan perkiraan banyak ekonom.
Hingga akhir tahun ini diperkirakan pertumbuhan akan bisa mencapai 6,6%-6,7%. Indonesia juga berpeluang mendapatkan kenaikan peringkat utang menjadi ‘investment grade’ tahun ini. Laba emiten juga masih bertumbuh rata-rata di atas 30% hingga paruh pertama tahun ini.
Investor disarankan tidak menyikapi penurunan peringkat utang AS dengan melakukan aksi jual yang massif. Pekan kemarin IHSG turun 5,06% ke posisi 3921,643, terimbas sentimen negatif dari kondisi pasar saham global.
Penurunan indeks komposit tersebut dipicu aksi jual asing yang mencapai Rp.1,4 triliun, mengikis habis nilai pembelian bersih asing selama dua pekan sebelumnya yang mencapai Rp.1,33 triliun. Secara technical, IHSG saat ini akan menguji level support di 3850 dan peluang penguatan terbatas di level 3940.
Apabila support 3850 tidak kuat menahan aksi jual, maka level tahanan berikutnya ada di 3780. Investor disarankan melakukan pembelian selektif bertahap ketika terjadi tekanan jual atas sejumlah saham unggulan yang berfundamental kuat seperti saham Grup Astra, perbankan, konsumsi, farmasi, infrastuktur dan aneka industri.
(ang/ang)










































