Indosurya: Profit Taking Bisa Hambat Laju IHSG

Indosurya: Profit Taking Bisa Hambat Laju IHSG

- detikFinance
Senin, 10 Okt 2011 07:12 WIB
Jakarta - IHSG melemah 17,43 poin (0,51%) di level 3.425,68. Total volume perdagangan BEI mencapai 5,17 triliun unit saham dengan nilai total Rp 4,56 triliun. Sebanyak 73 saham naik, 155 saham turun, dan 75 saham stagnan. LQ-45 turun 0,56% ke level 600,23 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,49% ke level 472,21.

Indeks sektoral saham bergerak melemah dengan penurunan yang diawali pada indeks industri dasar yang turun 2,53% ke level 341,57; indeks infrastruktur turun 2,23% ke level 660,50; indeks perkebunan turun 1,63% ke level 1.873,04; indeks keuangan turun 0,76% ke level 450,19; indeks properti turun 0,72% ke level 196,34; indeks pertambangan turun 0,70% ke level 2.369,34; dan indeks konsumer turun 0,05% ke level 1.202,81; Sementara indeks aneka industri naik 2,92% ke level 1.817,83; indeks perdagangan naik 0,82% ke level 482,48; dan indeks manufaktur naik 0,30% ke level 869,30. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 381,39 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,79 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,40 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra Internasional (ASII) naik Rp 2.550 ke Rp 63.250; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 1.100 ke Rp 12.500; Bank Mega (MEGA) naik Rp 500 ke Rp 3.500; Multi Prima Sejahtera (LPIN) naik Rp 475 ke 2.600; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 400 ke level Rp 55.000; Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) naik Rp 350 ke level Rp 3.900; Ace Hardware Indonesia (ACES) naik Rp 300 ke level Rp 3.500; XL Axiata (EXCL) naik Rp 175 ke level Rp 4.800; dan Modern Internasional (MDRN) naik Rp 175 ke level Rp 2.450.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG tampaknya tidak kuat untuk melanjutkan penguatan dimana sebelumnya terjadi kenaikan signifikan. Aksi profit taking dari investor lokal menghambat peluang penguatan bagi IHSG. Padahal di perdagangan sebelumnya investor lokal terlihat antusias memburu saham-saham unggulan yang telah terdiskon banyak. Pelemahan ini pun berlawanan dengan pergerakan bursa saham Asia yang menguat. Begitupun dengan pembukaan mayoritas bursa saham Eropa yang mengalami kenaikan seiring pernyataan ECB yang akan terus melakukan pembelian obligasi dan memberikan pinjaman dengan tenor panjang untuk merekapitalisasi perbankan di Eropa. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.526,80 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.418,14 (level terendahnya) menjelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.425,68. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan penurunan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.968/US$ dari sebelumnya di Rp 8.925/US$ dipicu diaktifkannya kembali fasilitas likuiditas 12 bulan oleh ECB dan keinginan Kanselir Jerman, Merkel, untuk merekapitalisasi bank-bank Eropa. Hal ini memunculkan adanya harapan, Eropa dapat mencegah terjadinya krisis perbankan yang dipicu oleh berlarutnya krisis utang di kawasan tersebut. ECB juga menegaskan komitmennya untuk membeli obligasi pemerintah zona Euro baik di pasar primer maupun sekunder. Pasar melihat, Eropa dapat menyelamatkan sektor perbankan kawasan itu. Di lain pihak, Bank of England (BoE) justru mengaktifkan kembali program Quantitative Easing (QE) senilai Β£75 miliar yang mayoritas ditujukan untuk membeli obligasi pemerintah Inggris. Dari dalam negeri, BI terus menunjukkan komitmennya untuk menjaga Rupiah di bawah 9.000/US$. Pengurangan cadev sebesar US$10an miliar menunjukkan BI aktif di pasar. Tetapi, sentimen downgrade dari Fitch terhadap Italia dan Spanyol menghambat kenaikan Rupiah.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali Vietnam dan Thailand. Sementara bursa saham China masih libur. Pergerakan ini dipicu atas respon positif pelaku pasar terhadap kondisi perekonomian di Eropa. Pasar melihat upaya Komisi Eropa menekankan capital injection secara terkoordinasi ke sektor perbankan yang dilakukan untuk melindungi dari kegagalan sebagai dampak dari krisis kredit Yunani. Saham-saham perbankan Eropa langsung menguat setelah pengumuman dari Gubernur ECB. Sebelumnya Menkeu AS juga menghembuskan angin positif ke sektor perbankan dengan menyatakan bank-bank AS telah menguat. Pernyataan tersebut juga didukung laporan Kementerian Tenaga Kerja AS yang menunjukkan kenaikan jobless claims tak sebesar prediksi sebelumnya. BoJ telah mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,1% dan akan memperpanjang 6 bulan program pinjaman darurat untuk wilayah yang terkena bencana Tsunami. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu AIG Construction Index Aussie di level 30 dari sebelumnya 32,1; Leading Index Jepang di level 103,8 dari sebelumnya 104,6; Trade Balance Taiwan di level US$ 1,78 milyar dari sebelumnya US$ 2,62 milyar.

