First Asia Capital: Risiko Perekonomian Global Naik

First Asia Capital: Risiko Perekonomian Global Naik

- detikFinance
Kamis, 18 Agu 2011 09:15 WIB
First Asia Capital: Risiko Perekonomian Global Naik
Jakarta - Perdagangan saham sebelum libur nasional memperingati Kemerdekaan RI, berlangsung bervariasi. Pelaku pasar terlihat mengurangi pembelian dan cenderung bermain cepat merealisasikan keuntungannya. IHSG bergerak dalam rentang 58 poin dan ditutup melemah 6,745 poin (0,17%) ke posisi 3953,277.

Pada perdagangan kemarin (17/8), bursa saham Asia umumnya ditutup bervariasi, dengan indeks Nikkei turun 0,55% dan indeks ST Singapura turun 0,15%. Sedangkan bursa Hongkong, Thailand, Vietnam, dna Malaysia ditutup menguat. Pertumbuhan ekonomi yang melambat di zona Euro dan AS telah mempengaruhi perekonomian negara Asia, terutama yang mengandalkan ekspornya ke AS dan Eropa, seperti Jepang dan Singapura.

Pertumbuhan ekonomi Jerman pada kuartal II 2011 hanya 0,1%, di bawah pertumbuhan 1Q11 sebesar 1,3%. Pertumbuhan ekonomi 2Q11 di zona Euro hanya 0,2% turun dari pertumbuhan pada 1Q11 sebesar 0,8%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil pertemuan pemimpin Prancis dan Jerman Selasa lalu juga dinilai mengecewakan pelaku pasar. Pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan program penalangan dana bagi penanganan krisis utang yang dihadapi sejumlah negara di kawasan tersebut.

Sementara itu indeks Dow Jones di Wall Street pada perdagangan tadi malam hanya menguat tipis 4,28 poin setelah pada sesi awal sempat menguat hingga 123,74 poin. Perekonomian AS yang masih menghadapi problem perlambatan pertumbuhan dan belum pastinya langkah The Fed mengucurkan program stimulus dana talangan tahap III (QE3) membuat prospek penguatan harga saham di Wall Street menjadi terbatas.

Tren perlambatan pertumbuhan ekonomi yang sedang terjadi di sejumlah kawasan ekonomi di dunia ini membuat resiko pasar masih relatif tinggi. Situasi yang kurang kondusif tersebut akan berpengaruh bagi pergerakan pasar saham ke depannya.

Meskipun perekonomian Indonesia sejauh ini masih mencatatkan pertumbuhan positif, dengan target 6,7% tahun depan, namun penurunan aktivitas ekonomi global sudah mulai terlihat dampaknya ke sejumlah negara di Asia.

Hal ini bisa dilihat dari nilai ekspor Singapura di luar komoditas minyak Juli lalu mengalami penurunan sebesar 2,8% (yoy), di bawah perkiraan ekonom yang memperkirakan tumbuh 4,6% (yoy). Mencermati masih tingginya resiko perekonomian global, IHSG diperkirakan akan bergerak dalam tren konsolidasi dengan kecenderungan bervariasi.

Saham-saham yang mengadalkan pada pasar domestik masih berpeluang menguat, seperti sektor konsumsi, perbankan dan infrastruktur. IHSG hari ini akan bergerak pada level support di 3925 dan resisten di 4010.

Perhatikan :
BBRI 6500–7000 Sell on Strength
BUMI 2650-2825 Trading Buy
KIJA 183-210 Buy on Weakness
ENRG 200-215 Buy
JSMR 4050-4300 Buy Break 4050
ITMG 45000-47550 Buy
UNVR 16400-17000 Sell on Strength
BKSL 200-220 Trading Buy
SMCB 1980-2100 Buy
ADRO 2300–2500 Buy on Weakness

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads