Indosurya: Profit Taking IHSG Berlanjut

Indosurya: Profit Taking IHSG Berlanjut

- detikFinance
Senin, 12 Sep 2011 07:38 WIB
Jakarta - IHSG melemah 6,89 poin (0,17%) di level 3.998,50. Total volume perdagangan BEI mencapai 3,92 miliar unit saham dengan nilai total Rp 2,29 triliun. Sebanyak 107 saham naik, 113 saham turun, dan 94 saham stagnan. LQ-45 turun 0,63% ke level 705,25 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,44% ke level 552,58.

Indeks sektoral saham bergerak mix dengan pelemahan yang diawali pada indeks industri dasar yang turun 1,06% ke level 407,71; indeks infrastruktur turun 0,69% ke level 741,99; indeks aneka industri turun 0,69% ke level 1.275,40; indeks keuangan turun 0,56% ke level 526,20; indeks pertambangan turun 0,43% ke level 3.003,15; indeks manufaktur turun 0,29% ke level 989; dan indeks perkebunan turun 0,29% ke level 2.311,67. Sementara penguatan pada indeks perdagangan yang naik 2,01% ke level 555,20; indeks properti naik 0,99% ke level 235,73; dan indeks konsumer naik 0,53% ke level 1.336,23. Indeks MBX dan ISSI melemah namun, DBX menguat. IHSG
mengalami net foreign buy sebesar Rp 82,87 miliar dengan total pembelian asing Rp 996,6 miliar dan total penjualan asing mencapai Rp 913,73 miliar.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 2.650 ke Rp 16.750; Sarana Menara Nusantara (TOWR) naik Rp 500 ke Rp 11.500; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 450 ke Rp 59.800; Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik Rp 400 ke level Rp 3.750; United Tractors (UNTR) naik Rp 400 ke level Rp 25.300; Fast Food Indonesia (FAST) naik Rp 350 ke level Rp 9.650; Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) naik Rp 250 ke level Rp 5.550; Sinarmas Multiartha (SMMA) naik Rp 225 ke level 4.625; dan Indospring (INDS) naik Rp 200 ke level Rp 4.550.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG akhirnya tidak kuat untuk melanjutkan penguatannya di akhir pekan ini seiring maraknya aksi profit taking terhadap saham-saham yang telah menguat dari awal pekan. Pelemahan bursa saham AS yang mempengaruhi pergerakan bursa saham regional berimbas pula pada pergerakan IHSG. Padahal di awal perdagangan, IHSG sempat naik tinggi. Pelemahan ini terutama karena IHSG telah menguat kencang di hari sebelumnya, sehingga wajar jika IHSG mengalami technical correction . Investor mengikuti aksi jual yang terjadi di bursa-bursa saham Asia. Saham-saham unggulan pun terkena aksi ambil untung dan melemah cukup dalam. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 4.028,48 (level tertingginya) di pertengahan sesi 2 dan juga sempat menyentuh level 3.991,99 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.998,50. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI masih di level Rp 8.571/US$ dari sebelumnya di Rp 8.574/US$ dipicu imbas memburuknya outlook ekonomi global yang berimbas negatif ke bursa saham sehingga menjadi tekanan bagi Rupiah. Kondisi itu, diperparah oleh pernyataan BI sebelumnya yang bernada negatif bagi Rupiah sehingga menghapuskan ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga. BI menyatakan akan menyesuaikan BI rate dengan suku bunga Fasilitas Bank Indonesia (Fasbi). Selain itu, kecemasan juga terlihat pada Presiden ECB yang mengkhawatirkan peluang pemangkasan outlook ekonomi zona Euro meski suku bunga acuan ditahan di level 1,5%. Di sisi lain, data pertumbuhan Jepang juga direvisi negatif dimana kuartal ke-3 jadi -1,5% dari sebelumnya -0,3% dan YoY juga direvisi turun jadi -2,1% dari sebelumnya -1,3%. Begitu juga dengan data industrial output dari China yang angkanya turun jadi 13,5% dari sebelumnya 14% sehingga menurunkan mata uang Asia yang berpengaruh pada depresiasi Rupiah.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali Taiwan, Aussie, dan Laos yang dipengaruhi rilis pesanan mesin dan GDP Jepang yang mengalami penurunan, laporan dari China terhadap inflasi tetap di atas 6% dan pertumbuhan produksi industrinya melambat. Investor makin khawatir akan melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Apalagi sejak menyebarnya krisis utang Eropa dan pemangkasan kredit AS oleh S&P. Investor melakukan aksi jual dan mengalihkan ke aset-aset yang lebih aman karena kekhawatiran atas perlambatan ekonomi mungkin menyeret indeks anjlok lebih dalam. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu GDP (QoQ) Jepang di level -0,5% dari sebelumnya -0,3%; GDP Price Index (YoY) Jepang tetap di level -2,2%; CPI (YoY) China di level 6,2% dari sebelumnya 6,5%; PPI (YoY) China di level 7,3% dari sebelumnya 7,5%; Household Confidence Jepang tetap di level 37; Fixed Asset Investment (YoY) China di level 25% dari sebelumnya 25,4%; Industrial Production (YoY) China di level 13,5% dari sebelumnya 14%; dan Retail Sales (YoY) China di level 17% dari sebelumnya 17,2%.

