Indeks sektoral saham bergerak turun dengan pelemahan yang diawali pada indeks keuangan yang turun 10,40% ke level 431,14; indeks industri dasar turun 10,26% ke level 336,57; indeks pertambangan turun 9,66% ke level 2.540,58; indeks aneka industri turun 9,15% ke level 1.058,61; indeks manufaktur turun 8,63% ke level 824,38; indeks infrastruktur turun 7,94% ke level 649,24; indeks perkebunan turun 7,61% ke level 2.048; indeks konsumer turun 7,19% ke level 1.124,34; indeks properti turun 7,11% ke level 204,25; dan indeks perdagangan turun 6,99% ke level 477,17. Indeks MBX, ISSI, dan DBX melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 825,97
milyar dengan total pembelian asing Rp 5,33 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 6,15 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 100 ke Rp 6.800; Indonesia Paradise Property (INPP) naik Rp 60 ke Rp 250; Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 50 ke Rp 9.350; Elang Mahkota Teknologi (EMTK) naik Rp 50 ke level Rp 2.250; Sorini Agro Asia Corporindo (SOBI) naik Rp 25 ke level Rp 2.325; Apac Citra Centerex (MYTX) naik Rp 7 ke level 170; dan Jakarta Kyoei Steel Works (JKSW) naik Rp 5 ke level Rp 120.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.695,94 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.360,19 (level terendahnya) menjelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.369,14. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik yang dipicu adanya transaksi di pasar negosiasi oleh beberapa saham yang bernilai total Rp 3,83 triliun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy.
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.988/US$ dari sebelumnya di Rp 8.875/US$ dipicu overview investor yang negatif terhadap pemulihan ekonomi sehingga mendorong akumulasi US$ dalam jumlah besar. Tetapi, adanya intervensi BI kembali membuat pelemahan Rupiah terlalu dalam. Investor merespon negatif hasil pertemuan FOMC dan diperburuk oleh penundaan pendanaan pemerintah AS oleh Kongres. Kongres menolak rancangan UU yang memungkinkan pemberian dana bagi pemerintah agar terhindar dari government shutdown. Kondisi ini juga menunjukkan partai politik di AS belum 1 visi dalam upaya penyelamatan ekonomi dari ancaman resesi. Bahkan beberapa anggota Partai Republik tetap menginginkan pemangkasan anggaran yang signifikan. Kondisi ini memicu ancaman resesi global sehingga investor berburu US Treasury sebagai aset safe haven dan terlikuid di dunia. Rupiah juga melemah dipicu oleh data manufaktur China versi HSBC dimana data awal September 2011 dirilis turun jadi 49,4 dari sebelumnya 49,9.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali New Zealand, Vietnam, Bangladesh, dan Laos yang dipicu kekhawatiran pasar terhadap memburuknya ekonomi. Belum lagi setelah IMF menurunkan target pertumbuhan global termasuk negara-negara emerging market di Asia. Bursa saham Hong Kong turun karena pengumuman pelemahan sektor manufaktur China di bulan ini. Selain itu, saham-saham pengembang pun memimpin penurunan karena kabar pemerintah China akan membatasi sumber pendanaannya. Pasar bereaksi negatif terhadap pernyataan The Fed yang hasil akhirnya terhadap perekonomian tetap di bawah harapan semuanya. Kondisi yang sama juga terjadi di pasar valas dimana mayoritas mata uang Asia terdepresiasi yang dipimpin won Korsel dan dolar Taiwan. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu GDP (QoQ) New Zealand di level 0,1% dari sebelumnya 0,9% .
Bursa saham Eropa ditutup melemah yang dipicu imbas pelemahan bursa saham Asia dan ekspektasi negatif investor terhadap pemulihan ekonomi global. Tidak hanya ketidakpastian politik, investor melihat fakta ekonomi yang melambat. Begitu pun dengan banyaknya tekanan di pasar keuangan China sebagai negara yang tumbuh cukup pesar. Sektor pertambangan mengalami tekanan seiring dengan penurunan harga logam yang dipicu kekhawatiran turunnya permintaan industri logam. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Manufacturing PMI Perancis di level 47,3 dari sebelumnya 49,1; Service PMI Perancisdi level 52,5 dari sebelumnya 56,8; Manufacturing PMI Jerman di level 50 dari sebelumnya 50,9; Service PMI Jerman di level 50,3 dari sebelumnya 51,1; Manufacturing PMI Eropa di level 48,4 dari sebelumnya 49; Service PMI Eropa di level 49,1 dari sebelumnya 51,5; dan Industrial New Orders (MoM) di level -2,1% dari sebelumnya -0,9%.
Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Panama yang dipicu sikap skeptis investor terhadap pembuat kebijakan yang gagal untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Saham energi dan material mengalami tekanan karena permintaan melemah. Sinyal perlambatan di Cina juga membuat kekhawatiran. Begitupun dengan saham keuangan yang anjlok karena merespon pemotongan rating kredit oleh Moody's di Bank of America, Wells Fargo dan Citigroup di tengah kekhawatiran bahwa pemerintah tidak akan membailout nya. Moody's memangkas rating utang jangka panjang Bank of America menjadi Baa1 dari A2 dan rating utang jangka pendek ke Prime 2 dari Prime 1 serta juga memangkas rating utang jangka pendek Citigroup menjadi prime 2 dari Prime 1. Hal ini menegaskan rating utang jangka panjang Citigroup A3 dan jangka pendek Premier 1 pada Citibank NA. Wells Fargo juga dipotong satu tingkat ke A2. Data ekonomi yang dirilis yaitu Initial Jobless Claims tetap di level 423 ribu; Consumer confidence di level -19 dari sebelumnya -17; dan House Price Index (MoM) di level 0,8% dari sebelumnya 0,7%.
Pada perdagangan Jumat (23/9) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.288-3.309 dan resistance 3.590-3.810. IHSG membentuk black marubozu meneruskan pelemahan sebelumnya. Posisi candle telah melewati lower bollinger bands. MACD bergerak melemah dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic telah menembus area oversold . Jika dilihat dari sentimen yang ada, IHSG masih akan terpengaruh oleh pelemahan bursa-bursa saham global namun, dari sisi teknikal kondisi pasar memang sudah kelewat oversold dan seharusnya bisa menjadi pemicu akumulasi saham-saham unggulan yang jauh terdiskon. Penurunan yang terjadi bukan disebabkan oleh penurunan kinerja emiten sehingga masih berpeluang untuk dikoleksi.
(qom/qom)











































