Indeks sektoral saham bergerak melemah dengan penurunan yang diawali dengan indeks properti yang turun 0,73% ke level 213,21; indeks pertambangan turun 0,70% ke level
2.656,50; indeks aneka industri turun 0,55% ke level 1.216,81; indeks infrastruktur turun 0,46% ke level 710,65; indeks konsumer turun 0,11% ke level 1.249,32; dan indeks keuangan turun 0,01% ke level 509,72. Sementara kenaikan dialami indeks industri dasar yang naik 1,34% ke level 392,64; indeks manufaktur naik 0,11% ke level 938,09; indeks perdagangan naik 0,07% ke level 535,97; dan indeks perkebunan naik 0,02% ke level 2.130,39. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG
mengalami net foreign buy sebesar Rp 357,51 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,08 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 724,2 miliar.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 1.300 ke Rp 8.800; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 950 ke Rp 61.500; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 450 ke Rp 15.950; United Tractors (UNTR) naik Rp 400ke Rp 25.050; Bank Mayapada Internasional (MAYA) naik Rp 270 ke Rp 1.370; Semen Gresik (SMGR) naik Rp 200 ke 9.450; Resources Alam Indonesia (KKGI) naik Rp 200 ke level Rp 5.500; Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) naik Rp 200 ke Rp 11.400; dan Cahaya Kalbar (CEKA) naik Rp 160 ke level Rp 1.180.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 8.940/US$ dari sebelumnya di Rp 8.962/US$ yang dipicu stabilnya GDP Indonesia di level 6,5%. Sentimen ini setidaknya bisa menahan sentimen negatif dari memburuknya kondisi Eropa. Apalagi, pasca KTT G20 di akhir pekan tidak menunjukkan adanya bantuan keuangan kepada Eropa untuk mengurangi krisis utang. Di sisi lain, kondisi politik di Yunani belum stabil. Meski PM Papandreou menyatakan akan mengundurkan diri dan membentuk pemerintah koalisi sementara hingga dilangsungkan pemilu namun, belum jelas siapa yang akan menggantikannya. Pasar masih menantikan, kemampuan penggantinya untuk menjalankan agenda reformasi yang diinginkan oleh Eropa. Di sisi lain, pasar juga semakin cemas dengan kondisi keuangan Italia yang mengalami kenaikan utang. Bila default maka dampaknya jauh lebih sistemik. Pasar juga menunggu hasil The Economic and Finansial Affairs Council (Ecofin) Meeting dimana pasar ingin melihat bagaimana pandangan para MenKeu Uni Eropa soal Eurozone terbaru.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Taiwan dan New Zealand. Sementara Pakistan, India, Singapura, dan Filipina libur. Pergerakan ini dipicu masih khawatirnya investor terhadap kondisi di Uni Eropa meski pemerintahan Yunani telah membuat kesepakatan mengatasi krisis. Investor juga tidak mengesampingkan masalah Italia yang menghadapi ketidakstabilan politik dan keuangan negara sehingga dinilai sulit untuk memulihkan kredibilitasnya di pasar keuangan. Dari Jepang, merger antara Osaka Securities Exchange dengan Bursa Saham Tokyo telah memasuki tahap akhir. Banjir di Thailand terus membebani kinerja beberapa perusahaan. Bursa saham China melemah dipicu penurunan saham properti setelah rilis bahwa pasar properti China tampaknya telah memasuki titik balik, dari bullish ke bearish. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu AIG Construction Index Aussie di level 34,7 dari sebelumnya 30; Leading Index Jepang di level 91,6 dari sebelumnya 93,8; GDP (YoY) Indonesia di level 6,5%; CPI (YoY) Taiwan di level 1,2% dari sebelumnya 1,4%; dan Trade Balance Taiwan di level US$ 3,3 miliar dari
sebelumnya US$ 1,78 miliar.
Bursa saham Eropa ditutup melemah kecuali Denmark dan Austria yang dipicu sikap pesimisme investor terhadap kondisi di Uni Eropa. Pasca KTT G-20 yang tidak menghasilkan keputusan konkret dan masalah politik Yunani, kini investor juga dihadapkan pada masalah Italia dimana diambang krisis dengan meningkatnya beban keuangan negara. Masalah yang dihadapi Italia termasuk utang kedua tertinggi zona euro terhadap rasio PDB dan kurangnya kredibilitas untuk pemerintah PM. Berlusconi. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Retail Sales (MoM) Eropa di level -0,7% dari sebelumnya 0,1%; Industrial Production (MoM) Jerman di level -2,7% dari sebelumnya -0,4%; Unemployment rate Swiss di level 3% dari sebelumnya 52,10; dan CPI (MoM) Swiss di level -0,1% dari sebelumnya 0,3%.
Bursa kawasan Amerika bergerak menguat kecuali Panama dan Argentina yang dipicu kembali reboundnya harga saham-saham setelah Juergen Stark, anggota eksekutif dari ECB menyampaikan, krisis utang di kawasan Eropa bisa dikendalikan dalam 2 tahun. Padahal di awal perdagangan, mayoritas saham terkena aksi jual menyusul kekecewaan pasar terhadap hasil KTT G20 di akhir pekan. Pasar juga menyimpan rasa optimisme bahwa Eropa mampu mengendalikan krisis utangnya dan diharapkan tidak menyebar ke negara-negara lain. Tetapi, rasa optimisme ini sedikit terhalang oleh sentimen negatif dari krisis keuangan di Italia. Para investor juga berspekulasi, PM Berlusconi akan mendapatkan tekanan besar untuk mundur jika dia gagal mendapatkan dukungan mayoritas dalam voting anggaran 2012. Kinerja terbaik dicetak oleh saham-saham sektor kesehatan dan telekomunikasi. Tidak ada data ekonomi yang dirilis.
Pada perdagangan Selasa (8/11) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.751-3.765 dan resistance 3.791-3.805. IHSG membentuk black spinning sekaligus membentuk pola bearish harami . Posisi diantara upper dan middle bollinger bands. MACD tertahan pelemahannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic masih tertahan menuju area overbought. Fluktuasi IHSG sepertinya akan kembali terjadi di tengah situasi yang belum pasti namun, menghijaunya bursa saham AS setidaknya bisa mempertahankan posisi IHSG untuk tetap berada di zona hijau.
(qom/qom)











