Bursa saham Eropa ditutup melemah yang dipicu imbas penurunan Wall Street sebelumnya dan penurunan bursa saham Asia. Pelemahan ini setelah The Fed gagal memberikan kejelasan dan tidak memberi kepastian pada cara yang dilakukan untuk bisa meredakan biaya pinjaman lebih lanjut. Obama juga mengatakan bahwa keadaan ekonomi saat ini sedang mengalami krisis nasional dan menguraikan paket pekerjaan yang luas dengan pemotongan pajak dan insentif lain yang dirancang untuk mendongkrak perekonomian. Investor terlihat menahan diri karena tidak mendapat kejelasan pasar. Sebelumnya Obama telah menawarkan paket stimulus untuk penyerapan tenaga kerja senilai US$447 miliar. Sedangkan dari data China dan Jepang tidak terlalu baik. Data ekonomi yang dirilis diantaranya CPI (MoM) Jerman di level 0% dari sebelumnya -0,1%; Industrial Production (MoM) Perancis di level 1,5% dari sebelumnya -1,5%; GDP (QoQ) Italia tetap di level 0,3%; PPI Input (MoM) Inggris di level -1,9% dari sebelumnya 0,5%; dan PPI Output (MoM) di level 0,1% dari sebelumnya 0,3%.

Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Panama yang dipicu respon negatif Investor terhadap ketidakjelasan The Fed dalam memacu pertumbuhan sehingga menutup rilis positif penawaran Obama terhadap paket stimulus US$447 miliar untuk mengurangi pengangguran. Apalagi Bank of America merencanakan PHK terhadap 40.000 di tahap I untuk restrukturisasi tenaga kerja dan rencana Goldman Sachs memangkas target harga saham untuk lembaga keuangan Eropa. Investor makin khawatir setelah pengunduran diri pejabat ECB sehingga memicu spekulasi krisis utang tidak akan tertangani dan mengisyaratkan anggota ECB terpecah dalam mengatasi masalah keuangan anggota Uni Eropa. Data ekonomi yang dirilis yaitu Employment Change Kanada di level -5.500 dari sebelumnya 7.100; Unemployment Rate Kanada di level 7,3% dari sebelumnya 7,2%; Wholesale Invesntories AS di level 0,8% dari sebelumnya 0,6%.

Pada perdagangan Senin (12/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.969-3.983 dan resistance 4.020-4.043. IHSG membentuk shooting star di posisi atas yang menandakan akan kembali adanya reversal. Posisi candle sudah di atas middle bollinger bands namun, masih di bawah upper bollinger bands. MACD masih berusaha naik dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai melemah di sekitar area overbought. Respons negatif investor terhadap imbas pelemahan bursa saham global dan adanya aksi profit taking dimungkinkan akan menekan laju pergerakan IHSG hari ini. Investor mewaspadai aksi profit taking yang kemungkinan masih akan berlanjut. Meski dalam kondisi yang serba tidak pasti namun, hal ini bisa dijadikan untuk mengambil posisi buy on weakness.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads