Indeks sektoral saham bergerak mix dengan penguatan yang diawali pada indeks konsumer yang naik 1,02% ke level 1.329,16; indeks keuangan naik 0,81% ke level 529,18; indeks perdagangan naik 0,77% ke level 544,24; indeks manufaktur naik 0,13% ke level 991,86; indeks properti naik 0,09% ke level 233,43; dan indeks perkebunan naik 0,07% ke level 2.318,38. Sementara pelemahan pada indeks infrastruktur yang turun 1,02% ke level 747,12; indeks industri dasar turun 0,88% ke level 412,09; indeks pertambangan turun 0,65% ke level 3.016,21; dan indeks aneka industri turun 0,15% ke level 1.284,23. Indeks MBX menguat namun, DBX dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 545,43 miliar dengan total pembelian asing mendekati Rp 2,90 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 2,36 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Taisho Pharmaceutical Indonesia (SQBI) naik Rp 11.800 ke Rp 144.800; Multi Bintang Indonesia (MLBI) naik Rp 5.550 ke Rp 365.050; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 2.350 ke Rp 14.100; Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 1.700 ke level Rp 11.100; Delta Djakarta (DLTA) naik Rp 1.000 ke level Rp 126.000; H.M Sampoerna (HMSP) naik Rp 800 ke level Rp 32.800; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 750 ke level Rp 30.750; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 650 ke level 59.350; dan Indomobil Sukses Internasional (IMAS) naik Rp 400 ke level Rp 11.600.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI menguat tipis di level Rp 8.571/US$ dari sebelumnya di Rp 8.574/US$ dipicu keputusan RDG BI yang memutuskan untuk kembali menahan BI Rate di level 6,75%. Kebijakan ini diambil di tengah ketidakpastian situasi sistem keuangan dan ekonomi global. Rupiah juga sempat melemah karena kecenderungan investor yang sejauh ini mencari aman jelang pernyataan kebijakan moneter baik dari Eropa maupun AS. Data-data ekonomi global saat ini dinilai masih menunjukkan pelemahan. Salah satu sinyal perlambatan global muncul setelah Jerman dan Perancis merilis penurunan data neraca perdagangannya. Lalu, rilis penurunan pesanan mesin di Jepang.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali Hong Kong, China, Sri Lanka, dan Bangladesh yang dipengaruhi sikap menahan investor untuk bertransaksi di aset-aset berisiko. Bursa saham Asia bergerak antara apresiasi dan koreksi. Di 1 sisi investor bersikap negatif terhadap penurunan pekerjaan dan kenaikan pengangguran di Aussie; pelemahan data ekonomi di Jepang; serta kemungkinan China menaikkan suku bunga namun, di sisi lainnya investor berharap positif terhadap spekulasi AS akan berbuat lebih untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Pasar masih belum yakin stimulus lebih dari AS dapat memberi katalis berarti bagi pertumbuhan global. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Core Machinery Orders (MoM) Jepang di level -8,2% dari sebelumnya 7,07%; Machine Tool Orders (YoY) Jepang di level 15,3% dari sebelumnya 34,6%; Suku bunga KorSel tetap di level 3,25%; Employment change Aussie di level -9.700 dari sebelumnya 4.100; Trade Balance Taiwan di level US$ 2,62 milyar dari sebelumnya US$ 3,34 milyar; dan Unemployment rate Aussie di level 5,3% dari sebelumnya 5,1%.
Bursa saham Eropa ditutup menguat kecuali Yunani dan Polandia yang dipicu dipertahankannya suku bunga acuan Eropa dan ekspektasi positif terhadap langkah yang diambil ECB terhadap perubahan kebijakan dalam memulihkan ekonomi Eropa. Pasar sempat melemah karena ragu-ragu menjelang pidato Obama yang akan mengusulkan stimulus senilai US$300 miliar untuk penciptaan lapangan kerja. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Non-Farm Payrolls (QoQ) Perancis di level 0,2% dari sebelumnya 0,4%; Trade Balance Jerman di level US$ 10,1 milyar dari sebelumnya US$ 11,5 milyar; Trade Balance Perancis di level US$ -6,5 milyar dari sebelumnya US$ 5,4 milyar; suku bunga Inggris yang tetap di level 0,5%; dan suku bunga Eropa yang tetap di level 1,5%.
Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Panama dan Brazil yang dipicu respon negatif investor terhadap hasil pidato The Fed yang kembali tidak mengeluarkan kebijakan yang pasti yang telah ditunggu investor untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Investor kecewa dan bursa Wall Street pun langsung melorot. Padahal investor sudah lama menantikan pidato Bernanke tentang outlook ekonomi, yang diharapkan bisa memberikan petunjuk tentang adanya stimulus baru guna mendongkrak perekonomian AS yang sedang bergerak lesu. Data ekonomi yang dirilis yaitu Building permits (MoM) Kanada di level 6,3% dari sebelumnya 2,8%; Trade Balance Kanada di level US$ -44,8 milyar dari sebelumnya US$ 51,6 milyar; Initial Jobless claims AS di level 414.000 dari sebelumnya 412.000.
Pada perdagangan Jumat (9/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.958-3.982 dan resistance 4.025-4.045. IHSG membentuk spinning tops di posisi atas yang menandakan akan adanya reversal. Hal ini wajar karena setelah menguat kencang di hari sebelumnya, IHSG seperti biasa akan mengalami technical correction . Posisi candle sudah di atas middle bollinger bands namun, masih di bawah upper bollinger bands. MACD telah membentuk golden cross dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai melemah di sekitar area overbought. Respons negatif investor terhadap tidak keluarnya kebijakan AS ditandai dengan melemahnya bursa Wall Street. Hal ini bisa mempengaruhi perdagangan saham hari ini. Investor mewaspadai aksi profit taking yang kemungkinan masih akan berlanjut.
(qom/qom)











































