IHSG menguat 39,56 poin (1,05%) di level 3.808,77. Total volume perdagangan BEI mencapai 3,91 triliun unit saham dengan nilai total Rp 2,58 triliun. Sebanyak 176 saham naik, 53 saham turun, dan 96 saham stagnan. LQ-45 naik 1,12% ke level 671,11 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,94% ke level 534,17.
Indeks sektoral saham bergerak menguat dengan penguatan yang diawali oleh indeks infrastruktur naik 1,53% ke level 701,50; indeks perdagangan naik 1,29% ke level 576,32; indeks properti naik 1,28% ke level 229,26; indeks konsumer naik 1,20% ke level 1.304,26; indeks manufaktur naik 1,11% ke level 985,36; indeks aneka industri naik 1,11% ke level 1.314,03; indeks industri dasar naik 0,97% ke level 401,33; indeks pertambangan naik 0,85% ke level 2.514,86; indeks keuangan naik 0,83% ke level 491,64; dan indeks perkebunan naik 0,07% ke level 2.171,73. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 281,99 miliar dengan total
pembelian asing Rp 865,65 miliar dan total penjualan asing mencapai Rp 583,66 miliar.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.650 ke Rp 61.750; Astra International (ASII) naik Rp 750 ke Rp 74.000; Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 550 ke Rp 37.900; United Tractors (MYOR) naik Rp 550 ke Rp 25.800; Delta Djakarta (DLTA) naik Rp 500 ke Rp 111.500; Inovisi Infracom (INVS) naik Rp 500 ke Rp 5.950; Fajar Surya Wisesa (FASW) naik Rp 425 ke level Rp 4.600; Indomobil Sukses Internasional (IMAS) naik Rp 300 ke Rp 13.850; dan Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) naik Rp 300 ke level Rp 17.050.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.160/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.165/US$ yang disebabkan respon negatif investor terhadap kesulitan pendanaan di antara perbankan Eropa. Meski ECB pekan lalu sudah memberikan bantuan likuiditas, senilai β¬489 miliar kepada 523 perbankan namun, perbankan di Eropa enggan memberikan pinjaman antar bank. Dana pinjaman dari ECB, tidak digunakan perbankan Eropa untuk meredakan masalah likuiditas di pasar melainkan disimpan kembali di ECB. Hal ini terlihat dari nilai deposit di sisi neraca ECB bertambah hingga mencapai rekor tertingginya di angka β¬452 miliar sehingga jumlah neraca ECB pun melonjak hingga β¬2,73 triliun. Situasi tersebut menunjukkan, perbankan Eropa masih enggan memberikan pinjaman antar bank, satu sama lain. Investor pun menanggapi negatif dan mengalihkan risikonya pada aset-aset US$.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak mix dengan pelemahan pada Hong Kong, Sri Lanka, Thailand, dan India. Pergerakan ini dipicu sikap wait and see investor menjelang penjualan surat utang Italia. Penjualan β¬8,5 miliar obligasi Italia yang akan dilakukan dalam waktu dekat menjadi fokus pelaku pasar. Pelaku pasar juga ingin melihat hasil dari bantuan likuiditas yang dilakukan ECB kepada perbankan Eropa. Indeks Nikkei melemah di antara indeks lainnya yang menguat di bursa saham Jepang. KOSPI berhasil naik tipis di tengah masih khawatirnya kondisi Eropa dan penurunan penjualan ritel. Data manufaktur KorSel turun di bawah harapan. Bursa saham Aussie melemah menjelang penjualan obligasi Italia. Kekhawatiran akan dampak resesi Eropa di China, juga membebani pasar dan membuat saham-saham komoditas melemah. Bursa saham China berhasil naik dengan saham energi dan industri yang menguat. Dari Asia Pasifik data yang dirilis, antara lain Industrial Production (YoY) KorSel di level 5,6% dari sebelumnya 6,3%; Retail Sales (YoY) KorSel di level -0,6% dari sebelumnya 0,6%; dan Trade Balance Hong Kong di level US$ - 44,10 milyar dari sebelumnya US$ -23,1 milyar.
Bursa saham Eropa ditutup positif kecuali Iceland. Pergerakan ini dipicu harapan positif akan munculnya permintaan obligasi jangka panjang Italia dalam lelang obligasi setelah ECB memberikan likuiditasnya. Mekanisme pendanaan ECB bagi perbankan untuk 3 tahun menjadi hal besar karena telah membawa stabilitas sistem dan pasar. Sebelumnya, pada lelang obligasi terbaru Italia minggu lalu, yield obligasi pemerintah untuk jangka pendek turun signifikan dari 6,5% menjadi 3,2%. Lelang obligasi ini juga diikuti tambahan pinjaman 3 tahun dari ECB sebesar β¬489 miliar. Kali ini, lelang kembali berhasil karena diikuti oleh sosialisasi penghematan keuangan negara dan reformasi finansial ke depannya oleh PM Italia, Mario Monti. Yield obligasi Italia berjangka waktu 10 tahun turun di bawah 7% dalam lelang semalam dimana terjual lebih dari β¬7 miliar (US$9 miliar). Data ekonomi yang dirilis diantaranya Retail Sales (YoY) Spanyol di level - 7,2% dari sebelumnya -6,9%; Private Loans (YoY) Eropa di level 1,7% dari sebelumnya 2,7%; Business Confidence Italia di level 92,5 dari sebelumnya 94,4.
Bursa kawasan Amerika ditutup menguat kecuali Venezuela dan Kolumbia. Pergerakan ini dipicu rilis data Pending Home Sales yang mengalami kenaikan dari perkiraan. Selain itu, pelaku pasar juga merespon positif hasil lelang obligasi Italia yang memberikan yield obligasi jangka pendek 3,2%, turun signifikan dari posisi 6,5% meskipun target maksimum belum tercapai. Di sisi lain, rencananya Pemerintahan Obama akan meminta Kongres AS untuk menambah otoritas pinjaman pemerintah federal sebesar US$ 1,2 triliun hari ini. Data ekonomi yang dirilis antara lain, Pending Home Sales (MoM) di level 7,3% dari sebelumnya 10,4%; Consumer Confidence di level -47,5 dari sebelumnya -45; Chicago PMI di level 62,5; dan Initial Jobless Claims di level 381 ribu dari sebelumnya 366 ribu.
Pada perdagangan Jumat (30/12) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.709-3.758 dan resistance 3.835-3.862. IHSG membentuk candle positif meski masih dalam pergerakan sideways . Posisi candle sedikit di atas middle bollinger bands. MACD masih bergerak datar dengan histogram positif yang sedikit memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic sedikit berbalik arah menuju area overbought. Pergerakan bursa saham global yang positif karena merespon data-data ekonomi diharapkan mampu mengangkat IHSG di hari terakhir perdagangan di tahun ini. Selain itu, tentunya banyak pihak yang masih mengharapkan adanya window dressing untuk meningkatkan nilai portofolionya.
(qom/qom)











































