Indeks sektoral saham bergerak turun dengan pelemahan yang diawali pada indeks keuangan yang turun 2,88% ke level 486,48; indeks konsumer turun 2,79% ke level 1.245,83; indeks industri dasar turun 2,43% ke level 381,99; indeks manufaktur turun 2,31% ke level 921,94; indeks properti turun 2,05% ke level 223,95; indeks aneka industri turun 1,64% ke level 1.184,11; indeks pertambangan turun 1,63% ke level 2.857,32; indeks perdagangan turun 1,53% ke level 526,54; indeks perkebunan turun 1,35% ke level 2.245,03; dan indeks infrastruktur turun 1,12% ke level 706,73. Indeks MBX, ISSI, dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 94,81 milyar dengan total pembelian asing Rp 931,54 milyar dan total penjualan asing mencapai Rp 1,03 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Chandra Asri Petrochemical (TPIA) naik Rp 325 ke Rp 4.025; Mitra Adiperkasa (MAPI) naik Rp 275 ke Rp 5.200; Inti Agri Resources (IIKP) naik Rp 100 ke Rp 680; Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik Rp 100 ke level Rp 7.450; telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp 100 ke level Rp 7.450; Skybee naik Rp 80 ke level 680; Mandala Multifinance (MFIN) naik Rp 60 ke level Rp 1.100; Akbar Indo Makmur (AIMS) naik Rp 30 ke level Rp 230; dan Hotel Sahid Jaya Internasional (SHID) naik Rp 440 ke level 440.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.805/US$ dari sebelumnya di Rp 8.772/US$ dipicu oleh sikap skeptis investor terhadap hasil petemuan para MenKeu Uni Eropa dan AS di akhir pekan kemarin. Padahal, pekan lalu pasar berharap Eropa akan menghasilkan keputuan yang signifikan untuk mengurangi krisis. Akan tetapi, Eropa lagi-lagi hanya memberikan janji dan komitmen tanpa adanya kebijakan yang jelas dan detil. Eropa hanya berkomitmen untuk menyelesaikan krisis dengan memperkuat sistem perbankan tanpa memberikan langkah konkretnya. Kondisi itu, diperburuk oleh kekalahan The Free Democratic Party (Partainya Merkel, Kanselir Jerman) dalam pemilu lokal di Jerman sehingga membuat pasar ragu apakah Eropa bisa mencapai kesepakatan untuk mengatasi krisis utangnya jika Angela Merkel tidak bisa berkuasa. Pasar khawatir, rencana Jerman untuk menolong Eropa akan terhalang.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Sri Lanka, Filipina, Vietnam, dan Bangladesh sementara Nikkei libur. Pergerakan dipicu karena pasar menilai pembuat kebijakan Eropa gagal memperkenalkan rencana untuk mengatasi krisis utang di kawasan Eropa. Kondisi ini meredupkan prospek pendapatan bagi bank, eksportir dan produsen bahan baku. Awalnya investor berharap respon yang positif terhadap krisis utang Eropa tetapi sebaliknya, apa yang mereka dapatkan hanya ketidakpastian yang lebih besar dan tidak ada yang diselesaikan. Sebuah laporan dari Westpac Banking Corp (WBC) dan McDermott Miller Ltd menunjukkan kepercayaan konsumen Selandia Baru tidak berubah pada Q3-11. Selain itu, penurunan juga dipicu setelah kepala keuangan dari wilayah Euro pekan kemarin mengatakan bahwa krisis utang 18 bulan, tidak membuka kemungkinan pemotongan pajak atau pengeluaran ekstra untuk memacu ekonomi yang di ambang stagnasi. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Westpac Consumer Sentiment Index New Zealand tetap di level 112.
Bursa saham Eropa ditutup melemah yang dipicu kekalahan pemilihan regional Kanselir Jerman Angela Merkel dan pembatalan kunjungan ke AS oleh PM Yunani George Papandreou untuk menghadiri pertemuan kabinet sehingga menimbulkan kekhawatiran atas wilayah krisis utang. Pelemahan juga merespon penurunan bursa saham Asia yang menilai para MenKeu tidak bisa memecahkan kesepakatan penanganan krisis utang zona euro dalam pertemuan akhir pekan kemarin. Pasar menilai ada muatan poilitis. Para politisi harus melihat krisis datang dan berbuat lebih banyak, tapi masalahnya adalah sikap mereka yang seolah-olah tidak proaktif. Sektor perbankan, yang memiliki eksposur signifikan ke negara-negara zona Euro adalah salah 1 yang paling terpukul. Kurangnya tindakan tegas dari para MenKeu Uni Eropa yang bertemu di Polandia akhir pekan kemarin dan pencegahan penularan di zona euro tengah menjadi konsen pasar saat ini. Selanjutnya Uni Eropa dan IMF akan mengadakan konferensi dengan Athena untuk membahas bagaimana negara ini berencana untuk memastikan talangan defisit anggaran sedang berada di jalurnya dengan reformasi dalam rangka untuk menerima bantuan tahap berikutnya bulan depan. Data ekonomi yang dirilis diantaranya House Price Index (MoM) Inggris di level 0,7% dari sebelumnya -2,1%; dan Industrial New Orders (YoY) Spanyol di level 1,5% dari sebelumnya 5%.
Bursa kawasan Amerika melemah yang dipicu penurunan saham-saham perbankan seiring dengan kekhawatiran akan krisis utang di Eropa. Investor cemas, Yunani akan gagal memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk mendapat bantuan finansial. Sentimen negatif lainnya adalah Moody's yang pesimis pada paket penghematan Italia. Moody's juga memprediksi akan memberikan credit negative untuk regional Italia dan pemerintah lokal karena akan meningkatkan tekanan pada anggaran daerah yang sudah meregang. Presiden Obama sedang berencana untuk mengurangi defisit publik dengan menyediakan tabungan sebesar $ 3 triliun pada 10 tahun mendatang sebagai bagian dari kesepakatan yang disahkan pada awal Agustus untuk menaikkan batas utang federal atau dikenal dengan 'Buffett Rule'. Data ekonomi yang dirilis yaitu Housing Market Index di level 14 dari sebelumnya 15.
Pada perdagangan Selasa (20/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.682-3.718 dan resistance 3.813-3.871. IHSG hampir membentuk black marubozu yang memperlihatkan besarnya tekanan jual di pasar. Posisi candle kembali berada di sekitar lower bollinger bands. MACD gagal mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal menjauhi area oversold . IHSG yang memiliki potensi mengalami penguatan gagal mewujudkan kenaikan tersebut. Belum banyaknya sentimen positif membuat IHSG rentan untuk kembali melemah meski terbatas. Tetapi, dengan penurunan saham-saham tersebut membuat valuasi harga kian murah dan bisa dijadikan sarana akumulasi sebagai antisipasi keluarnya laporan Q3-11.
(qom/qom)











































