Indeks sektoral saham bergerak melemah yang diawali oleh indeks perdagangan yang turun 1,17% ke level 578,49; indeks konsumer turun 0,95% ke level 1.284,65; indeks industri dasar turun 0,87% ke level 382,43; indeks perkebunan turun 0,80% ke level 2.148,97; indeks pertambangan turun 0,70% ke level 2.537; indeks keuangan turun 0,59% ke level 488,93; indeks manufaktur turun 0,46% ke level 961,04; dan indeks infrastruktur turun 0,42% ke level 693,23.
Sementara penguatan pada indeks aneka industri yang naik 0,42% ke level 1.288,33 dan indeks properti naik 0,05% ke level 211,52. Indeks MBX dan ISSI melemah namun, DBX menguat. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 249,62 miliar dengan total pembelian asing Rp 896,81 miliar dan total penjualan asing mencapai Rp 1,15 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan bursa saham Eropa dan AS yang negatif membawa pengaruh psikologis bagi pergerakan bursa-bursa saham di kawasan Asia Pasifik. Apalagi pelaksanaan KTT Uni Eropa di hari I, banyak beredar sentimen negatif setelah Jerman menolak beberapa rancanan dalam KTT dan keengganan ECB untuk membeli obligasi Eropa, sehingga IHSG pun ikut terkena imbas pelemahan. Di hari I, pemimpin Eropa sepakat untuk melakukan integrasi fiskal dan memperkuat mekanisme bailout, namun Jerman menolak rancangan mekanisme Fasilitas Stabilisasi Keuangan Eropa untuk perbankan dan penerbitan obligasi Eropa. Belum lagi kekecewaan pasar terhadap pernyataan Presiden ECB, Mario Draghi yang enggan membeli obligasi negara Eropa karena prospek ekonomi di Eropa dinilai masih memiliki ketidakpastian yang tinggi dan risiko penurunan substansial. Di sisi lain, ECB telah memangkas suku bunga acuan 25 bps untuk meredam inflasi yang tetap tinggi. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.781,03 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.728,73 (level terendahnya) di pertengahan sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.759,61. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett sell dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy .
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.040/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.085/US$. Rupiah sempat melemah yang dipicu kekecewaan atas kebijakan yang ditempuh ECB sebelumnya. ECB memang telah menurunkan suku bunga acuannya 25 bps ke level 1% dan menurunkan GWM perbankan dari 2% jadi 1% namun, tak cukup meredakakan kecemasan pasar. Di sisi lain, ECB juga telah melonggarkan cakupan aset keuangan yang digunakan sebagai jaminan untuk mengakses fasilitas likuiditas ECB dan menerbitkan fasilitas likuiditas dengan durasi yang lebih panjang, tenor 3 tahun. Sebaliknya, ECB tidak memberikan isyarat untuk melakukan pembelian obligasi dalam skala besar dan lebih mengutarakan masalah hukum jika ECB memberikan pinjaman kepada negara anggota zona euro, melalui The European Stability Mechanism (ESM). Pada pertemuan I KTT, disebutkan Inggris akan menggunakan hak vetonya untuk mencegah adanya perubahan konstitusi Uni Eropa. Selain itu, juga disebutkan, pada KTT juga berkembang isu terbentuknya pakta fiskal di antara sesama anggota zona euro dan beberapa anggota Uni Eropa lainnya. Pada saat yang sama, market juga kecewa dengan kemungkinan gagalnya ESM mendapat lisensi sebagai bank seperti tidak diperbolehkannya EFSF. Pasar juga mendapat sentimen negatif dari downgrade 3 bank Perancis oleh Moody's. Akhirnya di akhir sesi, Rupiah kembali menguat seiring harapan pada pertemuan KTT di hari kedua.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali New Zealand, Pakistan, dan Laos. Pergerakan ini dipicu belum adanya sinyal positif dari hasil KTT Uni Eropa di hari I. Langkah ECB memangkas suku bunga acuan dianggap sebagai halangan terhadap rencana pembelian obligasi pemerintah, sebagaimana pernah diutarakan sebelumnya. Sentimen pasar menjadi negatif setelah Jerman menolak beberapa langkah dalam rancangan pertemuan tersebut, termasuk menolak mekanisme stabilitas Eropa (ESM). Saham-saham perbankan pun menjadi sasaran tekanan jual. Di tempat lain, sentimen negatif juga datang dari rilis pertumbuhan produksi industri China yang dinilai melambat lebih dari 2 tahun pada bulan November dan naiknya inflasi karena kondisi ekonomi yang memburuk. Tetapi, hal ini bisa meningkatkan harapan agar Beijing melonggarkan kebijakan moneter lagi. Tingkat inflasi tahunan China turun ke 4,2% (November), terendah sejak September 2010. Sebelumnya inflasi pernah anjlok di bawah 5% pada Februari 2011. Inflasi bergerak turun dengan cepat sejak level tertingginya di 6,5% pada bulan Juli. Data pertumbuhan produksi industri melambat 12,4% pada bulan November yang ditandai oleh Indeks Manajer Pembelian (PMI), yang menunjukkan aktivitas pabrik pada bulan November turun dari Oktober. Sentimen negatif lainnya dari perkiraan IMF terhadap ekonomi Hong Kong yang akan melambat ke 4% di tahun 2012 dari 5,75% tahun ini karena permintaan ekspor yang lemah. Dari Asia Pasifik dirilis laporan ekonomi, yaitu GDP (QoQ) Jepang di level 1,4% dari sebelumnya 1,5%; CPI (YoY) China di level 4,2% dari sebelumnya 5,5%; PPI (YoY) China di level 2,7% dari sebelumnya 5%; Fixed Asset Investment (YoY) di level 24,5% dari sebelumnya 24,9%; Industrial Production (YoY) di level 12,4% dari sebelumnya 13,2%; dan Retail Sales (YoY) China di level 17,3% dari sebelumnya 17,2%.
