Indeks sektoral saham bergerak turun dengan pelemahan yang diawali pada indeks konsumer yang turun 2,05% ke level 1.211,42; indeks manufaktur turun 1,89% ke level 902,28; indeks aneka industri turun 1,86% ke level 1.165,17; indeks perdagangan turun 1,82% ke level 513,03; indeks industri dasar turun 1,66% ke level 375,04; indeks keuangan turun 1,55% ke level 481,18; indeks pertambangan turun 1,43% ke level 2.812,26; indeks properti turun 1,43% ke level 219,89; indeks perkebunan turun 0,96% ke level 2.216,67; dan indeks infrastruktur turun 0,19% ke level 705,24. Indeks MBX, ISSI, dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 585,44 milyar dengan total pembelian asing Rp 1,15 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,74 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 700 ke Rp 6.700; Multi Prima Sejahtera (LPIN) naik Rp 200 ke Rp 2.500; Telekomunikasi Indonesia (TLKM) naik Rp 100 ke Rp 7.550; Surya Citra Media (SCMA) naik Rp 100 ke level Rp 5.600; Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik Rp 100 ke level Rp 3.500; Bank Danamon (BDMN) naik Rp 50 ke level 4.900; Barito Pacific (BRPT) naik Rp 50 ke level Rp 990; Modern Internasional (MDRN) naik Rp 50 ke level Rp 2.525; dan Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) naik Rp 50 ke level 1.050.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.875/US$ dari sebelumnya di Rp 8.980/US$ dipicu oleh adanya intervensi BI dan aksi investor yang tidak ingin membuat pelemahan Rupiah terlalu dalam. Hal ini untuk mengantisipasi adanya pertemuan FOMC. Pasar masih berharap, The Fed akan mengeluarkan kebijakan baru yang akan menstimulasi perekonomian AS dan berekspektasi The Fed akan mengeluarkan kebijakan Operation Twist (kebijakan yang pernah diambil oleh The Fed pada 1969). Dengan kebijakan ini, The Fed menjual obligasi miliknya yang bertenor jangka pendek dan di sisi lain membeli obligasi pemerintah AS bertenor jangka panjang. Kebijakan ini diharapkan bisa mempertahankan suku bunga rendah ke depannya. Sementara Rupiah masih tertahan apresiasinya seiring kecemasan pasar terhadap capital outflow karena penurunan bursa saham Indonesia.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak mix dengan pelemahan bursa saham Hang Seng, Sri Lankan, Filipina, dan India. Pergerakan dipicu sikap optimisme pasar menjelang berakhirnya pertemuan 2 hari The Fed yang diharapkan memiliki kebijakan untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi AS dan optimisme ekonomi China bisa menahan perlambatan global. Suatu Indeks Conference Board memberi sinyal adanya kelanjutan ekspansi ekonomi hingga akhir tahun ini sehingga bisa meredam sentimen negatif dari ulasan IMF yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Unemployment rate Korsel di level 3,1% dari sebelumnya 3,3%; Trade balance Jepang di level US$ 290 miliar dari sebelumnya US$ 130 miliar; All industry activity index (MoM) di level 0,4% dari sebelumnya 2,3%; dan MI Leading Index (MoM) Aussie di level 0,5% dari sebelumnya 0,1%.
Bursa saham Eropa ditutup melemah kecuali Portugal, Iceland, Yunani, dan Denmark yang dipicu aksi investor yang lebih memilih mengamankan portofolionya menjelang pertemuan hari ke-2 The Fed sehingga membuat mayoritas indeks bursa saham Eropa terjerembab ke zona negatif. The Fed akan mendorong pembiayaan dalam jangka panjang senilai US$2,8 triliun untuk membeli obligasi sehingga mendorong pembiayaan hipotek tanpa memicu kenaikan harga konsumen. Pelaku pasar juga menilai Yunani sedang diperas oleh pasar dan Eropa tidak mengelola krisis dengan cepat dan tegas sebagaimana mestinya. Pemerintah Yunani dikabarkan akan membuat pengumuman tentang langkah-langkah penghematan yang dibahas dengan pemberi pinjaman internasional untuk menyelamatkan negara dari kebangkrutan. Lembaga pemberi pinjaman mendorong Yunani untuk mempercepat penghematan dan reformasi yang dibutuhkan untuk mencairkan β¬ 8 miliar dari dana talangan bulan depan. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Consumer confidence Inggris di level 48 dari sebelumnya 49.
Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Panama dan Venezuela yang dipicu sikap skeptis investor terhadap hasil pertemuan FOMC yang telah berlangsung selama 2 hari kemarin. The Fed mengumumkan akan meluncurkan program pembelian obligasi AS senilai US$400 miliar. Keputusan ini justru meragukan pasar dengan langkah solusi The Fed karena dianggap solusi tersebut tidak berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Kebijakan yang dikenal dengan Operation Twist ini juga pernah dilakukan pada tahun 60 an. Data ekonomi yang dirilis yaitu CPI (MoM) Kanada di level 0,3% dari sebelumnya 0,2%; MBA Mortgage Applications di level 0,6% dari sebelumnya 6,3%; Existing home sales di level 5,03 juta dari sebelumnya 4,67 juta; dan penentuan suku bunga AS tetap di level 0,25%.
Pada perdagangan Kamis (22/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.578-3.612 dan resistance 3.788-3.880. IHSG kembali membentuk candle negatif dimana sebelumnya membentuk candle hammer . Posisi candle kembali berada di sekitar lower bollinger bands. MACD gagal mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali menyentuh area oversold . IHSG masih rawan melanjutkan pelemahannya karena tidak adanya sentimen positif yang signifikan mampu mengangkat indeks. Pembukaan bursa Asia yang negatif pun juga diperkirakan akan memberatkan IHSG untuk menuju area positif.
(qom/qom)











































