Indeks sektoral saham bergerak naik dengan penguatan yang diawali pada indeks aneka industri yang naik 2,80% ke level 1.213,34; indeks pertambangan naik 2,17% ke level 2.619,90; indeks perkebunan naik 1,54% ke level 1.986,13; indeks industri dasar naik 1,40% ke level 376,43; indeks perdagangan naik 1,32% ke level 509,61; indeks manufaktur naik 1,10% ke level 927,71; indeks properti naik 1,02% ke level 210,92; indeks keuangan naik 0,88% ke level 490,77; dan indeks infrastruktur naik 0,17% ke level 684,74. Sementara pelemahan pada indeks konsumer yang turun 0,44% ke level 1.251,17. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 943,9 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,19 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,24 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra International (ASII) naik Rp 1.950 ke Rp 67.900; Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik Rp 1.200 ke Rp 17.400; Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 800 ke Rp 9.800; Bayan Resources (BYAN) naik Rp 750 ke Rp 20.000; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 600 ke Rp 14.100; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 600 ke 18.700; United Tractors (UNTR) naik Rp 550 ke level Rp 23.100; Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 500 ke Rp 42.500; dan Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) naik Rp 500 ke level Rp 4.925.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.910/US$ dari sebelumnya di Rp 8.945/US$ yang dipicu rilis pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) sebelumnya yang menunjukkan, adanya peluang bagi The Fed mengeluarkan kebijakan QE-3. Tapi, mayoritas anggota The Fed mengganggap bahwa Operation Twist yang dikeluarkan tidak berdampak banyak pada perekonomian AS. Karena itu, dibutuhkan program pembelian aset dalam jumlah besar. Pernyataan itu, direspon pasar sebagai pertimbangan yang membuka peluang kelaurnya QE-3. Rupiah pun terbantu dengan penguatan bursa saham Asia. Tetapi, laju penguatan tersebut terbatas karena pasar masih mencemaskan kondisi zona euro seiring sikap beberapa petinggi ECB yang menyatakan kecemasan terhadap ekonomi Eropa dan ECB juga keberatan jika perbankan Eropa dipaksa menanggung beban dari pemangkasan nilai obligasi Yunnai yang lebih besar. Rumornya hingga mencapai 40-60%.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat yang dipicu sikap pemimpin Eropa yang mendekati rencana menjinakkan krisis utang dan The Fed yang membahas pembelian aset lebih lanjut sehingga diharapkan bisa mengurangi kekhawatiran ekonomi global. Pasar masih merespon positif sikap Kanselir Jerman Merkel dan Presiden Prancis Sarkozy yang berjanji untuk menyampaikan rencana merekapitalisasi bank dan mengatasi krisis utang Yunani. Bursa saham Aussie naik setelah rilis laporan bahwa tingkat pengangguran turun pertama kalinya sejak Maret, karena pengusaha menaikkan 2x lipat perkiraan ekonom tentang pekerja. Otomotif di China naik setelah Citigroup Inc mengatakan penjualan mobil China September mungkin naik 9% dari tahun sebelumnya. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Tertiary Industry Activity Index (MoM) Jepang di level -0,2% dari sebelumnya -0,3%; MI Inflation Expectations Aussie di level 3,1% dari sebelumnya 2,8%; Unemploymeny rate Aussie di level 5,2% dari sebelumnya 5,3%; dan penentuan suku bunga KorSel di level 3,25%.
Bursa saham Eropa ditutup melemah kecuali Iceland dan Yunani yang dipicu oleh aksi ambil untung para investor yang merespon proyeksi penurunan angka perdagangan China. Dilaporkan data trade balance China turun menjadi US$ 14,5 miliar dari sebelumnya US$ 17,8 miliar. Sentimen negatif juga muncul dari pernyataan Gubernur ECB yang baru, Mario Draghi yang mengingatkan Italia supaya jangan berharap terlalu banyak terhadap bantuan anggota Uni Eropa lainnya. Sebab kebutuhan untuk reformasi anggaran sangat mendesak untuk dilakukan Italia. Data ekonomi yang dirilis diantaranya CPI (MoM) Jerman tetap di level 0,1% dan Trade balance Inggris di level US$ -7,8 miliar dari sebelumnya -8,2 miliar.
Bursa kawasan Amerika bergerak mix dengan penguatan pada indeks Nasdaq dan mayoritas bursa saham Amerika Selatan. Penguatan pada Nasdaq dipicu kenaikan saham Vertex Pharmaceuticals Inc hingga 9,1%. Koreksi indeks DJIA dan S&P 500 dipicu keluarnya laporan keuangan JPMorgan dan data perdagangan di China yang menunjukkan pelemahan. Hal ini menambah kekhawatiran dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi pada perolehan laba. JP Morgan melaporkan pendapatannya yang turun selama Q3-11. Laporan keuangan tersebut sekaligus melengkapi kekecewaan investor terhadap laporan keuangan Alcoa sebelumnya. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Trade Balance Kanada di level US$ 60 juta dari sebelumnya -50 juta; Trade Balance AS tetap di level US$ 45,6 miliar; Initial jobless claims AS di level 404 ribu dari sebelumnya 405 ribu; dan Consumer Confident di level -50,8 dari sebelumnya -50,2.
Pada perdagangan Jumat (14/10) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.605-3.640 dan resistance 3.706-3.737. IHSG membentuk shooting star dengan posisi di atas middle bollinger bands. MACD masih melanjutkan kenaikannya setelah mengkonfirmasi pembentukan golden cross dengan histogram positif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai tertahan kenaikannya setelah menyentuh area overbought. Penguatan selama 4 hari kemarin menunjukkan sentimen positif masih beredar di bursa. Apalagi hal ini didukung oleh volume yang meninggi
sehingga mampu menyentuh kembali level 3.700. Tetapi, seperti perdagangan sebelum-sebelumnya dimana ketika menyentuh level psikologis resistance maka kondisi ini juga rawan profit taking . Investor tetap waspada bila aksi ini mulai masuk.
(qom/qom)











































