Indeks sektoral saham bergerak menguat yang diawali pada indeks aneka industri yang naik 1,83% ke level 1.225,94; indeks infrastrktur naik 1,76% ke level 723,86; indeks keuangan naik 1,05% ke level 512,43; indeks perkebunan naik 0,75% ke level 2.264,82; indeks perdagangan naik 0,53% ke level 527,47; indeks manufaktur naik 0,42% ke level 954,61; dan indeks industri dasar naik 0,34% ke level 402,12. Sementara pelemahan pada indeks konsumer yang turun 0,67% ke level 1.276,63; indeks pertambangan turun 0,43% ke level 2.871,06; dan indeks properti turun 0,13% ke level 228,93. Indeks MBX dan ISSI menguat namun, DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 59,78 miliar dengan total pembelian asing mendekati Rp 3 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,94 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra International (ASII) naik Rp 1.650 ke Rp 67.800; United Tractors (UNTR) naik Rp 800 ke Rp 24.400; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 600 ke Rp 55.600; H.M Sampoerna (HMSP) naik Rp 500 ke level Rp 31.500; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 400 ke level Rp 29.400; XL Axiata (EXCL) naik Rp 350 ke level Rp 5.400; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 350 ke level Rp 21.850; Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp 300 ke level 7.550; dan Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 300 ke level Rp 15.500.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.539/US$ dari sebelumnya di Rp 8.578/US$ yang dipengaruhi oleh rilis inflasi sebesar 0,93% (MoM), 2,69% (YTD), dan 4,79% (YoY) yang dinilai terendah lebih dari dua tahun. Investor juga memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga di 6,75% pada pertemuan 8 September mendatang. Akan tetapi, penguatan Rupiah sedikit tertahan karena pelemahan Euro terhadap US$ seiring kekhawatiran investor terhadap penyelesaian krisis utang di wilayah Eropa.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Pakistan, Sri Lanka, dan Vietnam yang dipengaruhi respon negatif investor terhadap kemungkinan resesi yang dialami AS dan melambatnya pertumbuhan ekonomi China dari 9% jadi 7%-8%. Investor melihat lapangan pekerjaan di AS tumbuh stagnan yang menandakan permintaan domestik AS sangat lemah sehingga mengakibatkan bursa saham global melemah, khususnya saham-saham yang berhubungan dengan ekspor. Begitu pun dengan saham pertambangan. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu AIG Service Index Aussie di level 52,1 dari sebelumnya 48,8; MI Inflation Gauge (MoM) Aussie di level -0,1% dari sebelumnya 0,3%; dan Trade Balance Indonesia di level US$ 1,36 milyar dari sebelumnya US$3,33 milyar.
Bursa saham Eropa ditutup melemah yang dipicu imbas pelemahan bursa saham Asia dan respon negatif investor yang masih khawatir terhadap terjadinya resesi di AS pasca rilis pelemahan data ketenagakerjaan AS. Selama akhir pekan kemarin tidak ada sentimen yang dapat meningkatkan minat investor untuk bertransaksi. Sentimen negatif tampaknya lebih besar menggerakkan pasar. Belum lagi kekhawatiran meluasnya krisis utang ke negara menengah seperti Italia sehingga membuat investor skeptis terhadap pemulihan ekonomi kawasan Eropa. Rilis data ekonomi yang keluar pun dinilai belum cukup kuat membawa bursa saham Eropa ke area hijau. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Service PMI Inggris di level 51,1 dari sebelumnya 55,4; Service PMI Perancis di level 56,8 dari sebelumnya 56,1; Service PMI Jerman di level 51,1 dari sebelumnya 50,4; Service PMI Eropa tetap di level 51,5; dan Retail sales (MoM) Eropa di level 0,2% dari sebelumnya 0,7%.
Bursa kawasan Amerika melemah kecuali kawasan AS yang tidak ada perdagangan karena public holiday . Sementara bursa kawasan Amerika Selatan masih bergerak di area negatif. Semalam tidak ada data ekonomi yang dirilis .
Pada perdagangan Selasa (6/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.789-3.807 dan resistance 3,877-3.930. IHSG membentuk inverted hammer di posisi bawah yang umumnya mengindikasikan masih berlanjutnya pergerakan reversal. Posisi c andle masih berada diantara lower bollinger bands dan middle bollinger bands. MACD masih bergerak landai dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih mencoba kembali bergerak menuju area overbought. IHSG masih dimungkinkan untuk kembali menguat. Akan tetapi, meskipun terdapat potensi penguatan akan bersifat terbatas karena sentimen yang beredar belum sepenuhnya positif. Dengan liburnya perdagangan saham di Wall Street memberi ruang bagi IHSG untuk bisa tetap bergerak di jalur hijau dan tidak terimbas pelemahan bursa saham AS. Namun demikian, investor tetap mewaspadai pergerakan bursa saham Asia dan pembukaan perdagangan Eropa yang bisa mempengaruhi laju IHSG. Cermati saham EXCL, BBRI, ASII, dan AKRA.
(qom/qom)











































