Indosurya: Investor Waspada Pelemahan Bursa Regional

Indosurya: Investor Waspada Pelemahan Bursa Regional

- detikFinance
Senin, 05 Sep 2011 07:35 WIB
Jakarta - IHSG melemah 2,65 poin (0,07%) di level 3.841,73. Total volume perdagangan BEI mencapai 5,28 miliar unit saham dengan nilai total Rp 3,2 triliun. Sebanyak 79 saham naik, 148 saham turun, dan 90 saham stagnan. LQ-45 turun 0,02% ke level 676,26 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,09% ke level 529,16.

Indeks sektoral saham bergerak melemah yang diawali pada indeks aneka industri yang turun 1,63% ke level 1.203,92; indeks pertambangan turun 0,74% ke level 2.883,57; indeks perdagangan turun 0,69% ke level 524,67; indeks properti turun 0,60% ke level 229,23; indeks perkebunan turun 0,14% ke level 2.247,99; dan indeks keuangan turun 0,11% ke level 507,12. Sementara penguatan pada indeks industri dasar yang naik 1,44% ke level 400,76; indeks konsumer naik 1,42% ke level 1.285,18; indeks manufaktur naik 0,40% ke level 950,64; dan indeks infrastruktur naik 0,26% ke level 711,34. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign sell
sebesar Rp 469,95 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,11 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,58 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 850 ke Rp 55.000; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 750 ke Rp 16.900; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 450 ke Rp 15.200; Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 300 ke level Rp 9.400; Chandra Asri Petrochemical (TPIA) naik Rp 250 ke level Rp 3.850; XL Axiata (EXCL) naik Rp 200 ke level Rp 5.050; Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 150 ke level Rp 8.050; Surya Citra Media (SCMA) naik Rp 150 ke level 6.000; dan International Nickel Indonesia (INCO) naik Rp 150 ke level Rp 3.650.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menutup perdagangan di akhir pekan yang sekaligus akhir perdagangan di bulan puasa, IHSG masih tetap berada di zona merah. Aksi jual masih menerpa saham-saham di BEI. Entah karena alasan terimbas pergerakan bursa saham Asia Pasifik yang mixed cenderung melemah, adanya kebutuhan cash saat liburan atau antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi bila pidato The Fed direspons negatif, yang jelas menjelang libur panjang kemarin, investor cenderung melakukan aksi jual dan kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya dimana di akhir perdagangan jelang libur lebaran justru menguat. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.847,25 (level tertingginya) di pertengahan sesi 2 dan juga sempat menyentuh level 3.800,48 (level terendahnya) di pertengahan sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.841,73. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI melemah di level Rp 8.578/US$ dari sebelumnya di Rp 8.546/US$ yang dipengaruhi oleh melemahnya bursa saham dan menguatnya US$ karena beredar kabar The Fed tidak akan mengeluarkan QE-3. Padahal Rupiah sempat menguat karena pasar masih mengekspektasikan positif pidato The Fed baik terhadap pemberian stimulus QE-3 maupun terhadap ekonomi AS. Salah 1 anggota The Fed memberikan kisi-kisi pidato yang mengatakan bahwa The Fed tetap memproyeksikan GDP AS 2011 di level 2-2,5%. Pasar menilai angka ini sangat optimistis sehingga peluang resesi double dip AS jadi berkurang. Akibatnya, peluang untuk pemberian stimulus QE-3 pun berkurang dan secara tak terduga, US$ menguat tajam.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Pakistan, India, dan Filipina yang dipengaruhi sikap investor yang kembali khawatir akan pemulihan ekonomi global pasca pelemahan bursa saham AS dan Eropa yang mengantisipasi data ketenagakerjaan AS. Penurunan juga dimotori pelemahan saham otomotif Jepang yang melaporkan penurunan penjualan. Penurunan ini menahan reli yang terjadi dari awal pekan kemarin karena respon positif investor yang berharap adanya perbaikan ekonomi AS pasca pidato The Fed di minggu sebelumnya dan rilis kenaikan data manufaktur China. China official PMI naik 50,9 pada Agustus dari 50,7 pada Juli. Namun demikian, penguatan yang terjadi pun tidak sepenuhnya didukung oleh data-data ekonomi karena beberapa data yang dirilis masih menunjukkan pelemahan. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu di Jepang dirilis data Unemployment rate di level 4,7% dari sebelumnya 4,6%; Retail sales (YoY) di level 0,7% dari sebelumnya 1,2%; Manufacturing PMI di level 51,9 dari sebelumnya 52,1; Industrial Production (MoM) di level 0,6% dari sebelumnya 3,8%. Di KorSel dirilis data Industrial Production (YoY) di level 0,6% dari sebelumnya 3,8%; Retail sales (MoM) di level 2,3% dari sebelumnya 1,4%; dan CPI (YoY) di level 5,3% dari sebelumnya 4,7%. Di New Zealand dirilis data Business confidence di level 34,4 dari sebelumnya 47,6. Di Aussie dirilis data New Home Sales di level -8% dari sebelumnya -8,7%; AIG Manufacturing Index di level 43,3 dari sebelumnya 43,4; dan Retail sales (MoM) di level 0,5% dari sebelumnya -0,1%.