Bursa saham Eropa ditutup menguat kecuali Iceland, Luxemburg, Belgia, dan Swedia yang dipicu komitmen Jerman untuk merekapitalisasi perbankannya dan komitmen ECB untuk mengurangi dampak krisis utang. Kenaikan sempat tertahan seiring aksi Moody's yang memotong peringkat utang dan deposito 12 lembaga keuangan di Inggris. Dengan kondisi ini pemerintah akan kecil kemungkinannya untuk memberikan bantuan jika terjadi kesulitan keuangan. Moody's menurunkan 1 peringkat terhadap Lloyds TBS Bank Pls, Santander UK Plc dan Co-Operative Bank Plc.

Sementara RBS Plc dan Nationwide Buliding Society mengalami pemotongan 2 peringkat. Sedangkan sebanyak 7 small building society mengalami pemotongan antara 1-5 tingkat. Untuk Clydesdale Bank dikonformasi menjadi A2-. Selain Moody's, Fitch juga telah memangkas rating Spanyol menjadi AA- dari sebelumnya AA+ dengan alasan terjadinya risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dan tingginya utang negara tetangga. Rating Italia pun juga dipangkasnya menjadi A+ dari sebelumnya AA-. Di awal perdagangan, saham pertambangan dan perbankan menguat setelah BoE mengumumkan langkah-langkah stimulus baru untuk perekonomian Inggris dan investor tetap berharap bahwa para pembuat kebijakan zona euro akan bertindak untuk rekapitalisasi bank. Euro sempat naik 2 sen setelah ECB mengumumkan operasi pinjaman baru bank dalam 12 dan 13 bulan dan memutuskan untuk membeli €40 miliar (US$53,6 miliar) obligasi tertutup. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Trade Balance Perancis di level US$ 5 milyar dari sebelumnya US$ -6,4 milyar; PPI Input (MoM) Inggris di level 1,7% dari sebelumnya -1,8%; PPI Output (MoM) Inggris di level 0,3% dari sebelumnya 0,1%; dan Industrial Production Jerman di level -1% dari sebelumnya 3,9%.

Bursa kawasan Amerika melemah kecuali Panama, Venezuela, dan Peru yang dipicu laporan pekerja dan pemangkasan rating kredit Italia dan Spanyol. Saham perbankan anjlok akibat penurunan rating kredit Italia dan Spanyol oleh Fitch yang memicu kekhawatiran baru terhadap krisis utang Eropa. Tetapi, saham ritel dan farmasi menguat. Depnaker melaporkan pekerja AS bertambah 103.000 pekerjaan, naik 2x lipat dari perkiraan. Setidaknya laporan itu mengurangi kekhawatiran jangka pendek bahwa AS bisa masuk resesi lebih dalam. Selain itu, pasar menilai gaji yang naik tidak cukup membawa angka pengangguran turun atau bahkan menjaga naiknya pertumbuhan masyarakat AS. Data ekonomi yang dirilis yaitu Unemployment rate AS tetap di level 9,1%; Nonfarm Payrolls AS di level 103 ribu dari sebelumnya 57 ribu; Private Nonfarm Payrolls AS di level 137 ribu dari sebelumnya 42 ribu; dan Unemployment rate Kanada di level 7,1% dari sebelumnya 7,3%.

Pada perdagangan Senin (10/10) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.348-3.387 dan resistance 3.496-3.565. IHSG hampir membentuk shooting star dan gagal menyentuh middle bollinger bands. MACD hampir membentuk golden cross dengan histogram negatif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali gagal menjauhi area oversold . Pelemahan yang terjadi kemarin memperlihatkan bahwa penguatan yang terjadi sebelumnya ternyata belum cukup kuat untuk melanjutkan penguatan selanjutnya. Meski IHSG masih memiliki ruang kenaikan namun, tetap waspada akan aksi profit taking yang akan kembali menghambat kenaikan IHSG.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads