Indosurya: Laju Kenaikan IHSG Terhambat

Indosurya: Laju Kenaikan IHSG Terhambat

- detikFinance
Selasa, 20 Des 2011 07:55 WIB
Jakarta - IHSG menguat 1,93 poin (0,05%) di level 3.770,29. Total volume perdagangan BEI mencapai 4,61 triliun unit saham dengan nilai total Rp 2,89 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 134 saham turun, dan 98 saham stagnan. LQ-45 naik 0,26% ke level 665,03 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,53% ke level 525,29.

Indeks sektoral saham bergerak mix dengan penguatan yang diawali oleh indeks konsumer yang naik 1,94% ke level 1.298,10; indeks manufaktur naik 1,33% ke level 974,33; indeks aneka industri naik 1,14% ke level 1.281,81; indeks industri dasar naik 0,60% ke level 400,02; dan indeks keuangan naik 0,08% ke level 493,84. Sementara pelemahan pada indeks pertambangan yang turun 1,10% ke level 2.493,43; indeks properti naik 0,91% ke level 226,88; indeks perdagangan naik 0,86% ke level 565,85; indeks perkebunan naik 0,83% ke level 2.097,30; dan indeks infrastruktur turun 0,69% ke level 684,60. Indeks MBX dan ISSI menguat. Sementara DBX melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 262,15 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,38 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,11 triliun.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Astra International (ASII) naik Rp 1.000 ke Rp 72.150; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 1.000 ke Rp 18.300; Semen Gresik (SMGR) naik Rp 500 ke Rp 10.850; Gudang Garam (GGRM) naik Rp 500 ke Rp 62.200; Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 350 ke Rp 9.600; Fajar Surya Wisesa (FASW) naik Rp 200 ke Rp 4.100; Resources Alam Indonesia (KKGI) naik Rp 200 ke level Rp 6.500; Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 100 ke Rp 3.800; dan Solusi Tunas Pratama (SUPR) naik Rp 100 ke level Rp 3.875.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

IHSG akhirnya bisa di tutup di zona hijau pada perdagangan kemarin di tengah-tengah kondisi mayoritas bursa saham regional yang melemah. Pelemahan ini tentu saja merespon negatif penutupan bursa saham AS yang bergerak mix dimana DJIA memerah dan penutupan mayoritas bursa saham Eropa yang melemah karena ancaman penurunan peringkat. Apalagi kemarin, bursa saham Asia secara tidak langsung melemah karena tertekan berita kematian PM KorUt Kim Jong-il. Di sisis lain, Fitch Ratings tidak hanya menaikkan peringkat negara namun, juga telah menaikkan Rating Jangka Panjang default Emiten (IDRs) 8 bank Indonesia, yaitu BMRI, BBCA, BBRI, BBNI, Indoexim, NISP, BNII, dan BNGA dengan outlook IDRs adalah stabil. Tidak hanya perbankan, perusahaan lain yang juga dinaikkan peringkatnya yaitu, PT. Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), PGAS, TLKM, ISAT, dan PT Telkomsel. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.773,80 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.753,28 (level terendahnya) di pertengahan sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.770,29. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .

Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.088/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.035/US$ yang disebabkan respon negatif investor terhadap makin memburuknya krisis utang zona euro. Apalagi Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Perancis menjadi negatif untuk jangka panjang pada akhir pekan lalu. Bersamaan dengan itu, Moody's juga menurunkan peringkat kredit negara Belgia dari AA1 menjadi AA3. Investor menilai, pemangkasan peringkat itu semakin memperjelas akan adanya ancaman pemangkasan peringkat kredit lainnya pada negara-negara Uni Eropa. Pada kesempatan lainnya, S&P sudah mengutarakan perkiraan pemangkasan peringkat kredit pada negara-negara zona euro pada pertemuan Eropa pekan lalu. Di sisi lain, pasar valas juga terkena sentimen negatif dari kematian Pemimpin KorUt, Kim Jong-il, karena khawatir terhadap siapa yang akan memegang kendali program nuklir negara tersebut. Tetapi, pelemahan Rupiah bisa tertahan setelah intervensi BI dan adanya sentimen positif dari Fitch Ratings yang menaikkan peringkat kredit Indonesia ke level investment grade dan peringkat sejumlah perusahaan termasuk perbankan.

Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali Pakistan, Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Pergerakan ini dipicu respon negatif investor terhadap apa yang terjadi di Uni Eropa setelah lembaga pemeringkat berencana menurunkan peringkat sejumlah negara di Uni Eropa. Apalagi Perancis baru saja diturunkan outlooknya menjadi negatif oleh Fitch dan juga menempatkan Spanyol, Italia, Belgia, Slovenia, Irlandia, dan Cyprus dengan review Rating Watch Negative . Bersamaan dengan itu, beredarnya kematian pemimpin KorUt turut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas regional karena belum adanya kepastian akan transisi kepemimpinan di KorUt. Bursa saham China dan Hong Kong melemah yang dipicu penurunan pada saham properti dan saham keuangan disusul data penjualan rumah November dengan harga yang melambung seiring masih tingginya inflasi. Dari Asia Pasifik data yang dirilis, antara lain consumer sentiment New Zealand di level 101,3 dari sebelumnya 112 dan Business Confidence di level 16,9 dari sebelumnya 18,3.

Bursa saham Eropa ditutup negatif kecuali Perancis, Spanyol, Swiss, dan Portugal yang dipicu kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi global yang semakin meningkat. Hal itu ditambah dengan ancaman penurunan peringkat negara-negara Uni Eropa oleh lembaga pemeringkat dan pernyataan bahwa tidak ada solusi yang kuat dalam mengatasi krisis Uni Eropa. Bursa saham Eropa pun merespon negatif perdagangan bursa saham Asia yang melemah setelah adanya kabar kematian pemimpin KorUt, Kim Jung Il. Secara tidak langsung, berita kematian tersebut akan mendorong US$ lebih tinggi sehingga akan menaikkan minyak dunia di Asia dan menjadi mahal. Penurunan juga dipicu sikap Presiden ECB, Mario Dragi, yang kembali mengingatkan potensi krisis di Uni Eropa dan adanya larangan bagi dirinya secara hukum untuk membeli obligasi Pemerintah negara-negara Eropa dan kabar gagalnya para MenKeu Eropa untuk menyepakati peningkatan plafon dana bersama untuk mengatasi krisis. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Trade Balance Italia di level US$ -1,08 miliar dari sebelumnya US$ -1,88 miliar dan Industrial New Orders (YoY) Spanyol di level 0,9% dari sebelumnya 5,4%.

Bursa kawasan Amerika ditutup melemah kecuali Chile dan Venezuela. Pergerakan ini dipicu penurunan saham-saham keuangan seperti Bank of America Corp, Morgan Stanley, dan JPMorgan Chase & Co. Serta beberapa emiten lain seperti Alcoa Inc, Hewlett Packard Co, dan Microsoft Corp. Investor kembali cemas bahwa
pimpinan Eropa akan gagal dalam menemukan jalan keluar terkait krisis utang yang dihadapi. Meski di akhir pekan kemarin, Kongres AS telah menyetujui penghematan anggaran belanja hingga US$1 triliun untuk mencegah shutdown di AS namun, hal itu belum cukup untuk menenangkan kecemasan investor terhadap apa yang terjadi di Uni Eropa. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Housing Market Index di level 21 dari sebelumnya 19 dan Wholesale Sales (MoM) di level 0,9% dari sebelumnya 0,5%.

Pada perdagangan Senin (19/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.745-3.757 dan resistance 3.778-3.786. IHSG membentuk hammer dimana sebelumnya membentuk big positive candle . Posisi candle sedikit di atas middle bollinger bands. MACD mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic sedikit tertahan menuju area overbought. Situasi bursa saham global yang belum kondusif bisa bisa saja menahan laju kenaikan IHSG. Jikapun terjadi kenaikan maka tidak terlalu signifikan karena investor mungkin masih ragu terhadap kondisi bursa saham yang belum pasti.

(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads