Indosurya: IHSG Rentan Berbalik Arah

Indosurya: IHSG Rentan Berbalik Arah

- detikFinance
Rabu, 23 Nov 2011 08:29 WIB
Jakarta - IHSG menguat 55,70 poin (1,51%) di level 3.735,53. Total volume perdagangan BEI mencapai 3,72 triliun unit saham dengan nilai total Rp 4,57 triliun. Sebanyak 178 saham naik, 50 saham turun, dan 85 saham stagnan. LQ-45 naik 1,76% ke level 660,02 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,80% ke level 522,92.

Indeks sektoral saham bergerak menguat yang diawali oleh indeks aneka industri yang naik 2,25% ke level 1.238,04; indeks industri dasar naik 2,11% ke level 379,09; indeks manufaktur naik 2,06% ke level 940,27; indeks perkebunan naik 1,91% ke level 2.193,87; indeks keuangan naik 1,88% ke level 492,56; indeks konsumer naik 1,86% ke level 1.266; indeks pertambangan naik 1,49% ke level 2.587,65; indeks properti naik 0,89% ke level 209,92; indeks perdagangan naik 0,68% ke level 553,91; dan indeks infrastruktur naik 0,24% ke level 692,55. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 421,98 miliar dengan total pembelian asing Rp 2,21 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,79 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra International (ASII) naik Rp 1.700 ke Rp 69.350; H.M. Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.400 ke Rp 38.400; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.250 ke Rp 61.750; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 600 ke Rp 16.800; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 600 ke Rp 22.150; Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 550 ke 42.150; Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 550 ke level Rp 15.200; Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) naik Rp 400 ke Rp 12.300; dan Central Omega Resources (DKFT) naik Rp 275 ke level Rp 3.525.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara mengejutkan harga saham-saham domestik berbalik arah dan bertengger di zona positif pada sesi kedua perdagangan kemarin. Padahal sepanjang sesi 1, IHSG bergerak fluktuatif yang merespon bervariatifnya perdagangan mayoritas bursa saham regional karena dipicu gagalnya kesepakatan penanganan utang di AS dan ancaman Moody's terhadap perekonomian Prancis yang makin membuat para pelaku pasar khawatir. Secara sentimen memang belum sepenuhnya merefleksikan kondisi positif namun, pelemahan saham-saham domestik pada perdaganganhari-hari sebelumnya memicu bargain hunting terhadap saham-saham yang sudah dinilai oversold . Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.754,23 (level tertingginya) menjelang akhir sesi 2 dan juga sempat menyentuh level 3.668,11 (level terendahnya) di awal sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.679,83. Volume perdagangan tercatat turun namun, nilai total transaksi tercatat naik karena adanya transaksi crossing saham SMMA senilai Rp 836,17 miliar oleh broker DH. Secara total, Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Tetapi, bila transaksi SMMA tidak diperhitungkan maka investor asing sebenarnya membukukan nett sell Rp 414,2 miliar.

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.035/US$ dari sebelumnya di Rp 9.070/US$ yang dipicu kembali reboundnya pasar saham dan adanya penilaian positif dari Fitch terhadap eksposur ekonomi Indonesia yang dinilai lebih tahan dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang bisa terancam tertular krisis Eropa. Sebenarnya awan negatif belum sepenuhnya beranjak dari pergerakan Rupiah dimana memburuknya krisis utang zona euro dan berlarutnya kecemasan penularan krisis utang lebih lanjut masih menghinggapi. Tetapi, sentimen itu bisa tertahan setelah Standard & Poor's Rating Service menyatakan kegagalan komite super AS untuk menemukan cara pemangkasan defisit senilai US$1,2 triliun tidak akan mengubah peringkat utang AS. Seperti biasa, antara Partai Republik maupun Demokrat berbeda pendapat dalam kesepakatan mengenai cara pemangkasan defisit. Meski ada jaminan bahwa S&P tidak akan mendowngrade peringkat utang AS, sentimen market tetap masih rapuh karena fokus utama investor adalah potensi penyebaran krisis utang Eropa. Apalagi, setelah lelang obligasi beberapa negara di Eropa kurang diminati yang terlihat dari kenaikan biaya pinjaman maupun yield nya.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak variatif dengan pelemahan pada bursa saham Jepang, China, Taiwan, dan Aussie yang dipicu technical rebound terhadap saham-saham Asia setelah tertekan pelemahan beberapa hari sebelumnya. Sama seperti IHSG, awan negatif pun belum sepenuhnya beranjak pergi dimana kekhawatiran akan kemampuan petinggi di Uni Eropa untuk mengatasi beban utang yang besar dan pertikaian politik di AS terhadap penanganan defisit keuangan menghapuskan kepercayaan para investor akan prospek negara-negara barat. Kegagalan kongres AS dalam menyepakati rencana pemotongan anggaran defisit sesuai waktu yang disepakati makin memperparah kondisi global. Tetapi, langkah S&P yang tidak akan mendowngrade rating utang AS sedikit menahan penurunan. Bursa saham China dan Taiwan melemah setelah data bank sentral menyatakan Beijing kemungkinan akan menjual mata uang asing untuk menopang yuan. Langkah ini memberikan sinyal bahwa terjadi pembalikan aliran dana asing keluar di kedua negara tersebut. Belum lagi melemahnya saham-saham batubara makin membebani kondisi bursakeduanya. Indeks Nikkei masih melemah karena sikap para investor yang melepas asetnya atas kekhawatiran kondisi utang AS dan Eropa.