Bursa saham Eropa ditutup melemah kecuali Portugal yang dipicu respons negatif investor terhadap pelemahan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis. Selain itu, juga dipicu oleh laporan New York Times yang mengatakan lembaga pengawas pasar hipotek AS sedang mempersiapkan gugatan ke bank-bank utama AS (Bank of America, JPMorgan Chase, Goldman Sachs dan Deutsche Bank) sehingga membuat investor khawatir bank-bank tersebut dipaksa untuk menanggulangi untuk hipotek yang gagal. Investor juga merespon negatif beberapa data ekonomi yang dirilis. Sama halnya seperti pergerakan bursa saham Asia dimana laju reli penguatan dari awal pekan akhirnya tertahan di akhir pekan. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Construction PMI Inggris di level 52,6 dari sebelumnya 53,5; Manufacturing PMI Inggris di level 49 dari sebelumnya 49,4; Manufacturing PMI Eropa di level 49 dari sebelumnya 49,7; Manufacturing PMI Jerman di level 50,9 dari sebelumnya 52; Manufacturing PMI Perancis di level 49,1 dari sebelumnya 49,3; GDP (QoQ) Jerman tetap di level 0,1%; dan Unemployment rate Eropa tetap di level 10%.

Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Panama dan Venezuela yang dipengaruhi respon negatif investor terhadap stagnannya data ketenagakerjaan. Investor makin khawatir AS akan masuk kembali ke masa resesi. Sebelumnya, bursa saham sempat naik pada pembukaan perdagangan atas ekspektasi adanya stimulus dari The Fed untuk mendorong pertumbuhan ekonomi namun, laporan terakhir dari DepNaKer menunjukkan The Fed membutuhkan kerja sama dari pihak lainnya dalam menyelesaikan masalah ekonomiAS. Saham-saham finansial kembali melemah. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Total Vehicle Sales di level 12,1 juta dari sebelumnya 12,2 juta; Nonfarm Payrolls di level 0 dari sebelumnya 85 ribu; Unemployment rate tetap di level 9,1%; Private nonfarm payrolls di level 17 ribu dari sebelumnya 156 ribu; Consumer confidence di level -49,1 dari sebelumnya -47; ISM manufacturing index di level 50,6 dari sebelumnya 50,9; dan Initial Jobless Claims di level 409 ribu dari sebelumnya 421 ribu.

Pada perdagangan Senin (5/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.783-3.812 dan resistance 3.859-3.877. IHSG membentuk dragonfly doji di posisi bawah yang umumnya mengindikasikan akan adanya pergerakan reversal. Posisi candle masih berada diantara lower bollinger bands dan middle bollinger bands. MACD masih bergerak landai dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih mencoba kembali reversal menuju area overbought. Berdasarkan data historis, IHSG dimungkinkan mengalami penguatan pada hari pertama setelah libur lebaran karena minat dan semangat investor untuk kembali bertransaksi saham pasca libur panjang. Akan tetapi, investor tetap mewaspadai data ekonomi global yang dirilis dan pergerakan bursa saham Asia pasca melemahnya bursa saham AS dan Eropa di akhir pekan karena stagnannya data ketenagakerjaan AS.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads