Indeks sektoral saham bergerak menguat dengan penguatan yang diawali oleh indeks industri dasar naik 1,73% ke level 408,27; indeks perdagangan naik 1,02% ke level 582,19; indeks konsumer naik 0,90% ke level 1.315,96; indeks manufaktur naik 0,72% ke level 992,47; indeks pertambangan naik 0,70% ke level 2.532,38; dan indeks keuangan naik 0,03% ke level 491,78. Sementara pelemahan terjadi pada indeks perkebunan yang turun 1,18% ke level 2.146,04; indeks infrastruktur turun 0,29% ke level 699,45; indeks aneka industri turun 0,22% ke level 1.311,15; dan indeks properti naik 0,004% ke level 229,25. Indeks MBX, DBX, dan ISSI menguat. IHSG mengalami net foreign buy sebesar Rp 417,54 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,35 miliar dan total penjualan asing mencapai Rp 927,80 miliar.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) naik Rp 1.500 ke Rp 12.700; Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 750 ke Rp 38.650; United Tractors (UNTR) naik Rp 550 ke Rp 26.350; Multibreeder Adirama Indonesia (MBAI) naik Rp 500 ke Rp 13.500; Nipress (NIPS) naik Rp 475 ke Rp 4.000; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 450 ke Rp 11.450; Semen Gresik (SMGR) naik Rp 450 ke level Rp 11.450; Mayora Indah (MYOR) naik Rp 400 ke Rp 14.250; dan Chandra Asri Petrochemical (TPIA) naik Rp 400 ke level Rp 2.600.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.068/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.160/US$ yang disebabkan respon positif setelah pasar saham mencatatkan kenaikan di hari terakhir perdagangan. Akan tetapi, para investor masih dicemaskan oleh outlook Eropa di mana pada 2012 diperkirakan ada kesulitan pendanaan pada perbankan Eropa. Di sisi lain, seperti biasa banyak permintaan US$ menjelang tutup tahun. Apresiasi Rupiah juga dipicu oleh lelang obligasi Italia kemarin. Meski tidak sepenuhnya mencapai target maksimum namun, dinilai berjalan lancar dengan yield obligasi di bawah 7%. Lakunya obligasi ini dikarenakan respon positif investor terhadap langkah penghematan yang diajukan PM Italia, Mario Monti. Di sisi lain, data-data ekonomi AS juga menunjukkan angka positif. Diantaranya kenaikan Chicago PMI Manufacture dan pending home sales dibandingkan perkiraan. Chicago PMI naik menjadi 62,50 dari perkiraan 60,80. Sementara Pending Home Sales naik menjadi 7,30% dari perkiraan 1,5%. Sementara itu, angka klaim pengangguran meski naik menjadi 381 ribu dari perkiraan 370 ribu namun, masih dinilai rendah.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak menguat kecuali Taiwan, Aussie, Pakistan, dan Sri Lanka. Pergerakan ini dipicu respon positif investor seiring data positif dari AS yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap ekonomi global. Meski menguat namun, bila dihitung secara tahunan bursa saham Asia mengalami penurunan return selama 1 tahun ini. Hal ini disebabkan oleh adanya bencana alam yang pernah terjadi di Jepang dan imbas krisis utang yang mempengaruhi perekonomian, termasuk perdagangan negara-negara Asia sehingga membuat investor mengalihkan mereka ke aset yang lebih aman seperti US$. Misalkan, indeks Nikkei yang menguat pada perdagangan hari terakhir tahun ini namun, sebenarnya turun 17% sepanjang tahun ini setelah bencana tsunami dan gempa yang terjadi pada Maret lalu yang menghancurkan pembangkit listrik nuklir di Fukushima serta gejolak utang Eropa. Bursa saham Aussie termasuk yang melemah jelang penutupan akhir tahun yang disebabkan penurunan sektor material yang anjlok 25,5% sehubungan dengan harga komoditas yang merosot. Akan tetapi, sektor ritel pada bursa saham Aussie justru mengalami peningkatan tipis. Bursa saham Hong Kong dan Shanghai menguat didukung oleh saham-saham lapis pertama di tengah kekhawatiran akan kondisi aktivitas pabrik di China yang
terus menyusut. Sektor pabrik di China diperkirakan bisa turun lagi pada Desember karena melambatnya permintaan domestik dan luar negeri. Indeks PMI HSBC, yang dirancang untuk mengkaji kembali industri negara China sebelum data resmi diterbitkan, naik hingga 48,7 pada bulan Desember dari level 47,7 pada bulan November tapi masih di bawah level 49. Dari Asia Pasifik data yang dirilis, antara lain CPI (YoY) KorSel di level 4,2%; Manufacturing PMI Jepang di level 50,20 dari sebelumnya 49,10; dan Private Sector Credit (MoM) di level 0,3% dari sebelumnya 0,2%.
Bursa saham Eropa ditutup positif kecuali Iceland dan Polandia. Pergerakan ini dipicu respon positif investor terhadap data-data ekonomi AS sebelumnya sehingga mengurangi kekhawatiran krisis global. Penguatan ini melanjutkan respon positif terhadap hasil lelang obligasi jangka pendek dan jangka panjang Italia. Kenaikan bursa saham Eropa dipicu kenaikan pada saham-saham energi. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Nationwide HPI (MoM) Inggris di level -0,2% dari sebelumnya 0,4%; dan PPI (MoM) Italia. Bursa kawasan Amerika ditutup melemah kecuali Kanada, Argentina, Brazil, dan Chile. Pergerakan ini dipicu adanya isu mengenai krisis Eropa yang akan mendominasi dalam beberapa bulan mendatang. Beberapa utang negara Eropa kemungkinan akan ada yang jatuh tempo di tahun 2012. Jika kondisi itu bisa dilalui dengan baik dimana kemungkinan gagal bayar bisa teratasi maka investor akan lebih mendapat kepastian perbaikan ekonomi global. Investor juga masih mencermati perkembangan krisis utang zona Euro, kemelut di Timur Tengah, dan kemacetan politik AS, terutama menjelang pemilihan umum. Meski terdapat optimisme terhadap kondisi fundamental perusahaan namun, krisis politik di AS serta Eropa terlalu banyak mempengaruhi. Tidak ada data ekonomi yang dirilis.
Pada perdagangan Senin (2/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.796-3.810 dan resistance 3.830-3.840. IHSG membentuk candle spinning di posisi atas. Posisi candle sedikit menyentuh upper bollinger bands . MACD bergerak naik dengan histogram positif yang sedikit memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak naik di area overbought. Pergerakan bursa saham regional dan Eropa di akhir tahun mampu memberikan imbas positif bagi penguatan IHSG namun, bursa saham AS malah melemah. Hal ini bisa menghambat kenaikan IHSG lebih lanjut. Waspadai akan adanya aksi profit taking sementara.
Selengkapnya, download berikut ini:
(qom/qom)











