Bursa saham Eropa ditutup menguat kecuali Denmark, Austria, dan Yunani yang dipicu respon positif investor terhadap berbagai kemajuan dalam akhir pertemuan KTT Uni Eropa di akhir pekan kemarin. Para pemimpin Uni Eropa telah menyepakati pengetatan anggaran tetapi gagal untuk mengamankan dukungan dari 27 negara anggota untuk menyetujui perubahan mekanisme bailout. Mereka juga memutuskan untuk mekanisme EFSF sebagai dana bailout permanen yang berlaku pada Juli 2012 dan 2013 senilai β¬500 miliar (US$666 miliar). Padahal di awal perdagangan, sempat melemah seiring penilaian negatif investor terhadap kesepakatan melakukan integrasi fiskal di wilayah zona Euro yang dinilai belum mampu mengurangi krisis sehingga pelaku pasar sempat merasa tidak banyak kemajuan dalam KTT tersebut. Indeks saham perbankan Eropa sempat melemah setelah Otoritas Perbankan Eropa menyatakan perbankan Eropa harus menyiapkan dana segar β¬114,7 miliar untuk meningkatkan kepercayaan investor. Lalu sikap Inggris dan Hongaria yang telah menghapus diri dari negosiasi pada integrasi fiskal. Ditambah lagi, Moody's yang memangkas peringkat utang jangka panjang BNP dan Credit Agricole sebanyak 1 not ke Aa3 dan utang jangka panjang Societe Generale sebanyak 1 not ke A1. Data ekonomi yang dirilis diantaranya CPI (MoM) Jerman di level 0%; Trade Balance Jerman di level US$ 12,6 miliar dari sebelumnya US$ 15,1 miliar; Produksi Industri (MoM) Perancis di level 0% dari sebelumnya -2,1%; dan Trade Balance Inggris di level US$ -7,6 miliar dari sebelumnya US$ -10,2 miliar.
Bursa kawasan Amerika ditutup menguat kecuali Argentina dan Peru yang eforia pelaku pasar terhadap kemajuan yang akhirnya dapat tercapai pada KTT Uni Eropa. Indeks S&P ditopang penguatan sektor perbankan. Selain pengaruh sentimen positif dari Eropa, data ekonomi AS pun kian memberi harapan positif. Setelah rilis initial jobless claims turun menjadi 381.000 dari 404.000, data lainnya menunjukkan peningkatan pada tingkat kepercayaan konsumen AS. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Trade Balance AS di level US$ -43,5 miliar dari sebelumnya US$ 44,2 miliar; Michigan Consumer Sentiment Index AS di level 67,7 dari sebelumnya 64,1; dan Labor Productivity (QoQ) Kanada di level 0,4% dari sebelumnya -1%.
Pada perdagangan Senin (12/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.704-3.732 dan resistance 3.784-3.808. IHSG membentuk hammer . Posisi candle kembali menyentuh middle bollinger bands . MACD masih tertahan kenaikannya dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic reversal setelah gagal menembus area overbought. Meski secara indikator teknikal, IHSG masih berada di sekitar area overbought namun, dengan bertahannya sentimen positif diharapkan bisa membuat IHSG masuk dalam tren bullishnya yang sebelumnya selalu tertahan.
(qom/qom)











































