Indeks sektoral saham bergerak turun dengan pelemahan yang diawali oleh indeks perdagangan yang turun 1,38% ke level 558,04; indeks petambangan turun 1% ke level 2.468,50; indeks industri dasar turun 0,95% ke level 396,21; indeks manufaktur turun 0,71% ke level 967,43; indeks konsumer turun 0,69% ke level 1.289,20; indeks aneka industri turun 0,55% ke level 1.274,72; indeks properti turun 0,51% ke level 225,72; dan indeks infrastruktur turun 0,18% ke level 683,36.
Sementara penguatan pada indeks keuangan naik 0,23% ke level 494,95; dan indeks perkebunan naik 0,05% ke level 2.098,25. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 102,05 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,46 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,36 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IHSG tidak mampu bertahan di zona positif pada perdagangan kemarin dan terperosok ke area negatif di tengah-tengah penguatan yang terjadi di bursa saham regional. Padahal di awal sesi sempat menguat mengikuti reboundnya mayoritas bursa saham Asia pasca wafatnya PM KorUt. Investor merasa risiko krisis Eropa masih tinggi sehingga memberi sentimen negatif. Apalagi beredar kabar bahwa investor global mulai meningkatkan saldo cash ke level tertinggi dalam setahun karena akan menghadapi ketidakpastian cash 2012 dengan kekhawatiran pertumbuhan atas krisis utang zona euro semakin membuat pelaku pasar memilih untuk mengamankan posisi. Di sisi lain, berita pengesahan UU pengadaaan lahan oleh DPR tampaknya sudah diapresiasikan sebelumnya dengan penguatan saham-saham di sektor konstruksi. Selama perdagangan, IHSG sempat menembus level 3.789,88 (level tertingginya) di pertengahan sesi 1 dan juga sempat menyentuh level 3.745,05 (level terendahnya) di awal sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 3.752,34. Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat naik. Investor asing mencatatkan nett buy dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell .
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.115/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.088/US$ yang disebabkan kecemasan pasar terhadap krisis utang di Erpoa. Investor menilai, hasil pertemuan zona euro tidak begitu menggembirakan. Sebelumnya dikabarkan, zona euro akan meminjamkan kepada IMF sebesar β¬200 miliar namun, masih belum jelas apakah target itu akan tercapai yang berasal dari semua negara Uni Eropa. Apalagi Inggris kembali menolak untuk memberikan kontribusi terhadap dana pinjaman tersebut untuk membantu memerangi krisis utang kawasan itu. Di sisi lain, Presiden ECB, Mario Draghi, memberikan outlook ekonomi Eropa yang suram. Ia juga memperingatkan agar Eropa menjalankan rencana yang telah diungkapkan ke publik sebelumnya termasuk pengaktifan kembali European Financial Stability Facility (EFSF) dan legislasi pakta fiskal. Selain itu, depresiasi Rupiah juga diperparah oleh meningkatnya permintaan US$ menjelang tutup tahun 2011 yang secara historis terjadi repatriasi dana akhir tahun untuk perusahaan-perusahaan multi-nasional. Akan tetapi, pelemahan Rupiah bisa tertahan karena apresiasi Euro seiring penurunan yield obligasi Italia dan Spanyol. Di lain tempat, Bank Sentral Swedia telah memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps dari 2% ke level 1,75% sehingga diharapkan dapat menggairahkan ekonomi Swedia dan turut membantu ekonomi Eropa. Pada akhirnya, dapat membuat Euro menguat terhadap US$.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali China, Sri Lanka, India, dan Thailand. Pergerakan ini dipicu kembalinya sikap investor untuk memburu saham-saham yang telah mengalami pelemahan pada perdagangan sebelumnya pasca wafatnya PM KorUt. Sebelumnya dikhawatirkan kematian Kim Jong-il dan risiko ketidakstabilan di KorUt mungkin membebani kepercayaan bisnis dan konsumen di KorSel seiring peringatan bank sentral terkait ancaman terhadap pertumbuhan dan ekspor yang mulai goyah. Akan tetapi, akhirnya mayoritas bursa saham Asia bisa berada di zona positif. Indeks KOSPI dan mata uang Won rebound setelah aksi jual pada sesi sebelumnya yang dipicu oleh kematian mendadak pemimpin Korea Utara dengan penguatan pada saham jasa migas. Saham-saham industri pertahanan juga melanjutkan reli. Indeks Nikkei naik seiring kenaikan saham-saham teknologi dan pertahanan. Indeks saham utama China masih melemah karena para investor tetap berhati-hati setelah indeks berulang kali merosot ke posisi terendah dalam 33 bulan terakhir. Di pihak lain, di tengah perlambatan ekonomi, Jepang melakukan perundingan dengan China mengenai rencana pembelian obligasi milik Beijing dengan tujuan melakukan diversifikasi kepemilikan valuta asing. Dari Asia Pasifik data yang dirilis, antara lain CB Leading Index (MoM) di level 0,6% dan All Industry Activity Index (MoM) di level 0,8% dari sebelumnya -0,7%.
Bursa saham Eropa ditutup positif kecuali Iceland yang dipicu respon positif investor terhadap data-data ekonomi yang keluar dimana menunjukkan hasil yang positif. Di awal perdagangan, sempat melemah setelah Presiden ECB memupus harapan untuk membeli obligasi secara agresif. Apalagi ditambah sikap para pemimpin politik yang menangguhkan langkah penghematan anggaran untuk mendukung pemulihan Eropa. Saham-saham keuangan seperti UBS dan Societe General sempat melemah di awal sesi. Tetapi, pasar berbalik arah setelah rilis data-data ekonomi dan hasil lelang obligasi Spanyol yang oversubscribe di luar perkiraan. Data ekonomi yang dirilis diantaranya PPI (MoM) Jerman di level 0,1% dari sebelumnya 0,2%; Gfk Consumer Climate Jerman di level 5,60; Ifo Business Climate Index di level 107,2 dari sebelumnya 106,6; Current assesment Jerman di level 116,7; dan Business Expectations Jerman di level 98,4 dari sebelumnya 97,3.
Bursa kawasan Amerika ditutup menguat kecuali Venezuela. Pergerakan ini dipicu respon positif investor terhadap reboundnya pasar saham Asia dan Eropa seiring menguatnya data-data ekonomi Jerman. Di sisi lain, data-data ekonomi di AS pun turut memberikan sentimen positif kepada investor. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Building permits di level 680 ribu dari sebelumnya 640 ribu dan Housing Start di level 690 ribu dari sebelumnya 630 ribu.
Pada perdagangan Rabu (20/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.718-3.735 dan resistance 3.779-3.808. IHSG membentuk spinning dimana sebelumnya membentuk hammer Posisi candle masih sedikit di atas middle bollinger bands. MACD masih bergerak datar dan mencoba membentuk golden cross dengan histogram negatif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic sedikit menjauhi area overbought. Situasi bursa saham global yang kembali menguat seharusnya bisa direspon positif oleh IHSG. Apalagi di tengah harapan akan terjadinya window dressing. Selain itu, diharapkan pula tidak terjadi profit taking secara masif ketika IHSG merespon positif kenaikan bursa saham global.
(qom/qom)











































