Indeks sektoral saham bergerak negatif dengan pelemahan pada indeks konsumer yang turun 2,28% ke level 1.324,39; indeks infrastruktur turun 1,44% ke level 696,48; indeks industri dasar turun 1,40% ke level 414,61; indeks manufaktur turun 1,38% ke level 1.014,28; indeks perdagangan turun 0,83% ke level 589,69; indeks pertambangan turun 0,71% ke level 2.582,49; indeks keuangan turun 0,67% ke level 492,98; indeks aneka industri turun 0,34% ke level 1.370,16; indeks perkebunan
turun 0,06% ke level 2.163,79. Sementara penguatan pada indeks properti yang naik 0,54% ke level 235,90. Indeks MBX, DBX, dan ISSI melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 320,25 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,08 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,40 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Surya Citra Media (SCMA) naik Rp 400 ke Rp 8.500; Fast Food Indonesia (FAST) naik Rp 300 ke Rp 10.500; Century Textile Industry (CNTX) naik Rp 250 ke Rp 7.400; Sorini Agro Asia Corporindo (SOBI) naik Rp 200 ke Rp 2.275; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 150 ke Rp 21.750; Bank Capital Indonesia (BCAP) naik Rp 130 ke Rp 690; Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik Rp 100 ke Rp 12.000; Metro Realty (MTSM) naik Rp 100 ke level Rp 610; dan Lautan Luas (LTLS) naik Rp 90 ke Rp 910.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.160/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.163/US$. Penguatan ini dipicu intervensi dari BI. Di sisi lain, apresiasi Rupiah juga dipicu profit taking US$ oleh pasar yang mengantisipasi positif rilis data non-farm payrolls AS. Sementara itu, perkembangan terakhir dari Eropa tidak begitu positif bagi market. Apalagi, setelah hasil lelang obligasi Perancis menunjukkan adanya kenaikan biaya pinjaman yang nantinya akan mencemaskan pasar tentang kemampuan pendanaan utang pemerintah di kawasan Uni Eropa. Yield obligasi Perancis naik dari 3,18% menjadi 3,29% untuk tenor 10 tahun. Begitu pun dengan yield obligasi tenor 30 tahun yang naik dari 3,94% menjadi 3,97%. Selain itu, penguatan Rupiah juga dikarenakan pasar mengantisipasi positif rencana pertemuan German, Perancis dan Italia pada awal pekan depan yang kemungkinan akan membahas perkembangan terakhir di zona Euro dan kemajuan dari reformasi fiskal Italia yang nantinya akan dinilai apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan Jerman dan Perancis.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak negatif kecuali China, Singapura, dan Laos. Pergerakan ini dipicu seiring dengan pelemahan Euro pada perdagangan akhir pekan kemarin. Meski demikian, rilis data ketenagakerjaan AS menunjukkan positif sekaligus juga menunjukan adanya pemulihan ekonomi di negara tersebut. Indeks saham Nikkei terperosok seiring dengan munculnya kekhawatiran para investor akan kondisi zona Euro dan melemahnya nilai tukar Euro. Bursa saham KorSel ditutup negatif setelah adanya kabar tentang downgrade dan insiden kritis di sebuah fasilitas nuklir KorUt. Akan tetapi, para pejabat mengatakan mereka tidak mengetahui adanya peristiwa tersebut. Bursa saham Hong Kong anjlok karena terseret pelemahan sektor keuangan dan properti seiring kekhawatiran akan krisis zona Euro. Bursa saham China menguat dipicu kenaikan saham-saham migas setelah Beijing melaporkan akan menaikkan pajak untuk produksi minyak mentah yang nantinya secara efektif akan memotong pembayaran pajak. Media resmi melaporkan bahwa Sentral Huijin China dan lembaga-lembaga utama pemerintah baru-baru ini membeli saham perbankan untuk menyelamatkan pasar saham yang melemah. Bursa saham Australia turun dipicu oleh sikap investor menjelang data pekerjaan AS dan penjualan obligasi Italia dan Spanyol pekan depan. Adapun sektor pertambangan dan perbankan mengalami pelemahan. Dari Asia Pasifik, tidak ada data yang dirilis.
Bursa saham Eropa ditutup negatif kecuali Inggris dan Portugal. Pergerakan ini dipengaruhi sikap investor yang cenderung berhati-hati jelang lelang obligasi Perancis. Padahal di awal perdagangan, bursa saham Eropa sempat menguat menjelang rilis data AS, non-farm payrolls . Saham bluechip pun memimpin kenaikan yang ditopang saham sektor perbankan. Pasar mengharapkan data AS tersebut mengalami kenaikan sehingga membuktikan adanya proses pemulihan ekonomi di AS. Pada tahun ini kemungkinan investor mengalami penurunan tingkat kepercayaan yang dikarenakan belum adanya solusi yang pasti dari Uni Eropa. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Retail Sales (MoM) Eropa di level -0,80% dari sebelumnya 0,10%; Unemployment Rate Eropa di level 10,30%; Business and Consumer Survey Eropa di level 93,30 dari sebelumnya 93,80; dan Factory Orders (MoM) Jerman di level -4,80% dari sebelumnya 5%.
Bursa kawasan Amerika ditutup negatif kecuali indeks Nasdaq, bursa saham Panama, Brazil, dan Argentina. Pergerakan dipicu munculnya kekhawatiran terhadap kawasan Uni Eropa, terutama kekhawatiran akan yield obligasi Italia dan Spanyol yang akan naik tajam serta potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Fokus para investor terpusat pada imbal hasil obligasi Italia yang pekan kemarin sempat melebihi 7%. Sementara untuk Spanyol juga naik tipis pada akhir pekan kemarin menjadi 5,76%. Selain itu, investor juga melihat perlambatan ekonomi masih akan menghantui AS. Hal ini mulai terlihat dari perusahaan Alcoa yang berencana memangkas tingkat produksinya sebanyak 12%. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Nonfarm Payrolls di level 200 ribu dari sebelumnya 100 ribu; Private Nonfarm Payrolls di level 212 ribu dari sebelumnya 140 ribu; dan Unemployment rate di level 8,5% dari sebelumnya 8,7%.
Pada perdagangan Senin (9/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.822-3.846 dan resistance 3.899-3.935. IHSG membentuk candle hanging man dimana sebelumnya membentuk doji . Posisi candle masih di sekitar upper bollinger bands. MACD mulai terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai berbalik arah dari atas area overbought. Secara teknikal, posisi IHSG sedang melakukan konsolidasi untuk mereposisi agar berada di bawah area overbought. Kondisi global yang mulai banyak sentimen negatif menjadi perhatian pelaku pasar. Waspadai koreksi lanjutan dari IHSG.
(qom/qom)











































