Indeks sektoral saham bergerak menguat yang diawali pada indeks pertambangan yang naik 1,49% ke level 2.913,75; indeks konsumer naik 0,95% ke level 1.288,79; indeks industri dasar naik 0,94% ke level 405,91; indeks manufaktur naik 0,91% ke level 963,27; indeks infrastruktur naik 0,83% ke level 729,84; indeks aneka industri naik 0,83% ke level 1.236,06; indeks perdagangan naik 0,73% ke level 531,34; indeks perkebunan naik 0,40% ke level 2.273,86; dan indeks properti naik 0,19% ke level
229,38. Sementara pelemahan pada indeks keuangan yang turun 0,23% ke level 511,23. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 402,35 miliar dengan total pembelian asing mendekati Rp 2,07 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,47 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 1.700 ke Rp 44.250; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.000 ke Rp 56.600; Astra International (ASII) naik Rp 700 ke Rp 68.500; Harum Energy (HRUM) naik Rp 550 ke level Rp 8.150; Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 375 ke level Rp 4.500; Hero Supermarket (HERO) naik Rp 300 ke level Rp 8.800; Indosat (ISAT) naik Rp 300 ke level Rp 5.800; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 300 ke level 22.150; dan Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) naik Rp 300 ke level Rp 5.200.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat di level Rp 8.573/US$ dari sebelumnya di Rp 8.539/US$ yang dipengaruhi oleh rilis inflasi sebesar 0,93% (MoM), 2,69% (YTD), dan 4,79% (YoY) yang dinilai terendah lebih dari dua tahun. Investor juga memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga di 6,75% pada pertemuan 8 September mendatang. Akan tetapi, penguatan Rupiah sedikit tertahan karena pelemahan Euro terhadap US$ seiring kekhawatiran investor terhadap penyelesaian krisis utang di wilayah Eropa.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Hong Kong, Pakistan, Thailand, dan India yang dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap penyelesaian krisis sovereign-debt di Eropa yang dapat mempengaruhi pemulihan global. Saham-saham perbankan dan pertambangan tercatat melemah. Akan tetapi, menguatnya indeks Hang Seng dan pembukaan pasar saham Eropa yang menguat mampu menahan penurunan lebih dalam. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu GDP KorSel di level 0,9% dari sebelumnya 1,3%; Home Loans (MoM) Aussie di level 1% dari sebelumnya 0,6%; dan suku bunga Aussie tetap di level 4,75%.
Bursa saham Eropa ditutup melemah kecuali Inggris, Swiss, dan Irlandia yang dipicu masih khawatirnya investor terhadap masalah meluasnya krisis utang di zona Eropa yang dapat mengganggu likuiditas pasar keuangan di kawasan tersebut. Apalagi muncul ketidakpastian yang berlanjut dari rencana bailout, terutama ke Yunani. Kecemasan juga timbul karena investor memiliki persepsi akan berulangnya krisis 2008 saat ini. Pelemahan juga dipicu karena naiknya yield pada obligasi Yunani, Portugal, Spanyol dan Italia, akibat keraguan terhadap para pemimpin Eropa untuk menghentikan penularan krisis utang. Padahal di awal perdagangan, bursa saham Eropa dibuka menguat, didukung saham telekomunikasi dan tambang. Data ekonomi yang dirilis diantaranya GDP (QoQ) Eropa tetap di level 0,2%; dan Factory Orders (MoM) Jerman di level -2,8% dari sebelumnya 1,8%. Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Meksiko, Argentina, Brazil, dan Chile. Pelemahan ini terjadi sehari pasca libur Labor Day yang dipicu kekhawatiran akan memburuknya krisis utang Eropa dan melambatnya pertumbuhan industri sektor jasa AS. HSBC Holdings Plc memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2 tahun ke depan dan menilai efektivitas dari setiap langkah stimulus akan terbatas. Perekonomian global diprediksi hanya tumbuh 2,6% di 2011 dan
2,8% di 2012 dimana di bawah perkiraan Juni lalu, yaitu masing-masing akan bertumbuh 3,4%. HSBC juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Eropa dan AS. Data ekonomi yang dirilis yaitu ISM Non Manufacturing Index di level 53,3 dari sebelumnya 52,7.
Pada perdagangan Rabu (7/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.808-3.849 dan resistance 3.910-3.931. IHSG membentuk hanging man setelah terjadinya inverted hammer yang mengindikasikan akan tertahannya penguatan IHSG. Posisi candle mendekati middle bollinger bands . MACD mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih mencoba kembali bergerak menuju area overbought namun, mulai tertahan. Sentimen global yang kurang kondusif akan kembali menekan laju IHSG. Apalagi kemarin asing tercatat net sell dan semalam bursa AS dan Eropa masih dalam area pelemahan. Investor tetap mewaspadai bila penguatan IHSG mulai berkurang.
(qom/qom)











































