Indosurya: IHSG Masih Berat untuk Naik

- detikFinance
Senin, 22 Agu 2011 07:51 WIB
Jakarta - IHSG melemah 178,25 poin (4,43%) di level 3.842,75. Total volume perdagangan BEI mencapai 6,03 miliar unit saham dengan nilai total Rp 7,45 triliun. Sebanyak 19 saham naik, 291 saham turun, dan 26 saham stagnan. LQ-45 turun 5,05% ke level 679,20 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,42% ke level 529,63.

Indeks sektoral saham bergerak melemah diawali pada indeks aneka industri yang turun 8,44% ke level 1.204,40; indeks manufaktur turun 5,63% ke level 935,89; indeks properti turun 4,71% ke level 222,14; indeks pertambangan turun 4,28% ke level 2.961,76; indeks keuangan turun 4,28% ke level 507,37; indeks konsumer turun 4,27% ke level 1.266,08; indeks industri dasar turun 3,97% ke level 386,09; indeks perdagangan turun 3,96% ke level 521,70; indeks perkebunan turun 2,88% ke level 2.249,88; dan indeks infrastruktur turun 2,74% ke level 727,88. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah.

IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 1,74 triliun dengan total pembelian asing Rp 1,63 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 3,37 triliun. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Bintang Indonesia (MLBI) naik Rp 600 ke Rp 359.500; Central Omega Resources (DKFT) naik Rp 290 ke Rp 1.470; Tigaraksa Satria (TGKA) naik Rp 100 ke Rp 1.100; Sorini Agro Asia Corporindo (SOBI) naik Rp 50 ke level Rp 2.250; Garda Tujuh Buana (GTBO) naik Rp 44 ke level Rp 190; Skybee (SKYB) naik Rp 30 ke level Rp 690; Cahaya Kalbar (CEKA) naik Rp 20 ke level Rp 1.030; Sunson Textile Manufacture (SSTM) naik Rp 11 ke level Rp 210; dan Renuka Coalindo (SQMI) naik Rp 10 ke level Rp 275.

IHSG kembali alami aksi jual investor sebagai respon pelemahan tajam bursa saham AS dan Eropa setelah Morgan Stanley menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,9% di 2011 dan penurunan data-data ekonomi AS. Selain itu, aksi jual yang melanda saham-saham di IDX terjadi setelah Morgan Stanley memangkas estimasinya untuk MSCI Indonesia Index dimana diturunkan estimasinya untuk return IHSG pada Desember 2011 dari 13% menjadi 1%. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.019,80 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.823,37 (level terendahnya) menjelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.842,75. Volume perdagangan tercatat turun dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI melemah di level Rp 8.558/US$ dari sebelumnya di Rp 8.533/US$ yang dipengaruhi oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan negatifnya data AS dan Eropa. Intensitas risk aversion (penghindaran risiko) investor pun naik setelah pasar khawatir atas kondisi tersebut. Selain penurunan data-data ekonomi AS, permasalahan penyebaran utang Eropa juga masih cukup tinggi dimana para pembuat kebijakan Eropa belum menunjukkan progres untuk meratifikasi hasil kesepakatan pada pertemuan Brussel sebelumnya turut membuat kalangan investor semakin khawatir.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Sri Lanka, Vietnam, dan Filipina yang dipengaruhi respon negatif investor terhadap indikasi perlambatan ekonomi dunia dan kekhawatiran krisis utang Eropa akan merusak sistem perbankan. Investor merasa kepercayaan bisnis turun, pertumbuhan global melambat, serta situasi utang Eropa memburuk tanpa respon kebijakan yang terkoordinasi. Bahkan ada yang beranggapan bisa kembali ke krisis keuangan 2008. Investor juga dilanda rasa kurang kepercayaan pada kemampuan pembuat kebijakan untuk meredakan situasi. Saham keuangan Asia menurun menyusul koreksi saham bank Eropa untuk mengantisipasi memburuknya krisis utang di Eropa. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu All Industry Activity Index (MoM) Jepang di level 2,3% dari sebelumnya 1,8%; dan Credit Card Spending (YoY) New Zealand di level 7,3% dari sebelumnya 4,6%.

Bursa saham Eropa ditutup melemah kecuali Iceland dan Polandia dipicu kekhawatiran pendanaan bank-bank Eropa dan kelesuan ekonomi AS. Bank-bank Eropa terkena dampak dari eksposurnya, seperti yang dialami bank Barclays dan Societe Generale serta Commerzbank. Selain itu, perkiraan Morgan Stanley yang merevisi perkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2011 dan 2012 karena ekonomi global dinilai sudah nyaris resesi turut membuat investor khawatir. Saham energi anjlok karena harga minyak dunia melemah setelah prospek permintaan dunia juga turun. Data ekonomi yang dirilis, yaitu PPI (MoM) Jerman di level 0,7% dari sebelumnya 0,1%; dan Public Sector Net Borrowing Inggris di level US$ -2 milyar dari sebelumnya US$ 12,4 milyar.

Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Venezuela dipengaruhi imbas negatif dari pelemahan bursa saham Asia dan Eropa karena banyak investor yang khawatir dengan potensi resesi ekonomi. Pasar AS juga khawatir dengan pemimpin Uni Eropa yang tidak mampu mengatasi krisis, terlebih krisis likuiditas bank-bank Eropa. Kecemasan akan perekonomian global yang stagnan mendorong aksi jual pada bursa AS. Saham-saham bluechips pun turut terimbas seperti, Hewlett Packard Co, Caterpillar Inc, dan Alcoa Inc. Data ekonomi yang dirilis, yaitu CPI (MoM) Kanada di level 0,2% dari sebelumnya -0,7% dan GDP (YoY) Meksiko di level 3,3% dari sebelumnya 4,6%.

Pada perdagangan Senin (22/8) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.700-3.772 dan resistance 3.967-4.066. IHSG membentuk semi black marubozu . Posisi c andle kembali di bawah middle bollinger bands . MACD tertahan kenaikannya dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal menuju area overbought . Upaya IHSG untuk kembali naik masih tertahan oleh sentimen negatif dari Morgan Stanley. Apalagi penutupan bursa saham AS dan Eropa tidak begitu baik di akhir pekan kemarin sehingga membuat laju IHSG berat untuk naik. Diperkirakan IHSG bergerak flat dan diharapkan kemungkinan tekanan jual mulai berkurang

(qom/qom)