Indeks sektoral saham bergerak variatif dengan penguatan yang diawali dengan kenaikan indeks pertambangan yang naik 1,97% ke level 2.793,14; indeks industri dasar naik 0,93% ke level 400,11; indeks aneka industri naik 0,92% ke level 1.250,21; indeks keuangan naik 0,54 ke level 511,26; indeks perdagangan naik 0,45% ke level 534,72; dan indeks manufaktur naik 0,41% ke level 955,25. Sementara pelemahan pada indeks perkebunan turun 1,25% ke level 2.152,59; indeks properti turun 0,63% ke level 215,98; indeks infrastruktur turun 0,39% ke level 710,80; dan indeks konsumer turun 0,34% ke level 1.262,07. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 816,33 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,26 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,44 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Bintang Indonesia (MLBI) naik Rp 9.950 ke Rp 340.000; Century textile Industry (CNTX) naik Rp 1.050 ke Rp 7.050; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 450 ke Rp 21.450; Nipress (NIPS) naik Rp 400 ke Rp 4.200; Surya Citra Media (SCMA) naik Rp 350 ke Rp 6.350; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 200 ke 13.400; Jaya Konstruksi Manggala Pratama (JKON) naik Rp 100 ke level Rp 1.000; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 100 ke Rp 16.300; dan Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 100 ke level Rp 8.100.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.835/US$ dari sebelumnya di Rp 8.828/US$ yang dipicu adanya intervensi terhadap mata uang Yen sehingga membuat US$ menguat tajam. Oleh karena itulah, US$ juga menguat signifikan terhadap mata uang utama lainnya. Sebelumnya Jepang telah melakukan intervensi senilai Β₯4 triliun sehingga membuat Yen melemah 200 poin. Apresiasi Rupiah juga terganjal seiring aksi profit taking yang terjadi pada bursa saham pasca reli setelah Eropa mengumumkan kesepakatan barunya dalam menangani krisis utang. Investor juga masih menantikan pertemuan G20 di akhir pekan ini. Sikap pesimis pasar muncul setelah pernyataan Presiden ECB, Trichet, yang menyatakan, bahwa krisis Eropa belum berakhir.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali New Zealand, Pakistan, dan Thailand. Sementara Filipina ditutup libur. Pergerakan ini dipicu sikap negatif investor setelah dirilisnya kinerja emiten dari Acer Inc hingga Tohoku Electric Power Co yang melaporkan kerugian. Berbeda dengan sebelumnya dimana reli terjadi setelah Eropa membuat terobosan kesepakatan untuk mengatasi krisis utang, laporan naiknya pertumbuhan ekonomi AS, dan China yang mengisyaratkan pelonggaran kebijakan moneter. Indeks Nikkei 225 turun setelah pemerintah Jepang menjual Yen untuk menekan mata uangnya karena apresiasi Yen memangkas nilai pendapatan luar negeri eksportir Jepang. Dari 307 perusahaan di Asia telah melaporkan laba sejak 11 Oktober, 166 di bawah estimasi, dan 98 melampaui harapan. Acer melaporkan kerugian bersih Q3-11 sebesar US$ 37 juta dan pengiriman global kuartal ini akan jatuh 10% di tengah kelebihan pasokan, melambatnya pasar komputer, dan kekurangan disk drive. Tohoku Electric turun setelah utilitas Jepang melaporkan kerugian yang lebih besar dari perkiraan. Tidak hanya itu, perusahaan transportasi dan kargo di Jepang, perbankan dan pengembang properti China ikur melemah. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu Industrial Production KorSel di level 6,8% dari sebelumnya 4,7%; Manufacturing PMI Jepang di level 50,6 dari sebelumnya 49,3; Retail Sales (MoM) KorSel di level -3,2% dari sebelumnya -0,2%; Unemployment rate Singapura di level 2% dari sebelumnya 2,1%; dan MI Inflation Gauge (MoM) Aussie di level 0,1%.
Bursa saham Eropa ditutup melemah yang dipicu kembali negatifnya sikap investor terhadap efektivitas dan implementasi hasil yang dicapai pada kesepakatan dalam KTT Uni Eropa pada 26/10. Pasar memanfaatkan kondisi ini dengan melakukan profit taking pasca penguatan beberapa hari sebelumnya. Pada Sabtu, Spanyol dan Portugal menyatakan krisis utang Eropa merupakan masalah global dan menyerukan kepada AS serta kelompok G20 untuk membantu menemukan solusi. Kelompok G20 pekan ini akan bertemu di Cannes, Prancis pada 3-4 November. Perhatian pasar juga akan terfokus ke AS dengan hasil pertemuan The Fed untuk merumuskan kebijakan moneter terbaru. Di sisi lain, PM Inggris, Cameron, menyampaikan kelesuan ekonomi saat ini dapat diselesaikan jika negara yang menghadapi beban utang meningkatkan daya beli dan membangun link baru dalam perdagangan global. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Retail Sales (MoM) Jerman di level 0,4% dari sebelumnya -2,7%; PPI (MoM) Perancis di level 0,2% dari sebelumnya 0%; CPI (YoY) di level 3%; dan Unemployment Rate Eropa di level 10,20% dari sebelumnya 10,15%.
Bursa kawasan Amerika bergerak melemah yang dipicu aksi jual yang melanda sejumlah saham berkapitalisasi besar yang antara lain, Morgan Stanley; Citigroup Inc; Alcoa Inc; dan Chevron Corp. Kecemasan investor kembali muncul terhadap upaya pimpinan Eropa dalam menaikkan dana bailout yang akan digunakan untuk mengatasi krisis utang Eropa. Menjelang akhir perdagangan, bursa saham AS semakin tertekan setelah PM Yunani, Papandreou, mengatakan akan melaksanakan referendum terhadap hasil kesepakatan pimpinan Eropa atas negaranya. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Chicago PMI AS di level 58,4 dari sebelumnya 60,4 dan GDP (MoM) Kanada di level 0,3% dari sebelumnya 0,4%.
Pada perdagangan Selasa (1/11) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.665-3.765 dan resistance 3.832-3.856. IHSG membentuk hammer . Posisi candle masih di sekitar upper bollinger bands . MACD mulai tertahan kenaikannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak turun setelah berada di atas area overbought . Sentimen negatif kembali menyelimuti pergerakan saham-saham di bursa efek. Tekanan jual kemungkinan masih akan terjadi. Diharapkan adanya rilis inflasi dan sentimen positif dari pertumbuhan kinerja emiten bisa menahan penurunan lebih dalam.
(qom/qom)











































