Indeks sektoral saham bergerak negatif dengan pelemahan pada indeks perdagangan yang turun 0,34% ke level 595,96; indeks pertambangan turun 0,20% ke level 2.637,30; indeks industri dasar turun 0,15% ke level 420,04; indeks konsumer turun 0,12% ke level 1.329,21; indeks manufaktur turun 0,12% ke level 1.012,68; indeks keuangan turun 0,12% ke level 500,08; dan indeks aneka industri turun 0,09% ke level 1.345,41. Sementara penguatan pada indeks perkebunan yang naik 1,54% ke level 2.196,99; indeks infrastruktur naik 0,52% ke level 710,83; dan indeks properti naik 0,13% ke level 238,34. Indeks MBX dan ISSI menguat namun, DBX melemah. IHSG mengalami net foreign sell sebesar Rp 35,58 miliar dengan total pembelian asing Rp 1,71 triliun dan total penjualan asing mencapai Rp 1,74 triliun.
Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Delta Djakarta (DLTA) naik Rp 1.500 ke Rp 118.500; Mayora Indah (MYOR) naik Rp 700 ke Rp 14.700; Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 500 ke Rp 22.250; Unilever Indonesia (UNVR) naik Rp 400 ke Rp 19.700; H.M Sampoerna (HMSP) naik Rp 400 ke Rp 42.200; Indo-Rama Synthetics (INDR) naik Rp 335 ke Rp 2.275; Asuransi Ramayana (ASRM) naik Rp 300 ke Rp 1.500; Goodyear Indonesia (GDYR) naik Rp 200 ke level Rp 10.500; dan Myoh Technology (MYOH) naik Rp 200 ke Rp 1.900.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan nilai tukar Rupiah/US$ berdasarkan kurs BI di level Rp 9.210/US$ dari sebelumnya di level Rp 9.200/US$. Pelemahan ini dipicu beredarnya rumor akan pemangkasan BI rate oleh BI. Tapi, pelemahan ini tertahan setelah secara resmi BI mengumumkan BI rate tetap di level 6%, sehingga Rupiah kembali menguat meskipun tidak terlalu signifikan. Dari eksternal, kemarin pelaku pasar masih menantikan lelang obligasi Spanyol dan Italia dan pengumuman suku bunga acuan ECB.
Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah kecuali KorSel, Sri Lanka, Malaysia, dan Filipina. Pergerakan ini dipicu sikap menahan diri investor dan munculnya kekhawatiran menjelang lelang obligasi Spanyol dan Italia. Pelaku pasar di bursa saham Asia tengah mencari sinyal dampak dari krisis Eropa dan data inflasi China. Akan tetapi, sepertinya tidak memberikan sentimen positif. Inflasi tahunan China turun menjadi 4,1% pada Desember 2011 (terendah dalam 15 bulan terakhir) sehingga membuka peluang akan adanya pergeseran dalam prioritas kebijakan untuk tidak menaikan harga dan fokus pada pertumbuhan ekonomi. Meski data inflasi China turun namun, bursa saham China, Taiwan, dan Hong Kong masih melemah karena adanya profit taking yang mendominasi. Indeks Nikkei pun juga melemah dengan adanya profit taking menjelang penyelesaian berjangka. Kospi menguat dipimpin oleh saham-saham sekuritas. Bursa saham Australia melemah karena penurunan pada saham-saham multifinance dan kekhawatiran akan kondisi krisis utang Eropa. Dari Asia Pasifik, data yang dirilis diantaranya Bank Lending (YoY) Jepang di level 0,4% dari sebelumnya 0,2%; CPI (YoY) China di level 4,1% dari sebelumnya 4,2%; dan Machine Tool Orders (YoY) Jepang di level 17,4% dari sebelumnya 15,8%.
Bursa saham Eropa ditutup variatif dengan pelemahan pada Inggris, Perancis, Irlandia, dan Belanda. Pergerakan ini dipicu respon positif investor terhadap keberhasilan lelang obligasi Italia dan Spanyol. Adapun ditargetkan lelang tersebut bernilai mencapai β¬3-4 miliar (US$ 3,8 - 5,08 miliar) untuk jangka waktu 3 tahun. Sedangkan Italia akan melelang untuk jangka waktu 12 bulan. Dari hasil lelang tersebut, Spanyol sukses melelang obligasi mencapai Β£10 miliar (US$12,7 miliar) untuk tenor 3 tahun dengan yield yang turun sekitar 1%. Italia juga berhasil melelang obligasi untuk jatuh tempo 12 bulan dengan yield 2,375% atau hampir setengah dari hasil lelang bulan lalu sebesar 6%. Di sisi lain, ECB mempertahankan suku bunga acuan di level 1%, sesuai dengan harapan pasar. Sementara Bank of England mempertahankan suku bunga rendah di 0,5% sejak Maret 2009 dan mempertahankan pelonggaran kuantitatif untuk membeli aset obligasi seniai Β£275 miliar dimana pada bulan Oktober telah mencapai Β£75 miliar. Data ekonomi yang dirilis diantaranya Industrial Production (MoM) Italia di level 0,3% dari sebelumnya -0,9%; Industrial
Production (MoM) Inggris di level -0,6% dari sebelumnya -1%; dan Industrial Production (MoM) di level -0,1% dari sebelumnya -0,3%; Manufacturing Production (MoM) Inggris di level -0,2% dari sebelumnya -0,9%.
Bursa kawasan Amerika ditutup positif kecuali Brazil dan Kolumbia. Pergerakan dipicu respon positif invetor akan keberhasilan lelang obligasi Spanyol dan Italia sehingga menepis kekhawatiran akan downgrade kedua negara bila lelang tersebut tidak berhasil. Investor juga merespon positif data-data ekonomi AS yang secara perlahan mulai menunjukkan adanya perbaikan. Apalagi juga ditunjang sentimen positif perkembangan dari laporan keuangan perusahaan di AS. Data ekonomi yang dirilis, yaitu Retail Sales (MoM) di level 0,1% dari sebelumnya 0,4%; dan Initial jobless claims di level 399 ribu dari sebelumnya 375 ribu.
Pada perdagangan Jumat (13/1) diperkirakan IHSG akan berada pada support 3.879-3.894 dan resistance 3.922-3.934. IHSG membentuk candle doji setelah sebelumnya membentuk candle spinning . Posisi candle telah berada di bawah upper bollinger bands. MACD masih terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang memendek. RSI, William's %R, dan Stochastic bergerak mendatar di sekitar area overbought. IHSG masih melakukan penyesuaian posisi agar dapat berada di bawah area overbought sehingga nantinya memiliki ruang untuk rebound. Tetapi, berita positif dari Eropa kembali muncul sehingga kembali membuka peluang bagi IHSG untuk rebound hari ini.
(qom/qom)











































