Indeks sektoral saham bergerak mix dengan penguatan yang diawali pada indeks konsumer yang naik 3,24% ke level 1.204,24; indeks properti naik 1,54% ke level 205,86; indeks perkebunan naik 1,43% ke level 2.044,69; indeks manufaktur naik 0,92% ke level 886,68; indeks perdagangan naik 0,69% ke level 493,08; dan indeks pertambangan naik 0,08% ke level 2.487,20. Sementara pelemahan dialami indeks aneka industri yang turun 0,78% ke level 1.143,42; indeks industri dasar turun 0,48% ke level 362,49; indeks keuangan turun 0,40% ke level 466,60; dan indeks infrastruktur turun 0,22% ke level 694,38. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net
foreign buy sebesar Rp 7,59 triliun dengan total pembelian asing Rp 9,03 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,45 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.000 ke Rp 52.500; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 800 ke Rp 16.500; Smart (SMAR) naik Rp 550 ke Rp 6.750; Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 500 ke 16.800; Hexindo Adiperkasa (HEXA) naik Rp 250 ke level Rp 7.400; Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 200 ke level Rp 5.050; Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik Rp 200 ke level Rp 3.700; Asahimas Flat Glass (AMFG) naik Rp 200 ke level 7.750; dan Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) naik Rp 200 ke level Rp 4.925.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.579,66 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.523,17 (level terendahnya) menjelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.549,03. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.823/US$ dari sebelumnya di Rp 8.925/US$ dipicu kembalinya intervensi dari BI di tengah kekhawatiran sentimen global dan regional. Kekhawatiran akan sentimen global, terindikasi pada pelemahan mayoritas bursa saham regional Asia. Pasar melihat, meski IHSG ditutup positif namun, pergerakannya cenderung terbatas karena kekhawatiran investor akan situasi global. Di sisi lain, apresiasi Rupiah karena intervensi BI setidaknya berhasil meredam memburuknya situasi eksternal.
Dari kawasan Asia Pasifik, lembaga pemeringkat internasional telah men-downgrade peringkat utang New Zealand. Pemangkasan peringkat berasal dari 2 lembaga pemeringkat yaitu S&P dan Fitch Rating. S&P mendowngrade New Zealand dari AA+ ke level A. Dari kawasan Eropa, pasar kembali diterpa sentimen negatif atas ketidakpastian tambahan dana The European Financial Stability Facility (EFSF). Padahal, sebelumnya beredar wacana dana itu akan ditambah menjadi β¬2 trilun dari level saat ini β¬440 miliar. Wacana itu kian tidak pasti setelah Menteri Ekonomi Jerman enggan untuk menambah kapasitas dana itu meskipun, Parlemen Jerman sudah menyatakan kesanggupan menambah dana tersebut. Bahkan MenEk tersebut mengatakan, tambahan dana EFSF itu akan dibahas pada pertemuan seluruh negara anggota Uni Eropa pada 13 Oktober mendatang sehingga memunculkan kecemasan apakah Yunani akan dibailout atau tidak.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak mix dengan pelemahan pada bursa saham Nikkei, Hong Kong, India, dan Thailand. Pergerakan ini dipicu 2 lembaga pemeringkat internasional, S&P dan Fitch Ratings menurunkan peringkat utang New Zealand berkaitan dengan memburuknya posisi utang luar negeri dan besarnya biaya untuk pemulihan pasca gempa bumi. Fitch memangkas peringkat utang 1 level menjadi "AA". Kemudian, S&P memangkas peringkat utang valas jangka panjang Selandia Baru dari "AA+" menjadi "AA" dan peringkat utang lokal jangka panjang dari "AAA" menjadi "AA+". Investor kembali khawatir akan pemulihan ekonomi global setelah keluarnya data-data ekonomi, terutama dari Eropa dimana Retail Sales Jerman Agustus melemah, produksi industri di Jepang tumbuh di bawah prediksi ekonom, dan manufaktur China menyusut untuk bulan ketiga. Penurunan juga dipicu pelemahan saham eksportir dan aksi Credit Suisse Group AG yang memangkas rating pada saham menjadi netral dari outperform, karena khawatir tentang tata kelola perusahaan. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Housing Starts (YoY) Jepang di level 14% dari sebelumnya 21,2%; Manufacturing PMI Jepang di level 49,3 dari sebelumnya 51,9; Unemployment rate Jepang di level 4,3% dari sebelumnya 4,7%; Household.
Bursa saham Eropa ditutup melemah kecuali Iceland yang dipicu kembali merebaknya isu tertundanya penambahan dana EFSF. Di sisi lain, Bank Sentral Spanyol (BoS) akan mengumumkan mengambil alih setidaknya 3 bank umum gagal untuk menarik modal swasta di bawah program pemerintah yang bertujuan memulihkan kepercayaan sistem perbankan di negara tersebut. BoS diperkirakan menyuntikkan modal ke 2 bank umum di wilayah timur Catalonia, Caixa Catalunya dan Unnim dan bank NovaCaixaGalicia, di wilayah utara Galicia dan mungkin bank lainnya. Sentimen negatif juga datang dari kinerja perusahaan pada Q3 yang dinilai sangat rendah seiring krisis yang terjadi di Eropa. Adanya persetujuan penambahan dana Jerman ke EFSF pun terbukti tidak cukup untuk mempertahankan momentum positif di pasar. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Gfk Consumer Confidence Inggris di level -30 dari sebelumnya -31; Retail Sales (MoM) Jerman di level -2,9% dari sebelumnya 0,3%; Consumer Spending (MoM) Perancis di level -0,2% dari sebelumnya 0,9%; Unemployment (QoQ) Italia di level 8% dari sebelumnya 8,1% dan (MoM) di level 7,9% dari sebelumnya 8%; CPI (YoY) Eropa di level 3% dari sebelumnya 2,5%; dan Unemployment rate Eropa di level 10%.
Bursa kawasan Amerika menguat kecuali bursa saham Panama yang dipicu laporan manufaktur China yang melemah dan isu krisis utang Eropa. Investor juga masih diliputi rasa kekhawatiran terhadap pertumbuhan global, apalagi data ekonomi dari negara-negara besar di Eropa belum sepenuhnya cukup baik. Data ekonomi yang dirilis yaitu GDP (MoM) Canada di level 0,3% dari sebelumnya 0,2%; Personal Income (MoM) AS di level -0,1% dari sebelumnya 0,1%; Personal Spending (MoM) di level 0,2% dari sebelumnya 0,7%; Chicago PMI di level 60,40 dari sebelumnya 56,50; dan Michigan Consumer Sentiment Index di level 59,4 dari sebelumnya 57,8.
Pada perdagangan Senin (3/10) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.494-3.521 dan resistance 3.578-3.607. IHSG membentuk three white soldier . Posisi candle mulai menjauhi lower bollinger bands. MACD masih mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mencoba reversal dari area oversold meski masih sedikit tertahan. IHSG akhirnya menguat selama 4 hari perdagangan. Tetapi, penguatan ini belum dapat menyamai posisi tertinggi IHSG pada 22 September, saat terjadi penurunan. Kembali melemahnya bursa saham AS dan Eropa di akhir pekan dan adanya spekulan yang memanfaatkan kondisi tersebut diperkirakan akan menahan laju penguatan IHSG. Diharapkan rilis inflasi bisa direspon positif sehingga mampu menahan pelemahan, bila terjadi.
(qom/qom)











