Bursa saham Eropa ditutup melemah yang dipicu masih khawatirnya investor terhadap prospek utang di zona Eropa. Apalagi sebelumnya ada peringatan dari Moody's terhadap kenaikan suku bunga utang pemerintah Perancis dan prospek pertumbuhan yang lemah bisa menjadi negatif bagi prospek rating kredit Prancis. Padahal di awal perdagangan sempat menguat meski terbatas karena kekhawatiran krisis utang Eropa dan AS. Sentimen dari AS seputar kegagalan Kongres AS untuk menyepakati pemangkasan defisit anggaran senilai US$1,2 triliun dari 15 triliun untuk 10 tahun makin memperburuk kondisi. Sentimen ini berbarengan dengan akan tibanya liburan Tanksgiving sehingga investor lebih memiliki aksi jual di bursa Wall Street. Aksi lembaga rating Moody's, S&P dan Fitch yang telah menyatakan tidak akan mengubah peringkat kredit pemerintah AS sedikit menahan penurunan. Presiden Obama pun menjanjikan partainya tetap akan bersedia membahas anggaran yang seimbang meski Ia siap melakukan hak veto jika ada rencana menggagalkan proposal pemangkasan defisit tersebut. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Consumer Confidence Eropa di level -20; GDP (QoQ) Norwegia di level 1,4% dari sebelumnya 0,4%; Trade Balance Spanyol di level US$ -4,85 miliar dari sebelumnya US$ -4,9 miliar; dan Trade Balance Swiss di level US$ 2,15 miliar dari sebelumnya US$ 1,91 miliar.

Bursa kawasan Amerika bergerak melemah kecuali Kanada, Argentina, dan Peru. Pergerakan ini dipicu outlook ekonomi AS yang dinilai investor tidak menunjukkan peningkatan yang terlihat dari penurunan GDP. Belum lagi masalah kegagalan Kongres AS untuk menyetujui pemangkasan defisit anggaran. Pelaku pasar menilai melemahnya indeks juga dipicu tidak adanya intervensi dari The Fed atau tidak ada stimulus fiskal sehingga makin membuat khawatir akan kondisi di AS dan diperparah lagi oleh
outlook ekonomi Eropa. Data ekonomi yang dirilis diantaranya GDP (QoQ) di level 2% dari sebelumnya 2,5%; Richmond Manufacturing Index di level 0 dari sebelumnya -6; Retail Sales (MoM) Kanada di level 1% dari sebelumnya 0,6%; dan GDP (YoY) Meksiko di level 4,5% dari sebelumnya 3,2%.

Pada perdagangan Rabu (23/11) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.650-3.693 dan resistance 3.757-3.779. IHSG membentuk bullish harami dimana sebelumnya membentuk three black crows . Posisi candle telah menyentuh upper bollinger bands. MACD masih bergerak turun dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic terlihat reversal menjauhi area oversold. Meski IHSG mengalami penguatan dan secara teknikal juga mendukung adanya reversal menguat namun, cermati kembali sentimen yang ada di pasar karena bisa mempengaruhi bahkan merubah arah pergerakan IHSG.

(qom/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads