Tekanan jual di pasar saham Indonesia kemarin terutama dipengaruhi oleh memburuknya pasar saham Asia. Pelaku pasar bereaksi negatif setelah perekonomian dua negara kekuatan ekonomi terbesar di dunia yaitu Amerika Serikat (AS) dan China menunjukkan pertumbuhan melambat. Angka pertumbuhan ekonomi AS pada 3Q11 sebesar 2% di bawah perkiraan awal sebesar 2,5% mengecewakan pelaku pasar. Sedangkan di China angka indeks output factory yang dikeluarkan oleh HSBC yaitu HSBC Purchasing ManagersβIndex (PMI) turun ke titik terendah dalam 32 bulan terakhir yaitu ke 48 dari 51 (Oktober).
Indeks di bawah 50 mengindikasikan terjadinya kontraksi ekonomi. Penurunan output manufaktur China tersebut meningkatkan kembali kekhawatiran terjadinya penurunan tajam pertumbuhan ekonomi China. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi China tahun ini mencapai 9% dan tahun depan 8,4%. Akibat turunnya output industri di China telah menekan kembali harga komoditas seperti minyak mentah, tembaga, besi baja, barang logam, dan komoditas perkebunan seperti karet dan CPO.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG diperkirakan akan kembali dilanda tekanan jual. Level support IHSG akan menguji 3627, dan apabila tertembus maka akan berpeluang ke support berikut di 3587. Mengingat masih tingginya resiko pasar, investor disarankan untuk tetap pada pola trading dan memelihara posisi cash yang sehat. Apabila berkeinginan melakukan pembelian sebaiknya pada saham-saham unggulan yang pertumbuhan labanya mengandalkan pada pasar domestik.
IHSG S1 3627 S2 3587 ; R1 3725 R2 3764
Pilihan saham :
ASII 67300-69300 Buy on Weakness
ADRO 1840-1940 Buy on Weakness
BBRI 6400-6800 Buy on Weakness
BMRI 6400-6900 Buy on Weakness
UNVR 16900-18200 Sell on Strength
INDF 4600-4750 Buy on Weakness
JSMR 3750-3900 Buy on Weakness
BBKP 600-670 Buy on Weakness
(ang/ang)











































